Pertanyaan:
Kenapa toleransi antar islam dengan agama lain malah lebih erat dibandingkan toleransi antar perbedaan pemahaman agama di antara umat Islam itu sendiri (Contoh: golongan NU yang mengolok-olok golongan Wahabi dengan sebutan yang jahat)?
- Penanya: Anonim
Jawaban:
Bukan rahasia lagi, toleransi internal antar golongan umat Islam merupakan “pekerjaan rumah” besar yang perlu kita – sebagai umat Muslim – cari solusinya bersama-sama. Gesekan antar-golongan—baik di dunia nyata maupun di media sosial—telah menimbulkan keresahan dan dampak negatif yang tidak kecil.
GP Ansor dan Jamaah Salafy semisal, keduanya pernah terlibat konflik atas pembubaran pengajian yang juga telah saya bahas dalam tulisan saya berjudul “Menjadi Penengah antara BANSER GP Ansor dan Jamaah Salafy“
Ironisnya, hubungan dengan pemeluk agama lain justru sering terlihat lebih harmonis. Padahal, semestinya persaudaraan sesama Muslim (ukhuwah islamiyah) lebih kuat. Lantas, apa akar masalahnya?
1. Klaim Kebenaran Eksklusif dan Polarisasi Internal
Salah satu faktor utama adalah klaim kebenaran absolut yang sering muncul dalam kelompok-kelompok Islam. Hadits tentang terpecahnya umat Islam menjadi 73 golongan—dengan hanya satu yang selamat (Ahl as-Sunnah wa al-Jamaah)—sering dipahami secara sempit. Pemahaman ini memicu sikap “kami yang benar, yang lain sesat“, sehingga memunculkan kecurigaan dan penolakan terhadap kelompok lain.
Berbeda dengan hubungan antar-agama yang sudah memiliki batas jelas (Lakum diinukum wa liya diin/Bagimu agamamu dan bagiku agamaku), perselisihan internal justru terjadi karena perbedaan tafsir dalam satu kerangka keyakinan yang sama. Ketika masing-masing golongan merasa paling otentik, gesekan menjadi tak terhindarkan—seperti contoh olok-olok antara NU dan Wahabi.
2. Faktor Sejarah dan Politik
Konflik internal umat Islam tidak lepas dari warisan sejarah seperti persaingan kekuasaan (misalnya Sunni-Syiah pasca-wafat Nabi) atau pengaruh kolonialisme yang memecah-belah umat (devide et impera). Sementara itu, hubungan dengan non-Muslim justru sering lebih cair karena:
- Tidak ada persaingan teologis langsung (umat Islam tidak merasa “ditantang” secara akidah oleh agama lain).
- Kebutuhan pragmatis (kerja sama sosial, ekonomi, atau politik) mendorong toleransi eksternal.
3. Media Sosial dan Amplifikasi Konflik
Dunia digital memperuncing polarisasi. Debat fiqih atau tauhid yang seharusnya ilmiah berubah jadi caci-maki karena:
- Algoritma media sosial mengamplifikasi konten kontroversial. Sering kita jumpai justru konten yang viral adalah konten yang mengundang ketersinggungan dan bermuatan provokasi terselubung. Ironis, justru konten bermuatan damai dan ilmiah tidak dinaikkan secara algoritma ibarat seperti rumah terbakar yang dikerumuni dan rumah yang tidak terbakar sepi tamu.
- Identitas kelompok (seperti NU vs. Wahabi) dijadikan alat untuk menggalang dukungan, bahkan dengan cara merendahkan pihak lain.
4. Toleransi Eksternal vs. Internal: Perbedaan Dinamika
Toleransi eksternal vs. internal memiliki perbedaan dinamika yang mendasar. Secagai contoh: dengan non-Muslim, kita meiliki batas jelas dalam hal akidah (“untukmu agamamu, untukku agamaku”) yang mana hal ini meminimalisir konflik teologis.
Sedangkan dengan sesama Muslim yang berbeda kelompok, perbedaan kecil seperti cara salat, tahlilan, dsb. justru dipersepsikan sebagai ancaman terhadap kemurnian agama, sehingga memicu reaksi keras.
Lantas bagaimana solusinya?
Untuk menjembatani gesekan tak mengenakkan antar internal, kami menawarkan beberapa solusi yakni: “Mengembalikan Spirit Ukhuwah Islamiyah dan Spirit Ilmiyah Quraniyah”
Karena kami yakin ketegangan ini muncul dari ketidak-kenalan kita satu sama lain sebab jarang duduk bersama dan kebodohan dari kita masing-masing yang alpa dari wawasan quran.
Untuk bisa mengembalikan persaudaraan Islamiyyah dan keilmuan quraniyyah, diperlukan:
- Pemahaman hadits perpecahan secara konstruktif, bukan sebagai alat untuk menjustifikasi klaim kebenaran.
- Dialog antarmazhab yang mengedepankan ikhtilaf (perbedaan pendapat) sebagai rahmat.
- Meneladani Rasulullah yang menjaga persatuan tanpa mengabaikan prinsip toleransi.
- Mempelajari alQuran bersama yang mana sebagai mukjizat, yang mubīn (kitab yang sangat jelas), bayyināt (keterangan-keterangan yang jelas), dan ahsan al-hadits (perkataan terbaik) yang mana kita tidak mungkin menemukan penjelasan yang lebih gamblang, lebih jelas dan lebih mudah dipahami selain alQuran.
AlQuran sendiri menggambarkan secara sederhana orang beriman yang kelak ditempatkan di surga adalah sebagai “alladzīna aqāmu ash-shalāta wa ātu az-zakāt” (orang-orang yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat) tanpa karakteristik tambahan seperti harus punya jenggot, harus tahlilan dsb. yang sudah pasti merupakan masalah furuiyyah sehingga sebagai umat muslim meskipun berbeda kelompoknya kita semakin cerdas dan bisa membedakan antara masalah ushuliyyah dan furuiyyah.
Penutup
Ironi toleransi ini mencerminkan kompleksitas hubungan manusia—bahwa yang terdekat justru paling rentan berseteru. Meski demikian, toleransi eksternal tetap penting sebagai cerminan akhlak Islam, sementara persaudaraan internal harus diperkuat dengan kesadaran bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling menafikan.
Jadi saudara Anonim yang budiman, tidak perlu terbawa arus negatif dan perdebatan non-produktif. Alih-alih begitu justru lebih baik sebarkan pesan damai ke sesama muslim dan memperkaya diri dengan ilmu dan hikmah dari al-Quran supaya orang-orang sekeliling kita ketularan dan tidak menjadi orang sumbu pendek, gemar membidahkan dan paling benar sendiri.
Semoga hal ini bisa menjadi perhatian kita bersama. Aamiin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
- Penjawab: Mudhofar