Keluarga Sakinah: Titik Temu antara Kesejahteraan Psikologis dan Ketaqwaan

Penulis: Sarah Raudhatul Jannah*

*Mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Keluarga merupakan unit sosial terkecil sekaligus ruang psikologis paling awal bagi manusia. Di dalam keluarga, seseorang pertama kali belajar mengenal kasih sayang, kepercayaan, dan nilai-nilai kehidupan. Konsep keluarga sakinah hadir sebagai gambaran ideal bagi rumah tangga yang tidak hanya harmonis secara lahiriah, tetapi juga secara batin. Dalam perspektif psikologi, keluarga sakinah berkaitan erat dengan kesejahteraan psikologis, sementara dalam nilai keagamaan, keluarga sakinah menjadi jalan untuk tumbuhnya ketaqwaan para anggota keluarga.

Keluarga sakinah terdiri dari kata “keluarga” dan “sakinah”. Keluarga sakinah dapat diartikan sebagai lingkungan yang memberikan rasa aman, penerimaan, dan dukungan emosional. Psikologi memandang bahwa kualitas relasi dalam keluarga berperan besar dalam membentuk kesehatan mental individu sepanjang rentang kehidupan. Goldenberg dan Goldenberg (2013) menegaskan bahwa keluarga adalah sebuah sistem emosional, di mana kesejahteraan satu anggota sangat bergantung pada dinamika relasi secara keseluruhan. Dalam konteks ini, keluarga sakinah dapat dipahami sebagai sistem yang berfungsi secara sehat, stabil, dan adaptif.

Konsep kesejahteraan psikologis dalam psikologi tidak hanya berkaitan dengan perasaan bahagia, tetapi juga dengan kemampuan individu menjalani hidup secara bermakna. Ryff (1989) menjelaskan bahwa kesejahteraan psikologis mencakup enam dimensi utama, antara lain penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, tujuan hidup, dan penguasaan lingkungan. Sementara itu, keluarga sakinah menyediakan kondisi yang mendukung seluruh dimensi tersebut.

Dalam keluarga yang tenang dan suportif, individu cenderung merasa diterima apa adanya. Penerimaan ini berkontribusi pada pembentukan konsep diri yang positif dan kestabilan emosi. Selain itu, hubungan yang hangat dan saling menghargai di dalam keluarga menjadi dasar terciptanya hubungan interpersonal yang sehat di luar rumah. Hal ini sejalan dengan pandangan Bowlby (1988) mengenai secure attachment, yaitu kelekatan emosional yang aman sebagai fondasi kesehatan mental sepanjang hidup.

Keluarga sakinah juga berperan sebagai pelindung psikologis terhadap stres. Lazarus dan Folkman (1984) menyebutkan bahwa dukungan sosial merupakan salah satu faktor terpenting pada proses coping stress dalam hidup. Ketika keluarga mampu menyediakan dukungan emosional, individu lebih mampu mengelola stres, kecemasan, dan konflik secara adaptif. Praktik keagamaan yang dijalani bersama, seperti berdoa, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan menanamkan nilai syukur, memberi makna pada setiap peran dalam keluarga.

Selain kesejahteraan psikologis, keluarga sakinah juga memiliki dimensi spiritual yang kuat. Ketaqwaan dalam keluarga tidak semata-mata diwujudkan melalui ritual ibadah, tetapi juga melalui sikap dan perilaku sehari-hari, seperti kesabaran, kejujuran, dan tanggung jawab. Quraish Shihab (2007) menekankan bahwa sakinah merupakan ketenangan yang bersumber dari kesadaran spiritual dan kedekatan dengan Tuhan, yang kemudian tercermin dalam hubungan antar manusia.

Dari perspektif psikologi, spiritualitas memiliki hubungan positif dengan kesejahteraan mental. Pargament (1997) menjelaskan bahwa nilai dan praktik keagamaan membantu individu memberi makna pada pengalaman hidup, termasuk pengalaman yang penuh tantangan. Dalam keluarga, nilai-nilai ketaqwaan berfungsi sebagai kerangka moral dan emosional yang membantu anggota keluarga mengendalikan diri serta bersikap lebih empatik.

Ketika ketaqwaan menjadi nilai yang diterapkan bersama-sama, keluarga memiliki pedoman yang jelas dalam menghadapi konflik. Nilai religius mendorong sikap saling memaafkan, menghindari kekerasan emosional, dan menempatkan masalah dalam perspektif yang lebih luas. Hal ini memperkuat ketahanan keluarga (family resilience) sebagaimana dikemukakan oleh Walsh (2016), bahwa sistem nilai bersama merupakan salah satu pilar utama keluarga yang tangguh.

Hubungan suami dan istri yang dilandasi kelekatan emosional dan kesadaran spiritual cenderung lebih stabil. Kelekatan yang aman memungkinkan pasangan saling terbuka, sementara ketaqwaan mendorong hadirnya sikap sabar, empati, dan pengendalian diri. Dalam keluarga semacam ini, konflik tidak dihindari, tetapi disikapi dengan cara yang lebih bijaksana. Nilai religius berperan sebagai kompas moral, sedangkan keterampilan psikologis membantu keluarga mengelola emosi secara sehat.

Bagi anak, keluarga sakinah menjadi fondasi penting bagi kesejahteraan dan perkembangan spiritual. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang hangat dan religius cenderung memiliki regulasi emosi yang lebih baik serta internalisasi nilai moral yang lebih kuat (Santrock, 2018). Keteladanan orang tua dalam menjalankan peran dan ibadah sehari-hari membentuk pemahaman bahwa ketaqwaan bukan paksaan, melainkan kebutuhan batin yang menenangkan.

Dengan demikian, keluarga sakinah dapat dipandang sebagai titik temu antara kesejahteraan psikologis dan ketaqwaan. Ketenangan batin yang lahir dari relasi keluarga yang sehat memperkuat kualitas spiritual individu, sementara ketaqwaan membantu menjaga keseimbangan emosi dan relasi dalam keluarga. Ketika keduanya berjalan beriringan, keluarga tidak hanya menjadi tempat bernaung, tetapi juga ruang bertumbuh menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Tinggalkan Komentar