Cinta Ulama Tidak Sama dengan Fanatisme Buta

Dalam khazanah keislaman, mencintai ulama adalah bagian dari syariat. Ulama adalah pewaris Nabi, penerang di tengah gulita kebodohan, dan penjaga panji keilmuan Islam. Rasulullah SAW bersabda,

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Bukan dari golongan umatku, orang yang tidak menghormati yang tua di antara kami, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengakui hak orang yang berilmu (alim) di antara kami.” (HR. Ahmad, dengan predikat hasan).

Cinta dan hormat kepada ulama yang shaleh adalah manifestasi dari keimanan, sebuah penghargaan atas jerih payah mereka dalam menuntut dan menyebarkan ilmu. “Mengakui haknya” mencakup penghormatan, ketaatan dalam kebenaran, dan tentu saja, kecintaan yang tulus. Ini adalah prinsip yang mulia dan disepakati.

Namun, di tengah gelora cinta itu, patut kita renungkan: Sudahkah bentuk kecintaan kita sesuai dengan adab yang justru diajarkan oleh para ulama sendiri? Dalam praktiknya, gelora ‘cinta’ ini kerap terdegenerasi menjadi fenomena yang miris. Penghormatan yang seharusnya bersifat bathiniyah (subtansial) dan mendalam, perlahan bergeser menjadi pengkultusan yang dhahiriyah (simbolis) dan picisan. Fanatisme buta ini pada akhirnya memecah belah, menutup pintu kebenaran, dan—yang paling ironis—justru bertolak belakang dengan ajaran ulama yang dicintainya.

Lalu, di manakah batas antara ‘cinta yang benar’ dan ‘kultus yang berbahaya’? Persoalan klasik ini sesungguhnya telah dijawab dengan brillian oleh Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Melalui pisau bedah konsep Ulama Su’ (ulama jahat) dan Ulama Khair (ulama baik), Al-Ghazali memberikan panduan yang masih sangat relevan untuk mendiagnosis fenomena kekinian.

Tulisan ini mengajak kita merefleksikan kembali makna cinta yang hakiki. Dengan berpedoman pada Al-Qur’an, As-Sunnah, serta pemikiran Al-Ghazali, kita akan membedah bahaya laten fanatisme keji (at-ta’aṣṣub al-fāḥisy), untuk akhirnya menemukan cara mengalihkan ‘cinta’ dari yang sekadar simbolik menuju yang substantif.

ilustrasi ruang tamu berhiaskan foto ulama

Foto Kyai di Dinding: Antara Ta’dzim dan Taqlid Buta

Kita telah akrab dengan pemandangan ini: foto-foto ulama dan kyai—yang ‘alim sejati maupun hanya selebritas agama—menghiasi ruang tamu, dipajang megah di baliho acara, hingga ditempel pada kaca dan tubuh kendaraan. Fenomena ini telah menjadi begitu lumrah di era modern.

Pada titik tertentu, pemajangan ini bisa dimaknai sebagai bentuk ta’dzim (penghormatan) yang wajar. Namun, ketika simbol-simbol dhahiriyah ini menjadi fokus utama, ia berpotensi besar menjadi gerbang menuju taqlid buta. Wajah sang ulama hadir di mana-mana, tetapi apakah ajarannya yang penuh hikmah juga sama-sama menghunjam di hati? Atau jangan-jangan, yang tersisa hanyalah fanatisme kosong pada figur, sementara substansi ilmunya terabaikan?

Inilah titik awal dimana kita perlu mencermati: apakah praktik ini merupakan bentuk kecintaan yang diajarkan oleh Ulama Khair, atau justru tipu daya dari gaya Ulama Su’ yang gemar pada hal-hal yang bersifat lahiriah dan pencitraan?

Ulama Khair Vs Ulama’ Su’: Memetakan Dua Wajah Kepemimpinan Agama

Lalu, bagaimana membedakan keduanya? Imam Al-Ghazali, dengan visionernya, telah memetakan dua arsitek utama dalam panggung keberagamaan umat: Ulama Khair (ulama kebaikan) dan Ulama Su’ (ulama jahat).

