Macam mashdar
Mashdar itu bisa dibagi menjadi dua macam: mashdar mim dan ghairu mim.
Mashdar mim adalah mashdar yang memiliki mim zaidah di depannya sedangkan mashdar ghairu mim adalah mashdar yang tidak memiliki huruf mim zaidah di depannya.
Contoh mashdar ghairu mim adalah:
قِرَاءَةٌ
pembacaan
اجْتِهَادٌ
kesungguhan
مَدٌّ
memanjang
مُرُوْرٌ
Berlaku/berjalan
Adapun contoh mashdar mim adalah:
مَنْصرٌ
pertolongan
مَعْلَمٌ
Ilmu/pengetahuan
مُنْطَلَقٌ
keberangkatan
مُنْقَلَبٌ
Pembalikan
Pengertian Mashdar Mim
Para ulama yang mendalam ilmunya menyatakan bahwa Al-Mashdar al-Mimi adalah اسم (isim/kata benda) yang bermakna مصدر (mashdar), bukan masdar itu sendiri. Ia merupakan salah satu masdar yang قياسي (qiyasi/mengikuti kaidah baku).
Wazan Mashdar Mim
Wazan mashdar mim dari الفعل الثلاثي المجرد (fi’il tsulatsi mujarrad/kata kerja dasar tiga huruf) umumnya mengikuti مَفْعَل (maf’al). Sebagai contoh:
مَقْتَل
Pembunuhan
مَضْرَب
Pemukulan
مَعْلَم
Ilmu/pengetahuan
مَوْجَل
gelombang
مَرْقَى
Kenaikan
Kecuali jika termasuk الفعل المثال الواوي المحذوف الفاء (fi’il mitsal wawi yang huruf fa’-nya dibuang), maka wazannya mengikuti مَفْعِل (maf’il):
مَوْرِد
Berlaku/berjalan
مَوْرِث
Warisan
مَوْعِد
Janji
Adapun Al-Mashdar al-Mimi dari kata “وفى” (wafa) dan “وقى” (waqa) adalah “موفى” (mawfa) dan “موقى” (mawqa) dengan wazan “maf’al” (dengan ‘ain berharakat fathah), karena keduanya bukan fi’il mitsal, melainkan lafif mafruq [fi’il yang huruf pertama dan ketiganya adalah huruf illat]. Wazan “مفعِل” (maf’il) dengan ‘ain berharakat kasrah khusus untuk fi’il mitsal yang huruf fa’-nya dibuang, seperti telah dijelaskan).
wazannya untuk fi’il yang bukan tsulatsi mujarrad (lebih dari 3 huruf) sama persis dengan wazan Isim Maf’ul darinya. Contoh:
اعتقدتُ خيرَ مُعتَقَدٍ
Aku meyakini keyakinan yang baik
إنما مُعْتَمدي على الله
Sesungguhnya tempat bersandarku hanyalah kepada Allah
Terkadang Al-Mashdar al-Mimi dari fi’il tsulatsi mujarrad dibentuk dengan pola “maf’il” (dengan ‘ain berharakat kasrah) secara syadz (keluar kaidah), contoh:
المَكبِر
kebesaran
المَيْسِر
kemudahan
المَرجِع
kembali
المَحيض
haid
المَقيل
tidur siang
المَجيء
kedatangan
المَبيت
menginap
المَشيب
uban/usia tua
المَزيد
tambahan
المَسير
perjalanan
المَصير
tujuan/arah
dan
المَعجِز
Mukjizat
Pada kata-kata ini (yang terakhir), harakat ‘ain boleh juga dibaca fathah, seperti al-ma’jaz. Dan pada kata al-mahlak (kehancuran), harakat ‘ain boleh dibaca fathah dan juga dhamah, seperti al-mahlak dan al-mahluk.
