Pendahuluan
Surga adalah janji Allah yang abadi, tempat kembali bagi orang-orang yang bertakwa. Namun sering timbul pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya membawa kita ke surga? Apakah amal ibadah yang kita kumpulkan ataukah semata-mata rahmat Allah? Materi khutbah berikut mencoba merenungkan bersama hakikat ini melalui tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.
Berikut adalah Khutbah Jumat dengan Judul “Masuk Surga dengan Amal atau Rahmat Allah?”:
Khutbah Pertama
الحمد لله الذي وعد المتقين الجنة، وأعدّ للعاملين الرحمة والمغفرة. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. اللهم صلِّ على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد. أما بعد:
يَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Saudara-saudara kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya, mewujudkannya dalam keikhlasan dan kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi maksiyat kepada Allah.
Namun terkadang, ada pertanyaan mendasar yang sering menghantui pikiran dan hati kita sebagai muslim: Dengan apa kita masuk surga? Apakah dengan amal ibadah yang kita kumpulkan dengan susah payah, atau semata-mata karena rahmat Allah Ta’ala?
Pertanyaan ini bukan sekadar perdebatan teoritis belaka, melainkan memiliki dampak yang sangat dalam terhadap pemahaman kita tentang ibadah dan hubungan kita dengan Allah Ta’ala.
Saudara-saudara kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Kita sering mendengar sebagian orang berkata: “Amal ibadah yang kita lakukan itu tidak berguna, karena masuk surganya seorang hamba bukanlah dengan amal, melainkan semata-mata karena rahmat Allah.” Pernyataan ini mengandung kebenaran, namun jika dipahami secara keliru dapat berbahaya.
Bukan tanpa sebab, narasi ini dibangun dari sebua hadits shahih. Rasulullah ﷺ bersabada:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: “لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ”. قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: “وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ” (رواه البخاري ومسلم)
“Tidak akan masuk surga seorang pun di antara kalian karena amalnya.” Para sahabat bertanya: “Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak juga aku, kecuali jika Allah melimpahiku dengan rahmat-Nya.”
Saudara-saudara kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Di sisi lain, Al-Qur’an justru menggunakan metafora perdagangan untuk menggambarkan hubungan antara manusia dan Allah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ . تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ (الصف: 10-11)
“Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? Yaitu, kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ (التوبة: 111)
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ (فاطر: 29)
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi.”
Bahkan Allah menegaskan secara langsung hubungan antara amal dan balasan:
ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (النحل: 32)
“Masuklah kamu ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.”
Dan masih banyak ayat-ayat yang lain dengan makna semisal.
Saudara-saudaraku, sebenarnya tidak ada pertentangan di antara berbagai dalil ini, melainkan saling melengkapi dengan cara yang menakjubkan:
Hadits yang berbicara tentang masuk surganya seseorang bukan karena amal melainkan rahmat Allah menunjukkan arti hakikat yang gaib: bahwa surga terlalu agung untuk dibeli dengan amal perbuatan kita.
Hadits tersebut harus dipahami dengan cara yang tepat. Ini bukan pembatalan terhadap pentingnya amal, melainkan penegasan tentang betapa besarnya rahmat Allah dan beruntungnya hamba yang shaleh.
Sedangkan ayat-ayat berbicara tentang hubungan erat antara amal dan balasan adalah sebab-sebab syar’i: bahwa Allah menjadikan amal sebagai jalan untuk meraih rahmat-Nya.
Terlebih perumpamaan jual beli dan ibadah sangat memudahkan untuk memahami bahwa ada ikatan antara hamba dan tuhanNya diibaratkan seperti transaksi namun sakral. Dan Allah selalu menepati janjinya.
Saudara-saudara kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Dari pemahaman ini, kita menemukan hikmah.
Dan ketika kita mengingat bahwa secara hakikat rahmat Allah-lah satu-satunya alasan mengapa hamba masuk surga, kita tidak meninggalkan amal, justru semakin bersemangat karenanya, sambil takut mendurhakai Dzat Yang Maha Pengasih.
Ketika kita beramal untuk Allah guna menggapai ridlaNya , kita sadar bahwa amal kita tidak setara dengan kenikmatanNya, sehingga hilanglah rasa bangga diri terhadap amal yang sudah diperbuat, terjagalah keikhlasan di setiap jerih payah ibadah, dan besarlah rasa syukur kita pada balasan yang Allah berikan.
Semoga dengan seluruh kemampuan, kita semua bisa memberikan jiwa kita dan harta kita kepada Allah SWT.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. صلى الله عليه وسلم تسليماً كثيراً. أما بعد:
أيها الإخوة في الله:
إن الحقيقة التي يجب أن تستقرَّ في قلوبنا: أن الشريعة والحقيقة يمشِيان معاً. رحمة الله هي المفتاح والغاية، وأعمالنا إشارة إلى أن الله أرادنا من عباده المرحومين.
فحتى أعمالُنا -بكل ما نبذُل من جُهد- هي في الحقيقة مخلوقة لله، وبإرادته، وبقدرته. فليس لنا من الأمر شيء، ولا حول ولا قوة إلا بالله.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ. اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا حَتَّى نَنْتَصِرَ لِدِيْنِنَا. اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْحِكْمَةَ وَالْعَقْلَ الرَّاجِحَ فِيْ كُلِّ أَمْرِنَا
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر.ِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