Ulama Khair adalah penerang sejati. Orientasi hidupnya adalah akhirat. Dakwahnya berfokus pada amal bathiniyah—peyucian hati dari riya’, ujub, sombong, dan dengki. Tujuannya tunggal yakni mengantarkan umat kepada ridha Allah, bukan pujian manusia. Ia mendidik pengikutnya untuk kritis, tawadhu’, dan mencintai kebenaran, siapapun yang mengucapkannya.

Sebaliknya, Ulama Su’ adalah pedagang agama. Orientasinya adalah dunia: popularitas, pengaruh, dan harta. Mereka adalah ahli amal dhahiriyah (praktek simbolik). Kekuatan mereka terletak pada kemampuan menciptakan simbol-simbol dan ritual-ritual lahir yang terlihat oleh mata, karena dari situlah pengakuan dan loyalitas buta (fanatisme) dibangun. Mereka tidak ingin umatnya berpikir mendalam; mereka ingin umatnya patuh membabi-buta.

Menguliti Tipu Daya: Eksploitasi Keluguan Umat dengan Hadits-Hadits Dhaif

Salah satu senjata ampuh Ulama Su’ dalam merawat kefanatikan adalah dengan mengeksploitasi keluguan umat melalui narasi-narasi agama yang lemah, salah satunya adalah hadits-hadits dhaif (lemah) bahkan maudhu’ (palsu) yang sesuai dengan agenda duniawi mereka.

Semua ini bermula dari klaim-klaim mereka mengenai “memandang wajah ‘ulama adalah pahala”. Ini mendorong kepada kefanatikan figur ulama.

Mari kita kuliti satu contoh nyata yang sering dipakai untuk “membenarkan” pengkultusan figur:

أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ الْمُسْلِمِ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَحْمَدَ ، أَنْبَأَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ عَلِيٍّ ، حَدَّثَنَا أَبُو الْقَاسِمِ عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ رَجَاءٍ ، حَدَّثَنَا أَبُو نَصْرٍ قَيْسُ بْنُ بُسْرِ بْنِ السِّنْدِيِّ النَّصْرِيُّ بِجُبَيْلٍ ، حَدَّثَنَا عَلِيٍّ الْعَجَمِيُّ الأَحْوَلُ ، حَدَّثَنَا الدَّبَرِيُّ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ بْنُ هَمَّامٍ ، أَنْبَأَنَا مَعْمَرُ بْنُ رَاشِدٍ ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ نَظَرَ إِلَى وَجْهِ عَالِمٍ نَظْرَةً فَفَرِحَ بِهِ، خَلَقَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مِنْ تِلْكَ النَّظْرَةِ وَالْفَرَحِ مَلَكًا يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِصَاحِبِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang memandang wajah seorang alim dengan satu pandangan lalu ia bergembira karenanya, niscaya Allah menciptakan dari pandangan dan kegembiraan itu seorang malaikat yang memohonkan ampunan untuknya hingga hari Kiamat.”

Hadits yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq ini sanadnya sangat lemah (dhaif jiddan). Para ahli hadits menilai bahwa Al-‘Ajami, Qais bin Busr dan Ali bin Al-Hasan bin Raja dalam sanad tersebut adalah perawi yang majhul (tidak dikenal kredibilitasnya). Bahkan, perawi lain seperti Abdul Wahhab bin Ja’far dicatat memiliki sikap tasahul (sangat longgar/tidak punya kehati-hatian) dalam meriwayatkan hadits.

