Oleh: Dwi Putri Febriana*
*Mahasiswi Jurusan Psikologi dari Universitas Prof. Dr. Hamka. IG: @fbrina.riri
1. Pendahuluan
Setiap pasangan pasti mendambakan rumah tangga yang penuh cinta, tenang, dan bahagia. Dalam Islam, cita-cita ini disebut keluarga sakinah, keluarga yang menghadirkan kedamaian lahir dan batin, tempat semua anggotanya merasa aman, diterima, dan dicintai. Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 21:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang.”
Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan rumah tangga tidak datang dengan sendirinya. Ia perlu dibangun, dirawat, dan dijaga—salah satunya melalui komunikasi. Tanpa komunikasi yang sehat, cinta bisa berubah menjadi salah paham, dan kasih sayang dapat berganti menjadi jarak emosional.
Di tengah kemajuan teknologi, komunikasi keluarga menghadapi tantangan baru. Kita sering lebih sibuk berbicara lewat layar ketimbang menatap wajah orang di rumah. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (2023), angka perceraian di Indonesia kini mencapai lebih dari 450 ribu kasus per tahun, dan 70% di antaranya disebabkan oleh konflik komunikasi (Kemenag, 2022). Bahkan survei KPAI (2023) menunjukkan, rata-rata orang tua menghabiskan 4 jam sehari di depan ponsel, namun hanya kurang dari 40 menit berinteraksi langsung dengan anak-anaknya.
Bayangkan, dalam sehari kita lebih sering berbicara dengan rekan kerja lewat chat dibanding mendengarkan cerita anak atau pasangan. Padahal, dari percakapan sederhana seperti “Bagaimana harimu?”, “Aku bangga padamu”, atau “Terima kasih sudah membantu” akan lahir perasaan saling dihargai dan dicintai.
Rasulullah SAW telah mencontohkan bentuk komunikasi keluarga yang lembut, penuh perhatian, dan menyentuh hati. Beliau bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” (HR. Tirmidzi)
Dalam banyak riwayat, Rasulullah dikenal gemar menyapa, mendengarkan dengan penuh empati, dan bercanda dengan istrinya. Sikap seperti inilah yang menjadi dasar keluarga sakinah—komunikasi yang menumbuhkan cinta, bukan yang memperpanjang amarah.
Dari sisi psikologi modern, penelitian Santrock (2018) dan Goleman (2020) menunjukkan bahwa keluarga dengan komunikasi positif memiliki tingkat kebahagiaan lebih tinggi dan risiko stres lebih rendah. Artinya, cara kita berbicara dan mendengarkan dapat menentukan seberapa kuat hubungan keluarga bertahan menghadapi masalah hidup.
Maka, membangun keluarga sakinah bukan hanya tentang ibadah, ekonomi, atau peran rumah tangga, tetapi juga tentang bagaimana kita saling bicara, mendengar, dan memahami satu sama lain. Komunikasi adalah jantung dari keluarga—jika ia berhenti, maka kehidupan bersama pun perlahan kehilangan napasnya.
2. Pembahasan
2.1 Apa Itu Keluarga Sakinah?
Kata sakinah berasal dari bahasa Arab sukun, yang berarti tenang, damai, dan tenteram. Dalam konteks keluarga, sakinah bukan berarti rumah tanpa masalah, tetapi rumah yang tetap tenang meski badai datang.
Keluarga sakinah adalah keluarga yang saling memahami, menghargai, dan menenangkan—bukan saling menyalahkan.
Menurut Kementerian Agama RI (2020), keluarga sakinah dibangun di atas empat pilar: iman, komunikasi, tanggung jawab, dan kasih sayang. Semua pilar itu saling terhubung. Namun komunikasi menempati posisi istimewa karena darinya iman disampaikan, kasih sayang diungkapkan, dan tanggung jawab dijalankan.
Rasulullah SAW menjadi teladan sempurna. Beliau tidak hanya memimpin umat, tetapi juga mendengarkan keluarganya dengan penuh empati. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Sayyidah Aisyah bercerita panjang, Rasulullah tidak pernah memotong pembicaraannya, tetapi mendengarkan hingga tuntas. Ini menunjukkan bahwa mendengar adalah bentuk cinta yang sederhana namun mendalam.
2.2 Mengapa Komunikasi Itu Kunci?
Komunikasi adalah jembatan antara dua hati. Tanpanya, cinta bisa berubah menjadi jarak, dan perhatian berubah menjadi salah paham. Banyak pasangan yang sebenarnya saling mencintai, tetapi gagal mengekspresikannya dengan cara yang tepat.
Penelitian Putri & Sulastri (2019) menunjukkan bahwa 70% konflik rumah tangga di Indonesia berawal dari miskomunikasi. Bukan karena kurang cinta, melainkan karena cara menyampaikan perasaan yang salah—terlalu emosional, terlalu diam, atau terlalu sibuk hingga lupa mendengarkan.
