Mashdar Ta’kid, Mashdar Marrah dan Mashdar Nau’

1. Mashdar at-Ta’kid (مصدر التأكيد)

Mashdar Ta’kid/Mu’akkid adalah mashdar yang disebutkan setelah fi’il (kata kerja) untuk menegaskan maknanya. Bentuknya tetap seperti aslinya, contoh:

عَلِمْتُ الأَمْرَ عِلْمًا (Aku benar-benar mengetahui perkara itu).

ضَرَبْتُ اللّصَّ ضَرْبًا (Aku benar-benar memukul pencuri itu).

جُلْتُ جَوَلَانًا (Aku benar-benar berkeliling).

أَكْرَمْتُ المُجْتَهِدَ إِكْرَامًا (Aku benar-benar memuliakan orang yang rajin itu).

Tujuannya adalah untuk menegaskan terjadinya perbuatan.

2. Mashdar al-Marrah (مصدر المرّة)

Mashdar al-marrah (juga disebut mashdar al-‘adad) digunakan untuk menunjukkan jumlah berapa kali perbuatan.

  • Untuk fi’il tiga huruf asli (tsulatsi mujarrad):

Dibentuk dengan pola “fa‘lah” (فَعْلَة), contoh:

وَقَفْتُ وَقْفَةً (Aku berhenti sekali).

وَقَفْتُ وَقْفَتَيْنِ (Aku berhenti dua kali).

وَقَفْتُ وَقَفَاتٍ (Aku berhenti beberapa kali).

  • Untuk kata kerja lebih dari tiga huruf:

Ditambahkan “tā’ marbuthah” (ـة) pada mashdarnya, contoh:

أَكْرَمْتُهُ إِكْرَامَةً (Aku memuliakannya sekali).

فَرَّحْتُهُ تَفْرِيحَةً (Aku menyenangkannya sekali).

تَدَحْرَجَ تَدَحْرُجَةً (Ia menggelinding sekali).

Pengecualian:

Jika mashdar aslinya sudah berakhiran “tā’ marbuthah”, maka ditambahkan kata “wāhidah” (satu kali) untuk membedakan dari mashdar ta’kid, contoh:

رَحِمْتُهُ رَحْمَةً وَاحِدَةً (Aku mengasihinya sekali).

أَقَمْتُ إِقَامَةً وَاحِدَةً (Aku menetap sekali).

Jika fi’il memiliki dua mashdar (yang satu lebih umum):

Bentuk marrah mengikuti mashdar yang lebih umum, contoh:

زَلْزَلْتُهُ زَلْزَلَةً وَاحِدَةً (Aku menggoyangkannya sekali).

قَاتَلْتُهُ مُقَاتَلَةً وَاحِدَةً (Aku memeranginya sekali).

طَوَّفْتُهُ تَطْوِيْفًا وَاحِدَةً (Aku memutarkannya sekali)

Tidak boleh menggunakan bentuk yang tidak umum seperti “زِلْزَالَةً, قِتَالًا, تَطْوَافَةً”.

Fi’il tsulatsiy yang mashdarnya asli berakhiran “tā’ marbuthah” dikembalikan ke wazan “فَعْلَة”, contoh mashdar marrah dari “نَشْدَة”, “قُدْرَة”, “غَلَبَة”, “سَرَقَة”, dan “دِرَايَة” adalah:

نَشْدَةٌ (sekali mencari).

قُدْرَةٌ (sekali mampu).

غَلْبَةً (sekali dominasi).

سَرْقَةٌ (sekali mencuri).

دَرْيَةً (sekali tahu).

Beberapa kata tidak mengikuti wazan ini secara syadz, contoh:

أَتَيْتُهُ إِتْيَانَةً (Aku mendatanginya sekali).

لَقِيتُهُ لِقَاءَةً (Aku menemuinya sekali).

Yang mana keduanya berasal dari “الْإِتْيَان” dan “اللِّقَاء”. Namun, boleh juga menggunakan bentuk “أَتْيَة” dan “لَقْيَة” sesuai qiyas, seperti dalam syair Abu Thayyib:

لَقِيْتُ بِدَرْبِ الْفُلَّةِ الْفَجْرَ لَقْيَةً

شَفَتْ كَبَدِي, وَاللَّيْلُ فِيْهِ قَتِيْلُ

“Aku bertemu fajar di jalan dengan sekali pertemuan… yang menyembuhkan hatiku, sementara malam terbunuh.”

Adapun Fi’il selain tsulatsiy mujarrad tetap menggunakan mashdar asli, contoh:

دَحْرَجَةً (sekali menggelinding).

