Hal-Hal yang Bisa Dilakukan oleh Seorang Muslim Ketika Pemerintah Menjadi Dzalim

Kehidupan bernegara adalah bagian tak terpisahkan dari realitas sosial umat Islam. Dalam konteks ini, Islam memberikan panduan tentang relasi antara pemerintah dan rakyat, termasuk sikap yang harus diambil ketika penguasa bertindak dzalim—melampaui batas, menindas, atau menyimpang dari prinsip keadilan. Situasi seperti ini menguji keimanan, keteguhan prinsip, dan kebijaksanaan seorang Muslim. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat diambil berdasarkan ajaran Islam, dengan tetap menjaga keseimbangan antara amar ma’ruf nahi munkar dan stabilitas sosial.

1. Memahami Konsep Dzalim dan Batasannya

Sebelum mengambil tindakan, penting bagi seorang Muslim untuk memahami apa yang dimaksud dengan kedzaliman dalam perspektif syariat. Dzalim (ظلم) secara bahasa berarti meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Dalam konteks kepemerintahan, kedzaliman dapat mencakup:

  • Menyembunyikan kebenaran atau memutarbalikkan fakta.
  • Menzalimi hak rakyat, baik secara ekonomi, sosial, maupun politik.
  • Melanggar hukum Allah secara terang-terangan.
  • Menindas suara rakyat yang kritis.
  • Korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Namun, penting untuk membedakan antara kesalahan kebijakan yang dapat dikoreksi dengan kedzaliman sistemik yang menginjak-injak prinsip keadilan.

2. Meningkatkan Ketakwaan dan Introspeksi Diri

Langkah pertama yang diajarkan Islam dalam menghadapi ujian sosial adalah kembali kepada Allah dan memperbaiki diri sendiri. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa perubahan kondisi suatu bangsa dimulai dari perubahan internal individu. Sebelum mengkritik penguasa, seorang Muslim harus:

  • Memperbaiki niat dan membersihkan hati dari dendam atau kebencian buta.
  • Meningkatkan ibadah dan doa, khususnya salat malam, memohon petunjuk dan perlindungan Allah.
  • Melakukan muhasabah diri: apakah kita telah menunaikan kewajiban sebagai rakyat dengan benar?

Doa khusus untuk keselamatan dari kedzaliman penguasa juga diajarkan dalam tradisi Islam, seperti doa:

اللّهم إنّي أعوذ بك من جهد البلاء ودرك الشقاء و سوء القضاء وشماتة الأعداء

Allahumma inni a’udzu bika min jahdil bala’, wa darki asy-syaqa’, wa su’il qadha’, wa syamatah al-a’da’” (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan yang berat, dari kesengsaraan yang buruk, dari takdir yang buruk, dan dari kegembiraan musuh atas musibah yang menimpa).

3. Menasihati dengan Cara yang Bijak dan Santun

Islam mengajarkan bahwa nasihat (nasihah) adalah hak setiap Muslim, termasuk penguasa. Namun, cara menyampaikannya harus memperhatikan etika:

  • Secara rahasia (sirri): Menasihati penguasa sebaiknya dilakukan secara tertutup untuk menghindari fitnah dan menjaga wibawa kepemerintahan. Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Jika kamu memiliki nasihat untuk penguasa, jangan sampaikan di depan umum, tapi ambil tangannya dan ajaklah ke tempat yang sepi.”
  • Dengan bahasa yang santun dan hikmah: Gunakan kata-kata yang lembut dan argumentasi yang kuat berdasarkan dalil, bukan emosi.
  • Melalui saluran yang tepat: Misalnya melalui ulama yang dipercaya, lembaga permusyawaratan, atau jalur resmi lainnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang ingin menasihati penguasa, jangan dilakukan terang-terangan. Tapi pegang tangan penguasa dan ajaklah menyendiri. Jika diterima, itu baik. Jika tidak, dia telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ahmad).

4. Bersabar dan Menghindari Fitnah

Islam sangat menekankan pentingnya menghindari kekacauan (fitnah) yang dapat menimbulkan kerusakan lebih besar. Meskipun penguasa dzalim, seorang Muslim diperintahkan untuk bersabar selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang setelahku para penguasa yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak menjalankan sunnahku. Akan ada di antara mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan dalam jasad manusia.” Sahabat bertanya, “Apa yang harus kami lakukan?” Beliau menjawab, “Dengarkan dan taati, meskipun mereka memukul punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim).

