Definisi Isim Maf’ul
Isim maf’ul (اسم المفعول) adalah shifah (kata sifat) yang diambil dari fi’il majhul (kata kerja bentuk pasif), untuk menunjukkan suatu peristiwa yang menimpa sesuatu yang disifati—dengan sifat terjadi dan diperbarui (huduts wa tajaddud), bukan tetap dan menetap (tsubut wa dawam).
Contoh: مكتوب (maktūb, “yang ditulis”), ممرور به (mamrūr bih, “yang dilewati”), مكرم (mukram, “yang dimuliakan”), منطلق به (munthalaq bih, “yang dibawa pergi”).
Istilah kunci:
- Fi’il majhul (فعل مجهول) = kata kerja bentuk pasif
- Huduts wa tajaddud (حدوث وتجدد) = terjadi dan diperbarui
- Tsubut wa dawam (ثبوت ودوام) = tetap dan menetap
Wazan dari Fi’il Tsulatsi Mujarrad
Isim maf’ul dari fi’il tsulatsi mujarrad dibentuk dengan wazan مفعول (maf’ūl).
Contoh:
| Isim Maf’ul | Arti |
|---|---|
| منصور | yang ditolong |
| مخذول | yang ditinggalkan |
| موعود | yang dijanjikan |
| مقول | yang dikatakan |
| مبيع | yang dijual |
| مدعوّ | yang diseru |
| مرميّ | yang dilempar |
| مطويّ | yang dilipat |
Wazan dari Selain Tsulatsi Mujarrad
Isim maf’ul dari fi’il selain tsulatsi mujarrad dibentuk mengikuti lafaz mudhari’ majhul-nya, dengan cara mengganti huruf mudhara’ah dengan mim dhammah (مُـ).
Contoh:
| Isim Maf’ul | Arti |
|---|---|
| مُعظَّم | yang diagungkan |
| مُحترَم | yang dihormati |
| مُستَغفَر | yang dimintakan ampun |
| مُدحرَج | yang digulingkan |
| مُنطلَق به | yang dibawa pergi |
| مُستعان | yang dimintai pertolongan |
Catatan: Pada ghairu tsulatsi, isim maf’ul mengikuti mudhari’ majhul. Karena mudhari’ majhul berharakat fathah pada huruf sebelum akhir (يُعَظَّم → مُعَظَّم), maka isim maf’ul pun demikian. Bandingkan dengan isim fa’il yang mengikuti mudhari’ ma’lum (يُعَظِّم → مُعَظِّم). Jadi perbedaannya bukan kaedah baru, melainkan konsekuensi dari ma’lum vs majhul.
Kata yang Sama Bentuk antara Isim Fa’il dan Isim Maf’ul
Ada sejumlah kata yang berbentuk sama untuk isim fa’il dan isim maf’ul, seperti:
- محتاج (muhtāj)
- مختار (mukhtār)
- معتد (mu’tadd)
- محتلّ (muhtall)
Konteks (qarīnah) yang menentukan maknanya.
| Jika bermakna fa’il (pelaku) | Jika bermakna maf’ul (objek) |
|---|---|
| Asalnya مُحتوِج (muh tawij) — kasrah | Asalnya مُحتوَج (muhtawaj) — fathah |
| Asalnya مُختيِر (mukhtayir) — kasrah | Asalnya مُختيَر (mukhtayar) — fathah |
| Asalnya مُعتَدِد (mu’tadid) — kasrah | Asalnya مُعتَدَد (mu’tadad) — fathah |
| Asalnya مُحتلِل (muhtalil) — kasrah | Asalnya مُحتلَل (muhtalal) — fathah |
Kaedah: Kasrah pada huruf sebelum akhir → fa’il (pelaku). Fathah → maf’ul (objek). Inilah sisa jejak bentuk asal yang membedakan keduanya.