Terkadang ia juga dibentuk dengan pola “مَفْعَلة”/”maf’alah” (dengan ‘ain berharakat fathah), seperti:
مَذْهَبَة
Aliran / Kepercayaan
مَفْسَدَة
Kerusakan
مَوَدَّة
Cinta kasih
مَقَالَة
Ucapan / Makalah
مَسَاءَة
Keburukan
مَحَالَة
Usaha
مَهَابَة
Rasa takut / Khidmat
مَهَانَة
Kehinaan
مَسْعَاة
Usaha
مَنْجَاة
Keselamatan
مَرْضَاة
Keridhaan
مَغْزَاة
Tujuan perang
Pembentukannya dengan pola “مَفْعِلة”/”maf’ilah” (dengan ‘ain berharakat kasrah) atau “مَفْعُلة”/”maf’ulah” (dengan ‘ain berharakat dhamah) adalah شذ (syadz/tidak sesuai kaidah), seperti:
مَحْمِدَة/ مَحْمَدَة
Pujian
مَذِمَّة/ مَذَمَّة
Celaan
مَظْلِمَة/ مَظْلَمَة
Penganiayaan
مَعْتِبَة/ مَعْتَبَة
Teguran
مَحْسِبَة/ مَحْسَبَة
Perhitungan
مَضِنَّة/ مَضَنَّة
Sangkaan
مَعْذِرَة/ مَعْذُرَة
Udzur / Alasan
مَغْفِرَة
Ampunan
مَعْصِيَة
Maksiat/pembangkangan
مَحْمِيَة
Perlindungan
مَعِيشَة
Penghidupan
مَهْلِكَة/ مَهْلَكَة / مَهْلُكَة
Kehancuran
مَقْدِرَة/ مَقْدَرَة / مَقْدُرَة
Kekuasaan / Kemampuan
مَأْدِبَة/ مَأْدَبَة / مَأْدُبَة
Hidangan / Santapan
Terdapat juga kata-kata yang memiliki wazan Fa’il (فاعل) dan Maf’ul (مفعول) yang merupakan isim tetapi bermakna masdar, seperti:
العَاقِبة
akibat
الفَاضِلة
Keunggulan
العَافِية
kesehatan
الكَافِية
kecukupan
البَاقِية
sisa
الدَالَّة
petunjuk
المَيْسور
kemudahan
المعسور
kesulitan
المرفوع
pengangkatan
الموضوع
peletakan
المعقول
rasio
المحلوف
sumpah
المجلود
cambukan
المفتون
godaan
المكروهة
kebencian
المصدوقة
kejujuran
Sebagian ulama menganggapnya sebagai mashdar yang syadz, namun pendapat yang benar adalah bahwa itu semua adalah isim yang datang dengan makna mashdar, bukan mashdar itu sendiri.
(Penjelasan):
Al-‘āqibah bermakna al-‘aqb (dengan fathah-sukun) atau al-‘uqūb (dengan dhamah), yaitu mashdar dari ‘aqaba – ya’qibu (dari bab nashara dan dakhala), artinya: mengikuti/menghasilkan atau datang setelahnya.
Al-Fādhilah adalah isim yang bermakna al-fadhlilah (keutamaan), yaitu derajat yang tinggi. Kata ini dari fadhula – yafdhulu – fadhlan (dari bab nashara), artinya: mulia, kemuliaan.
Al-‘Āfiyah adalah isim yang bermakna al-mu’āfāh (kesembuhan/keselamatan), mashdar dari ‘āfāhu – yu’āfīhi.
Al-Kāfi dan Al-Kāfiyah adalah dua isim yang bermakna al-kifāyah (kecukupan), mashdar dari kafā – yakfī – kifāyatan, artinya: tercukupinya kebutuhan sehingga tidak memerlukan yang lain.
Al-Bāqiyah adalah isim yang bermakna al-baqā’ (kelanggengan/keabadian), dari baqiya – yabqā.
Ad-Dāllah: yaitu ad-dalāl, adalah isim yang bermakna ad-dall (kelancangan/bergaya), mashdar dari dallat al-mar’atu ‘alā zaujihā dallan; wanita itu menunjukkan kelancangan terhadap suaminya dengan bergaya manja, seakan-akan menentangnya, padahal tidak.
Al-Maysūr dan Al-Ma’sūr adalah dua isim yang bermakna al-‘usr (kesulitan) dan al-yusr (kemudahan).
Al-Marfū’ adalah isim yang bermakna ar-raf’ (pengangkatan/kecepatan), mashdar dari rafa’a al-ba’īru raf’an; unta itu mempercepat jalannya.
Al-Mawdhū’ adalah isim yang bermakna al-wadh’ (peletakan/kecepatan), mashdar dari wadha’at an-nāqatu wadh’an; unta betina itu mempercepat jalannya.
Al-Ma’qūl adalah isim dari al-‘aql (akal/pemahaman), mashdar dari ‘aqala asy-syai’a; memahami sesuatu.
Al-Mahlūf adalah isim yang bermakna al-hilf (sumpah), mashdar dari halafa (bersumpah).
Al-Majlūd bermakna al-jald (kulit) dan al-jalādah (kekuatan/ketabahan), yaitu kesabaran. Mashdar dari julida – yujladu (dengan dhamah pada lam di kedua kata) – jaldan wa jalādatan, artinya: memiliki kekuatan, ketangguhan, dan kesabaran.
Dan (Al-Maftūn) adalah sebuah isim yang bermakna Al-Fitnah (cobaan/bujukan), yaitu mashdar dari kata “fatana-hu” (dia telah membujuknya), artinya: menariknya dan menggodanya.
Dan (Al-Makrūhah) adalah sebuah isim yang bermakna Al-Karāhiyah (kebencian), yaitu mashdar dari kata “kariha-hu karhan wa karāhiyatan” (dia membencinya dengan kebencian).
Dan (Al-Maṣdūqah) adalah sebuah isim yang bermakna Aṣ-Ṣidq (kebenaran/kejujuran), yaitu mashdar dari kata “ṣadaqa yaṣduqu ṣidqan” (dia berkata benar/jujur).