Namun, ketaatan ini tidak mutlak. Jika penguasa memerintahkan kemaksiatan, maka tidak ada ketaatan dalam hal tersebut. Prinsipnya adalah “la tha’ata li makhluqin fi ma’shiyatil khaliq” (tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Pencipta).

5. Memperkuat Solidaritas Sosial dan Jaringan Kebaikan

Di tengah kedzaliman penguasa, rakyat sering kali menjadi korban. Seorang Muslim dapat mengambil peran dengan:

  • Memperkuat ukhuwah Islamiyah dan solidaritas sosial: Saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan, membangun komunitas yang saling mendukung.
  • Mendirikan lembaga sosial, pendidikan, atau ekonomi mandiri yang dapat melindungi masyarakat dari ketergantungan kepada sistem yang dzalim.
  • Menyebarkan ilmu dan kesadaran melalui kajian, media sosial yang bertanggung jawab, atau diskusi terbatas.

6. Menggunakan Hak Konstitusional dengan Bijak

Dalam negara yang memiliki sistem hukum, seorang Muslim dapat menggunakan jalur konstitusional untuk menyuarakan kebenaran:

  • Menulis kritik konstruktif melalui media atau jalur resmi.
  • Bergabung dengan organisasi masyarakat yang fokus pada kontrol kebijakan publik (seperti LSM anti-korupsi).
  • Menjalankan fungsi pengawasan sesuai kapasitas, misalnya sebagai anggota dewan, akademisi, atau profesional.

7. Memperkuat Ketahanan Ekonomi dan Kemandirian

Kedzaliman penguasa sering kali bersinggungan dengan masalah ekonomi. Seorang Muslim dapat:

  • Mengembangkan ekonomi mandiri melalui koperasi, usaha kecil, atau sistem bagi hasil.
  • Menerapkan prinsip kehati-hatian dalam bertransaksi untuk menghindari riba dan ketidakadilan ekonomi.
  • Membangun ketahanan pangan keluarga atau komunitas.

8. Tetap Menjaga Persatuan dan Menghindari Perpecahan

Perpecahan umat adalah kerugian besar. Meskipun kritis terhadap penguasa, seorang Muslim harus:

  • Menghindari provokasi dan hasutan yang dapat memicu kekerasan.
  • Tidak mudah menyebarkan berita tanpa verifikasi (hoaks) yang dapat memecah belah.
  • Tetap mengutamakan dialog dan musyawarah dalam menyelesaikan perbedaan pendapat.

9. Mempersiapkan Generasi Masa Depan yang Lebih Baik

Perubahan yang hakiki membutuhkan waktu dan kesiapan generasi penerus. Langkah strategis meliputi:

  • Mendidik anak-anak dengan akhlak Quran dan keteladanan Rasulullah SAW.
  • Menanamkan nilai keadilan, keberanian menyuarakan kebenaran, dan kebijaksanaan dalam bertindak.
  • Memberikan keterampilan dan ilmu yang bermanfaat agar mereka dapat menjadi agen perubahan di masa depan.

10. Tetap Berprasangka Baik dan Berdoa untuk Perubahan Positif

Sebagai Muslim, kita yakin bahwa segala perubahan berada di tangan Allah. Oleh karena itu:

  • Berdoa untuk kebaikan penguasa agar diberi hidayah.
  • Tidak putus asa dari pertolongan Allah.
  • Yakin bahwa setiap kedzaliman akan berakhir dengan keadilan, baik di dunia maupun akhirat.

Kesimpulan

Menghadapi penguasa dzalim adalah ujian berat yang memerlukan keseimbangan antara kesabaran, keteguhan prinsip, dan kebijaksanaan tindakan. Islam memberikan panduan komprehensif yang tidak hanya mengedepankan perubahan struktural, tetapi juga transformasi spiritual dan sosial. Langkah-langkah di atas bukanlah daftar yang kaku, tetapi kerangka berpikir yang harus disesuaikan dengan konteks zaman tanpa meninggalkan esensi ajaran agama. Dalam setiap situasi, umat Islam dituntut untuk melakukan ijtihad kolektif, mempertimbangkan maslahat umum, serta memilih metode yang paling efektif dan minim mudarat. Perjuangan menghadapi kedzaliman pada akhirnya bertujuan bukan sekadar mengganti penguasa, melainkan menegakkan keadilan, menjaga martabat kemanusiaan, dan menciptakan tatanan sosial yang lebih baik sesuai dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Tinggalkan Komentar