Dari sini, terlihat pola tipu daya Ulama Su’:

  1. Memanfaatkan Keinginan Umat akan “Jalan Pintas” ke Surga: ulama su’ memanfaatkan hadits dlaif seperti ini karena menawarkan pahala besar dengan usaha yang dianggap mudah yakni cukup “memandang” wajah ulama.
  2. Mengalihkan dari Amal Substansial ke Amal Simbolik: Alih-alih mendorong umat untuk mempelajari ilmu sang alim, ulama’ su’ mendorong umat untuk mengkultuskan wajahnya. Ini adalah pemindahan fokus dari bathiniyah (mengamalkan ilmu) ke dhahiriyah (memuja simbol).
  3. Merawat Polarisasi: Dengan narasi ini, sang ulama ditempatkan sebagai “pusat berkah” eksklusif. Pengikutnya akan merasa lebih istimewa dan benar, sementara yang tidak mengikutinya dianggap kehilangan kesempatan mendapat pahala. Ini adalah bibit polarisasi.

Dengan demikian, pemajangan foto ulama yang didasari oleh pemahaman keliru terhadap hadits-hadits semacam ini bukan lagi sekadar ekspresi cinta, tetapi telah menjadi bagian dari proyek dhahiriyah Ulama Su’ untuk membangun kerajaan fanatisme dan mengukuhkan pengaruhnya. Mereka merawat ketergantungan umat, bukan menciptakan kemandirian berfikir.

Peringatan Al-Qur’an: Dari Fanatisme Menuju Kesyirikan

Namun, akar persoalan ini sebenarnya jauh lebih dalam. Ia bukan sekadar soal salah menggunakan hadits, tetapi menyentuh bentuk kesyirikan yang diperingatkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alim mereka (ahbar/ulama yahudi) dan rahib-rahib mereka (pendeta nasrani) sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah: 31)

Rasulullah SAW telah menjelaskan hakikat “mempertuhankan” dalam ayat ini. Saat beliau ditanya oleh ‘Adiy bin Hatim, yang awalnya adalah seorang Nasrani, apakah maksud ayat ini, beliau menjawab: “Bukankah mereka (ahli kitab) itu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Tuhan mereka, dan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Tuhan mereka, lalu kalian ikut menghalalkan dan mengharamkannya?” ‘Adiy menjawab, “Betul.” Maka Rasulullah bersabda, “Itulah bentuk ibadah (penyembahan) mereka kepada para pendeta itu.” (HR. Tirmidzi, hasan).

Inilah esensi dari peringatan Allah yang sangat keras.

Mempertuhankan ulama (ittikhādzuhum arbabān) bukanlah dengan sujud menyembah mereka, tetapi dengan memberikan ketaatan buta yang melampaui batas. Ketika seorang ulama—atau siapapun—menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal dalam artian memberikan perintah kepada umat dengan perintah dan anjuran yang keluar dari koridor syariat berdasarkan hawa nafsu atau kepentingannya, lalu diikutilah perintah dan anjuran itu tanpa berpikir kritis, tanpa lagi merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah, maka saat itulah benih-benih “pemujaan” itu mulai tumbuh.

Mencintai Ulama yang Hakiki: Dari Simbolik Menuju Substansial

Lantas, setelah memahami bahaya fanatisme, bagaimana seharusnya kita mencintai ulama? Cinta yang hakiki harus diwujudkan dalam tindakan yang substantif, bukan sekadar simbolik.

Penting untuk ditegaskan bahwa tulisan ini bukanlah sikap anti-ulama atau melarang bentuk penghormatan yang wajar. Memasang foto seorang kyai sebagai kenang-kenangan atas jasa besar dan bimbingan langsungnya dalam proses pembangunan diri seseorang adalah hal yang manusiawi dan dapat dipahami. Ini mirip dengan memajang foto orang tua atau guru yang telah mengubah dan membimbing hidup kita. Konteks seperti ini adalah bentuk ta’dzim (penghormatan) dan syukur yang tulus, selama tidak disertai keyakinan-keyakinan yang berlebihan terhadap foto tersebut.

