Apa itu Mu’arrab? Berikut Contoh-contohnya

Pengertian Mu’arrab

Kata mu’arrab berasal dari bahasa Arab, yaitu bentuk pasif (isim maf’ul) dari kata ‘arraba (fiil madli) yang berarti “membuat sesuatu menjadi Arab” atau “mengarabkan”. Dalam konteks linguistik, mu’arrab merujuk pada kata-kata asing yang diserap ke dalam bahasa Arab dengan penyesuaian bunyi, bentuk, atau struktur agar sesuai dengan tata bahasa dan fonologi Arab. Proses ini dikenal sebagai arabisasi, yang banyak terjadi selama masa keemasan Islam, terutama pada era Dinasti Abbasiyah (abad 8-10 M), ketika budaya Arab bersentuhan dengan peradaban Persia, Yunani, India, dan lainnya.

Kata mu’arrab biasanya mengalami perubahan fonetik atau morfologi agar sesuai dengan pola bahasa Arab, seperti penambahan harakat, penyesuaian akhiran, atau pengubahan bunyi yang tidak ada dalam bahasa Arab. Proses ini memungkinkan bahasa Arab untuk memperkaya kosa katanya tanpa kehilangan karakteristik linguistiknya.

Sejarah dan Latar Belakang

Proses arabisasi kata-kata asing terjadi secara masif selama periode ekspansi Islam, terutama di pusat-pusat ilmu seperti Baghdad, Damaskus, dan Cordoba. Pada masa Dinasti Abbasiyah, banyak karya ilmiah dari Yunani, Persia, dan India diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kata-kata teknis dari bidang filsafat, kedokteran, astronomi, dan seni sering kali tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa Arab, sehingga kata-kata asing diadaptasi menjadi mu’arrab.

Interaksi budaya yang intens antara Arab dan bangsa lain, seperti Persia dan Bizantium, juga memengaruhi masuknya kata-kata mu’arrab. Misalnya, di bawah pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun, Bait al-Hikmah (House of Wisdom) di Baghdad menjadi pusat penerjemahan yang mempercepat proses arabisasi. Kata-kata dari bahasa Persia, Yunani, Sanskerta, dan Syriac diolah agar sesuai dengan lidah penutur Arab.

Contoh-contoh Kata Mu’arrab

Berikut adalah beberapa contoh kata mu’arrab yang umum digunakan dalam bahasa Arab, beserta asal-usulnya dan penyesuaian yang dilakukan:

  1. Ustadz (أُسْتَاذٌ)
    • Asal: Bahasa Persia, ustad, yang berarti “master” atau “guru”.
    • Penyesuaian: Kata ini diadaptasi dengan menambahkan harakat dan akhiran un untuk menyesuaikan dengan pola isim (kata benda) dalam bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, ustadz digunakan untuk merujuk pada guru, profesor, atau ahli di berbagai bidang.
    • Contoh Penggunaan: Di Mesir, seorang dosen universitas dipanggil “al-Ustadz Dr. Ahmad” sebagai tanda penghormatan.
  2. Falsafah (فَلْسَفَةٌ)
    • Asal: Bahasa Yunani, philosophia, yang berarti “cinta akan kebijaksanaan”.
    • Penyesuaian: Bunyi ph diubah menjadi f karena bahasa Arab tidak memiliki fonem ph. Kata ini juga disesuaikan dengan pola wazan Arab (fa‘lalah) untuk membentuk kata benda.
    • Contoh Penggunaan: Istilah ini digunakan untuk menyebut ilmu filsafat, seperti dalam karya Ibnu Rusyd (Averroes).
  3. Jund (جُنْدٌ)
    • Asal: Bahasa Persia, gund, yang berarti “pasukan” atau “tentara”.
    • Penyesuaian: Kata ini diadaptasi dengan mengubah bunyi g menjadi j karena fonem g tidak umum dalam bahasa Arab klasik. Akhiran un ditambahkan untuk membentuk isim jamak.
    • Contoh Penggunaan: Kata ini sering muncul dalam Al-Quran, seperti dalam Surah Al-Baqarah ayat 249, yang merujuk pada pasukan.
  4. Sijn (سِجْنٌ)
    • Asal: Bahasa Yunani, sigenon, yang berarti “penjara”.
    • Penyesuaian: Kata ini disederhanakan dengan menghilangkan beberapa huruf dan menyesuaikan bunyi agar sesuai dengan fonologi Arab.
    • Contoh Penggunaan: Kata sijn muncul dalam Al-Quran, misalnya dalam Surah Yusuf ayat 33, untuk menyebut penjara tempat Nabi Yusuf ditahan.
  5. Dinar (دِينَارٌ)
    • Asal: Bahasa Latin, denarius, yang merujuk pada koin emas Romawi.
    • Penyesuaian: Kata ini diadaptasi dengan mengubah bunyi e menjadi i dan menambahkan harakat untuk membentuk pola kata benda Arab.
    • Contoh Penggunaan: Dinar menjadi nama mata uang dalam sejarah Islam, seperti dinar emas pada masa Dinasti Umayyah.
  6. Namus (نَامُوسٌ)
    • Asal: Bahasa Yunani, nomos, yang berarti “hukum” atau “aturan”.
    • Penyesuaian: Bunyi o diubah menjadi u dan disesuaikan dengan wazan Arab untuk membentuk kata benda.
    • Contoh Penggunaan: Dalam tradisi Islam awal, namus kadang digunakan untuk merujuk pada hukum atau wahyu, meskipun kini jarang digunakan.

