Di tengah dunia yang sering menjadikan harta, perhiasan, dan pakaian mewah sebagai ukuran kemuliaan, Rasulullah Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam justru mengajarkan makna kebebasan sejati: bebas dari belenggu kemewahan yang melalaikan. Dua hadits shahih berikut memberikan bukti nyata bagaimana beliau meninggalkan sesuatu yang indah dan bernilai tinggi demi menjaga kesempurnaan ibadah dan kesederhanaan hidup.
1. Hadits Cincin Emas
Teks Arab Hadits:
عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما «أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – اصْطَنَعَ خَاتَمًا من ذهب، فكان يجعل فَصَّهُ في باطن كَفِّهِ إذا لَبِسَهُ، فصنع الناس كذلك، ثم إنه جلس على المنبر فَنَزَعَهُ فقال: إني كنت أَلْبَسُ هذا الخَاتَمَ، وأجعل فَصَّهُ من داخل، فرمى به ثم قال: والله لا أَلْبَسُهُ أبدا فَنَبَذَ الناس خَواتِيمَهُمْ». وفي لفظ «جعله في يده اليمنى».
[صحيح] – [متفق عليه]
Terjemahan:
Dari Abdullah bin Umar radhiyallāhu ‘anhumā, bahwa Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam membuat sebuah cincin dari emas. Ketika memakainya, beliau meletakkan batu cincinnya di sebelah dalam telapak tangannya. Maka orang-orang pun melakukan hal yang sama. Kemudian, beliau naik ke atas mimbar, lalu melepas cincin tersebut dan bersabda: “Sesungguhnya aku biasa memakai cincin ini dan meletakkan batu cincinnya di sebelah dalam.” Lalu beliau membuangnya seraya bersabda: “Demi Allah, aku tidak akan pernah memakainya lagi.” Maka orang-orang pun membuang cincin-cincin mereka. Dalam satu lafal (riwayat lain disebutkan): “Beliau meletakkannya di tangan kanannya.”
(HR. Bukhari & Muslim)
2. Hadits Pakaian Khamīṣah (Bergaris/Bermotif)
Teks Arab Hadits:
عَنِ امِّ الْمُؤْمِنِيْنَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي خَمِيصَةٍ ذَاتِ أَعْلَامٍ، فَنَظَرَ إِلَى عَلَمِهَا، فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ قَالَ: «اذْهَبُوا بِهَذِهِ الْخَمِيصَةِ إِلَى أَبِي جَهْمِ بْنِ حُذَيْفَةَ، وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيِّهِ؛ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا فِي صَلَاتِي».
[صحيح] – [متفق عليه]
Terjemahan:
Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, ia berkata: “Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam melaksanakan shalat dengan memakai khamīṣah (pakaian bergaris) yang memiliki motif. Beliau melihat kepada motifnya. Ketika selesai shalat, beliau bersabda: ‘Pergilah dengan khamīṣah ini kepada Abu Jahm bin Hudzafah, dan bawakan kepadaku anbijāniyyah (pakaian tebal dari wol polos) miliknya, karena sesungguhnya pakaian ini tadi membuatku lalai dalam shalatku.'”
(HR. Bukhari & Muslim)
Analisis dan Hikmah dari Kedua Hadits
1. Cincin Emas: Kemewahan yang Dilepas dari Tangan Mulia
Rasulullah pernah membuat cincin dari emas. Para sahabat pun meniru beliau. Namun, suatu ketika beliau naik mimbar, melepas cincin itu, membuangnya, dan bersumpah tidak akan memakainya lagi. Tindakan tegas ini diikuti oleh para sahabat yang serentak membuang cincin-cincin emas mereka.
Pelajaran:
- Rasulullah tidak ingin emas menjadi perhiasan yang melekat pada dirinya.
- Meninggalkan kemewahan lebih utama daripada terlena olehnya.
- Seorang pemimpin harus menjadi teladan dalam kesederhanaan.
2. Khamīṣah: Meninggalkan Keindahan Demi Kekhusyukan
Suatu hari, Rasulullah shalat dengan memakai khamīṣah, yaitu pakaian sutra bercampur wol yang memiliki motif indah. Pandangan beliau tertuju pada motif tersebut hingga hampir melalaikan kekhusyukan shalat. Usai shalat, beliau segera memerintahkan untuk mengembalikan pakaian itu dan meminta gantinya berupa pakaian wol polos yang kasar.
Pelajaran:
- Kemewahan bisa menjadi penghalang konsentrasi dalam ibadah.
- Meninggalkan sesuatu yang indah namun melalaikan adalah bentuk keutamaan.
- Etika mulia: saat mengembalikan hadiah, Rasulullah meminta gantinya agar tidak menyakiti hati pemberi.
Kesimpulan
Rasulullah adalah manusia paling mulia dan paling berhak atas segala kenikmatan. Namun, beliau justru meninggalkan emas dan sutra karena cintanya kepada Allah melebihi segala keindahan duniawi.
Pesan untuk kita:
- Meninggalkan kemewahan bukan berarti miskin, tetapi pilihan sadar untuk menjaga ketundukan kepada Allah.
- Ibadah tidak boleh terganggu oleh gemerlapnya pakaian atau perhiasan.
- Kesederhanaan adalah mahkota kehormatan yang tidak dapat dibeli oleh emas sekalipun.
Semoga kita mampu meneladani Rasulullah dalam menjaga hati, meninggalkan segala yang melalaikan, dan menjadikan kesederhanaan sebagai jalan menuju cinta Allah. Āmīn.