Namun, cinta yang sejati harus melampaui sebatas pigura di dinding. Berikut adalah langkah-langkah konkret untuk mengalihkan kecintaan kita dari yang dhahiriyah menuju bathiniyah:

  • Mengkaji Ilmunya, Bukan Mengkultuskan Figurnya. Bentuk cinta tertinggi adalah dengan serius mempelajari kitab-kitab dan pemikiran ulama tersebut. Satu halaman dari karyanya lebih berharga daripada seribu fotonya. Prioritaskan untuk memiliki, membaca, dan mengkaji karyanya, bukan hanya mengenang wajahnya.
  • Meneladani Akhlak dan Ketakwaannya. Cinta sejati terwujud dalam peniruan terhadap sifat-sifat mulia yang dimiliki sang ulama: kejujurannya, kesederhanaannya, ketawakalannya, dan semangatnya dalam menebar manfaat. Inilah amal bathiniyah yang sesungguhnya.
  • Bersikap Kritis dan Tidak Taqlid Buta. Seorang ulama sejati justru ingin pengikutnya berpikir, bukan hanya membebek. Mencintainya berarti memiliki keberanian untuk merujuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah ketika menemukan pendapatnya yang perlu dikritisi. Ketaatan buta justru adalah pengkhianatan terhadap tanggung jawab keilmuannya.
  • Mencintai Kebenaran, Siapapun Pembawanya. Kecintaan pada satu ulama tidak boleh menutup mata dan hati terhadap kebenaran yang datang dari ulama lainnya. Ulama khair akan mengajak kita untuk mencintai kebenaran, bukan sekadar membela kelompok.

Masa Depan Suram Umat Jika Fanatisme Terus Berlanjut

Jika budaya ta’assub dan pemujaan simbol ini terus dibiarkan, maka masa depan keilmuan dan kejayaan umat Islam menghadapi ancaman yang sangat nyata. Kita sudah mulai melihat tanda-tanda kekhawatirannya hari ini:

Krisis Ulama Pewaris Nabi yang Mendalam. Generasi muda banyak yang terpukau pada retorika dan popularitas, tetapi jarang yang mau mendalami ilmu-ilmu alat yang berat seperti ilmu hadits (musthalah hadits), tafsir, dan ushul fikih dengan serius. Akibatnya, banyak “santri” atau penuntut ilmu yang terpukau oleh bunyi teks hadits tanpa memiliki kemampuan untuk meneliti kualitas sanadnya. Mereka mudah menyebarkan dan membela sebuah dalil berdasarkan kekuatan emosi, bukan kesahihan ilmu.

Matinya Berpikir Kritis. Fanatisme membunuh nalar. Umat terjebak dalam echo chamber (ruang gema) dimana yang dicari adalah pembenaran, bukan kebenaran. Mereka hanya mendengarkan satu suara, dan menutup diri dari segala kritik dan dialektika keilmuan yang justru merupakan napas dari peradaban Islam klasik.

Umat yang Terfragmentasi dan Lemah. Polarisasi yang dipelihara oleh fanatisme akan melahirkan kelompok-kelompok kecil yang sibuk berkonflik internal, sementara tantangan zaman semakin kompleks. Energi habis untuk memperdebatkan siapa yang paling benar, alih-alih bersatu membangun solusi untuk kemaslahatan umat yang lebih luas.

Penutup: Kembali ke Khittah

Oleh karena itu, refleksi ini adalah seruan untuk kembali ke khittah (garis asal) mencintai ulama. Marilah kita pindahkan kecintaan itu dari dinding dan spanduk, ke dalam hati melalui pengamalan akhlaknya, dan ke dalam pikiran melalui penguasaan ilmunya.

Seorang ulama sejati akan lebih bangga jika ajarannya tentang keadilan, kejujuran, dan kasih sayang kita amalkan, daripada melihat fotonya dipajang tinggi-tinggi sementara akhlak kita jauh dari apa yang ia contohkan. Akhir kata, marilah kita mencintai ulama dengan cara yang membuat mereka bangga di hadapan Allah sebagai pewaris Nabi yang sukses melahirkan umat yang cerdas, kritis, dan berakhlak mulia, bukan umat yang fanatik, picik, dan mudah dipecah-belah.

Tinggalkan komentar