Dalam Islam, komunikasi bukan hanya tentang kata-kata, tetapi juga niat dan adab. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari)
Artinya, setiap ucapan dalam keluarga seharusnya membawa ketenangan, bukan luka. Mengatakan “terima kasih”, “maaf”, atau “aku bangga padamu” bisa menjadi sedekah kecil yang menumbuhkan cinta besar.
2.3 Tantangan Komunikasi di Era Digital
Kehidupan modern menghadirkan kemudahan sekaligus jebakan. Gawai dan media sosial membuat kita selalu terhubung, tetapi sering merasa jauh. Banyak pasangan duduk satu meja, tetapi sibuk menatap layar masing-masing.
Laporan KPAI (2023) menunjukkan bahwa orang tua rata-rata menghabiskan 4 jam per hari di ponsel, namun hanya 37 menit berinteraksi dengan anak.
Akibatnya, hubungan emosional antar anggota keluarga semakin renggang. Anak mencari perhatian di media sosial, suami-istri berbicara hanya soal kewajiban, bukan kehangatan.
Keluarga sakinah bukan keluarga tanpa gawai, tetapi keluarga yang tahu kapan harus menatap layar dan kapan harus menatap mata.
2.4 Ciri-Ciri Komunikasi Keluarga Sakinah
Berikut ini adalah ciri-ciri komunikasi keluarga sakinah, antara lain:
- Terbuka, bukan memaksa. Suami, istri, dan anak punya ruang untuk bicara jujur tanpa takut dihakimi.
- Lembut tapi tegas. Cara menyampaikan lebih penting daripada isi pesan.
- Penuh empati. Mau mendengarkan sebelum menanggapi.
- Mengandung nilai spiritual. Komunikasi diwarnai dengan doa, syukur, dan zikir bersama.
Sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa: 19:
“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri) secara baik…”
Ayat ini bukan hanya perintah untuk berlaku adil, tetapi juga untuk berkomunikasi dengan lembut dan menghormati perasaan.
2.5 Komunikasi Sebagai Jalan Menuju Surga
Keluarga sakinah tidak hanya tentang bahagia di dunia, tetapi juga tentang saling menuntun menuju surga. Dalam QS. At-Tahrim: 6, Allah memerintahkan:
“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Setiap percakapan dalam keluarga seharusnya mengandung kebaikan dan nasihat menuju ketaatan. Ketika suami menenangkan istrinya, atau orang tua menasihati anak dengan lembut, itu bukan sekadar komunikasi—itu adalah ibadah.
3. Kesimpulan
Keluarga sakinah bukan hadir dari harta, rumah mewah, atau status sosial, tetapi dari hati yang saling memahami dan komunikasi yang saling menenangkan.
Kata-kata lembut bisa menambal luka, sementara diam yang penuh kasih bisa menenangkan jiwa. Komunikasi adalah jantung keluarga; ia menghidupkan cinta, menyuburkan empati, dan memperkuat iman. Tanpa komunikasi, rumah bisa terasa sunyi meski ramai; tetapi dengan komunikasi yang hangat, rumah sederhana pun bisa terasa seperti surga kecil.
Rasulullah SAW mencontohkan bahwa rumah tangga sakinah dibangun dengan kasih, senyum, dan kata-kata baik. Maka setiap keluarga Muslim perlu menjadikan komunikasi sebagai ibadah—bukan sekadar interaksi.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)
Mari kita mulai dari hal kecil: mendengar dengan sabar, berbicara dengan lembut, dan mendoakan dengan tulus. Karena keluarga sakinah tidak dibangun dalam semalam, tetapi setiap hari lewat kata-kata yang menyejukkan dan hati yang saling berlapang dada.
Referensi
- Kementerian Agama RI. (2020). Pengertian keluarga sakinah serta asasnya.
- Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik Perkawinan dan Perceraian Indonesia 2023.
- Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2023). Laporan Penggunaan Gadget Anak di Indonesia.
- Putri, M. P., & Sulastri, S. (2019). Komunikasi dalam membangun keluarga sakinah. Jurnal Ilmu Komunikasi, 17(1), 10–12.
- Surur, A. (2018). Peran komunikasi dalam keluarga sakinah. Jurnal Komunikasi Keluarga, 7(2), 23–33.
- Rahmat, J. (2014). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
- Sutrisno, S. (2018). Komunikasi efektif dalam keluarga. Jurnal Konseling Keluarga, 10(1), 45–53.
- Santrock, J. W. (2018). Life-Span Development (15th ed.). New York: McGraw-Hill.
- Goleman, D. (2020). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam.
- Yusuf, M. (2022). Keluarga Islami dan Tantangan Era Digital. Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam, 6(1), 55–66.