إِقَامَةً (sekali menetap).

Catatan:

Beberapa kata berbentuk “fa‘lah” bukan untuk mashdar marrah, contoh: رَحْمَةً (kasih sayang) adalah mashdar dari رَحِمَ, sebagaimana diucapkan: نَصَرْتُهُ نَصْرًا.

3. Mashdar an-Nau’ (مصدر النوع)

Mashdar an-nau’ (juga disebut mashdar al-hai’ah) adalah mashdar yang digunakan untuk menjelaskan jenis atau sifat suatu perbuatan. Contoh:

وَقَفْتُ وِقْفَةً (Aku berdiri dengan cara tertentu), artinya: berdiri yang memiliki sifat khusus.

Sifat tersebut bisa:

  • Disebutkan secara eksplisit, seperti:

فُلَانٌ حَسَنُ الوِقْفَةِ (Si fulan memiliki cara berdiri yang baik).

  • Dipahami dari konteks, sehingga tidak perlu disebutkan, seperti dalam syair:

هَا إِنَّ تَا عِذْرَةٌ, إِنْ لَمْ تَكُنْ نَفَعَتْ

فَإِنَّ صَاحِبَهَا قَدْ تَاهَ فِي الْبَلَدِ

“Ini adalah alasan yang kuat (عِذْرَةٌ), jika tidak bermanfaat (diterima), maka pembawanya akan tersesat di negeri.”

(Maksudnya: alasan yang sangat meyakinkan).

Wazan (Pola) Pembentukan Mashdar an-Nau’

  • Untuk kata kerja tiga huruf asli (tsulatsi mujarrad):

Dibentuk dengan pola “fi’lah” (فِعْلَةٌ dengan kasrah pada huruf pertama), contoh:

عَاشَ عِيشَةً حَسَنَةً (Ia hidup dengan kehidupan yang baik).

مَاتَ مِيتَةً سَيِّئَةً (Ia mati dengan kematian yang buruk).

فُلَانٌ حَسَنُ الجِلْسَةِ (Si fulan memiliki cara duduk yang baik).

فُلَانَةٌ هَادِئَةُ المِشْيَةِ (Si fulanah memiliki cara berjalan yang tenang).

  • Untuk fi’il yang lebih dari tiga huruf:

Mashdarnya dijadikan sebagai mashdar nau’ dengan menambahkan sifat, contoh:

أَكْرَمْتُهُ إِكْرَامًا عَظِيمًا (Aku memuliakannya dengan kemuliaan yang agung).

Syadz (Penyimpangan) dalam Wazan

Kadang, wazan “fi’lah” digunakan untuk fi’il selain yang tiga huruf, contoh:

فُلَانَةٌ حَسَنَةُ الخِمْرَةِ (Si fulanah baik dalam cara mengenakan kerudung).

فُلَانٌ حَسَنُ العِمَّةِ (Si fulan baik dalam cara mengenakan sorban).

(Kata “خِمْرَة” dan “عِمَّة” sebenarnya berasal dari “اخْتَمَرَ” dan “اعْتَمَّ”).

Catatan Penting tentang Mashdar

Mashdar asli (yang tidak menunjukkan nau’/jenis atau marrah/jumlah) tidak bisa:

Ditasrif (diubah ke bentuk tatsniyah/jamak).

Di-muannats-kan (tidak ada bentuk muannats).

Sehingga ia tetap dalam satu bentuk.

Contoh isim yang dishifati dengan mashdar:

رَجُلٌ عَدْلٌ (Seorang lelaki yang adil).

امْرَأَةٌ عَدْلٌ (Seorang wanita yang adil).

رِجَالٌ عَدْلٌ (Para lelaki yang adil).

نِسَاءٌ عَدْلٌ (Para wanita yang adil).

هَذَا أَمْرٌ حَقٌّ (Ini adalah perkara yang benar).

هَذِهِ مَسْأَلَةٌ حَقٌّ (Ini adalah masalah yang benar).

Ringkasan Perbedaan Jenis Mashdar

Jenis MashdarContohFungsi
Mashdar Ta’kidضَرْبًا، إِكْرَامًاMenegaskan tindakan.
Mashdar al-Marrahوَقْفَةً، إِكْرَامَةًMenunjukkan kali perbuatan.
Mashdar an-Nau’عِيشَةً، مِيتَةًMenjelaskan sifat/jenis perbuatan.

Semoga membantu! Jika ada yang perlu diperdalam, silakan ditanyakan.

Tinggalkan komentar