Proses Penyesuaian dalam Mu’arrab

Proses pembentukan kata mu’arrab biasanya melibatkan beberapa langkah berikut:

  1. Penyesuaian Fonetik: Bunyi asing yang tidak ada dalam bahasa Arab, seperti p atau g, diubah menjadi bunyi terdekat seperti b atau j. Misalnya, philosophia menjadi falsafah.
  2. Penyesuaian Morfologi: Kata disesuaikan dengan pola wazan Arab, seperti fa‘lah atau fi‘al, untuk membentuk kata benda, kata kerja, atau sifat.
  3. Penambahan Harakat: Harakat (tanda baca vokal) ditambahkan untuk memudahkan pengucapan oleh penutur Arab.
  4. Penyederhanaan: Kata-kata yang terlalu panjang atau rumit disederhanakan agar sesuai dengan struktur bahasa Arab.

Dampak Mu’arrab pada Bahasa Arab

Kata-kata mu’arrab telah memperkaya kosa kata bahasa Arab, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, administrasi, dan seni. Proses ini juga menunjukkan fleksibilitas bahasa Arab dalam menyerap unsur asing tanpa kehilangan identitasnya. Namun, ada pula kritik dari para puris bahasa Arab klasik, seperti Ibnu Taimiyah, yang berpendapat bahwa penggunaan kata mu’arrab berlebihan dapat mengurangi kemurnian bahasa Al-Quran.

Di era modern, kata mu’arrab terus bertambah dengan masuknya istilah-istilah baru dari bahasa Barat, seperti tilifun (telepon, dari bahasa Inggris telephone) dan internet (dari bahasa Inggris internet). Proses ini menunjukkan bahwa arabisasi tetap relevan dalam perkembangan bahasa Arab kontemporer.

Penutup

Kata mu’arrab adalah bukti dari kekayaan dan dinamisme bahasa Arab dalam berinteraksi dengan budaya lain. Dari ustadz hingga dinar, kata-kata ini tidak hanya memperluas kosa kata, tetapi juga mencerminkan sejarah peradaban Islam yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan budaya global. Dengan memahami asal-usul dan proses arabisasi, kita dapat lebih menghargai fleksibilitas bahasa Arab serta warisan intelektual yang dibawanya. Untuk menjaga kemurnian bahasa, penting bagi penutur Arab modern untuk menggunakan kata mu’arrab dengan bijak, sambil tetap menghormati akar bahasa Al-Quran.

Tinggalkan komentar