Penulis: Amaradya Larasati*
*Mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Pada tahun 2025 ini, kita rasanya semakin sering mendengar kabar tentang rumah tangga yang retak: pasangan yang saling menjauh, perselisihan yang tak kunjung selesai, hingga angka perceraian yang terus meningkat. Di tengah maraknya konten dan edukasi tentang cara membangun keluarga ideal, justru banyak pasangan merasa gagal mewujudkannya. Pertanyaan sederhana pun muncul: mengapa gambaran keluarga sakinah yang penuh ketenteraman terasa semakin jauh dari realitas?
Sejak awal memutuskan menikah, hampir semua pasangan memulai perjalanan rumah tangga dengan harapan besar. Mereka memimpikan rumah tangga yang hangat, anak-anak yang tumbuh harmonis, serta kehidupan yang penuh keberkahan. Namun, seiring berjalannya waktu, harapan tersebut perlahan terkikis oleh tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, perbedaan karakter, hingga komunikasi yang tersendat. Di titik inilah muncul pertanyaan penting: apakah konsep keluarga sakinah hanya sebatas cita-cita indah, ataukah ada jalan realistis untuk mencapainya?
Keluarga sakinah sering dipahami sebagai keluarga yang selalu harmonis, tenang, penuh kasih sayang, dan dilandasi nilai-nilai spiritual. Sebagian orang bahkan memahaminya sebagai rumah tangga tanpa konflik. Pemahaman inilah yang kerap menjadi sumber kekecewaan. Padahal, kehidupan bersifat kompleks dan penuh dinamika, begitu pula rumah tangga. Keluarga sakinah bukanlah keluarga yang bebas masalah, melainkan keluarga yang mampu mengelola masalah dengan kedewasaan.
Tantangan keluarga modern pun semakin kompleks. Tekanan ekonomi membuat pasangan terjebak dalam rutinitas dan kelelahan. Media sosial menciptakan budaya perbandingan, sehingga banyak orang merasa “kurang bahagia” setelah melihat unggahan rumah tangga lain yang tampak sempurna. Romantisasi pernikahan yang tidak sesuai kenyataan juga memicu rasa tidak puas terhadap pasangan. Belum lagi peran ganda yang dijalankan oleh suami dan istri tanpa dukungan yang proporsional. Semua faktor ini perlahan menggerus ketenangan dalam keluarga.
Selain itu, kurangnya komunikasi yang asertif—jujur, terbuka, tegas, jelas, tidak agresif, dan berfokus pada solusi—turut menghambat terwujudnya keluarga sakinah. Banyak pasangan berbicara untuk membela diri, bukan untuk saling memahami. Di sisi lain, nilai-nilai spiritual sering kali tidak benar-benar dihidupkan dalam keseharian. Ibadah hanya menjadi rutinitas, bukan sumber energi emosional dan ketenangan batin.
Lalu bagaimana mencapai sakinah dalam realitas yang tidak sempurna? Ada beberapa sikap dasar yang bisa dilakukan dalam keseharian: Pertama, membangun komunikasi yang efektif. Ketika ada suatu hal yang harus didiskusikan dengan pasangan, biasakan berbicara dalam keadaan tenang, berbicara dengan jelas, jujur, menggunakan empati, tidak agresif, menguraikan masalah, berorientasi pada solusi, dan saling menghargai. Kedua, saling menerima kekurangan pasangan. Jika ada suatu hal dari pasangan yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita, sadar dan renungkanlah bahwa setiap pasangan itu tidak ada yang sempurna dan pasti ada kekurangan serta kelemahan. Ketiga, fokus pada tujuan pernikahan. Saat masalah melanda, ingatlah kembali akan tujuan dari ikatan pernikahan kalian. Keempat, kerja sama dalam peran. Bagi tanggung jawab secara adil sesuai kesanggupan masing-masing. Kelima, manajemen konflik. Hadapi masalah dengan kepala dingin, bukan menumpuk atau menghindarinya. Keenam, doa dan ibadah Bersama. Penguatan spiritual memberi ketenangan dalam menghadapi dinamika rumah tangga. Terakhir, Ketujuh, membangun harapan realistis. Terima bahwa perjalanan pernikahan tidak mulus, tetapi bisa dikelola dengan komitmen.
Pada akhirnya, keluarga sakinah tidak identik dengan kesempurnaan tanpa masalah. Sakinah adalah proses dan usaha berkelanjutan untuk menyelaraskan perbedaan, mengelola konflik, serta memperkuat nilai-nilai spiritual. Ketenangan tidak datang dengan sendirinya, melainkan lahir dari kerja sama, komunikasi yang hangat, dan komitmen menjaga pernikahan dengan kebijaksanaan. Dengan memahami bahwa konflik adalah bagian dari dinamika rumah tangga, kita dapat membangun ekspektasi yang lebih sehat. Dalam proses inilah, sakinah bukan sekadar cita-cita, melainkan perjalanan panjang yang harus dirawat setiap hari.