Syarat: Dibentuk dari Fi’il yang Memerlukan Objek
Isim maf’ul hanya dibentuk dari fi’il yang memerlukan objek, baik:
- Secara langsung (muta’addi binafsih) → seperti معلوم (“yang diketahui”), مجهول (“yang tidak diketahui”)
- Melalui perantaraan huruf jar (muta’addi bighairih) → seperti مرموق به (“yang dipandang”), مشفق عليه (“yang dikasihani”)
Wazan “Maf’ūl” dari Fi’il Mu’tal ‘Ain (Ajwat)
Wau pada isim maf’ul dihapus jika dibentuk dari fi’il ajwaf (fi’il yang ‘ain-nya huruf ‘illat). Kemudian:
- Jika ‘ain-nya wau (و) → harakatnya dipindahkan ke huruf sebelumnya
- Jika ‘ain-nya ya (ي) → harakatnya dihapus, dan huruf sebelumnya dikasrahkan agar ya tetap sahih
Contoh:
| Fi’il | Isim Maf’ul | Bentuk Asal |
|---|---|---|
| يبيعُ | مَبيعٌ | مَبيوعٌ |
| يقولُ | مَقُولةٌ | مَقْوولٌ |
a. Pengecualian yang Jarang (Nadir): Wau “Maf’ūl” Dipertahankan
Ada kata-kata jarang yang mempertahankan wau “maf’ūl” padahal ‘ain-nya wau:
- ثوبٌ مصْوُونٌ (tsaubun mashwūn, “baju yang terpelihara”)
- مِسكٌ مدْوُوفٌ (miskun madwūf, “minyak misik yang dicampur”)
- فرسٌ مقْوُودٌ (farasun maqwūd, “kuda yang dituntun”)
Ini bersifat simā’ī (hanya dihafal) dan tidak dijadikan qiyas (tidak diikuti untuk kata lain).
b. Kebiasaan Bani Tamim
Bani Tamim dari bangsa Arab mempertahankan wau “maf’ūl” pada kata yang ‘ain-nya ya (ي):
- مبْيُوع (mabyū’)
- مخْيُوط (makhyūth)
- مكْيُول (makyūl)
- مدْيُون (madyūn)
Ini juga simā’ī, mengikuti kebiasaan qabilah tertentu.
Wazan “Maf’ūl” dari Fi’il Mu’tal Lam (Naqish)
Jika “maf’ūl” dibentuk dari kata yang akhir madhi-nya ya (ي), atau alif yang asalnya ya, maka berlaku:
- Wau “maf’ūl” diubah menjadi ya
- Huruf sebelumnya dikasrahkan
- Diidghamkan ke dalam ya berikutnya
Contoh:
| Fi’il | Isim Maf’ul |
|---|---|
| قرِيَ | مَقْوِيٌّ عليه |
| رضِيَ | مَرْضيٌّ عنه |
| نهى | مَنْهيٌّ عنه |
| طوى | مَطْويٌّ |
| رمى | مَرْمِيٌّ |
Firman Allah:
يا أيّتها النَّفسُ المُطمئنّةُ ارجعي إلى ربِّكِ راضيةً مَرْضيَّةً
“Hai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.”
Penjelasan bentuk asal: Asalnya مقوويٌ، مرضويٌ، مرمويٌ. Wau dan ya berkumpul, yang pertama sukun, maka wau diubah menjadi ya, huruf sebelumnya dikasrahkan, lalu diidghamkan ke dalam ya kedua.
a. Jika Akhir Madhi-nya Alif yang Asalnya Wau
Jika dibentuk dari kata yang akhir madhi-nya alif yang asalnya wau—seperti غزا يغزو، دعا يدعو، رجا يرجو—maka tidak ada jalan selain mengidghamkan wau “maf’ūl” ke dalam lam fi’il.
Contoh:
| Fi’il | Isim Maf’ul |
|---|---|
| غزا | مَغْزوّ |
| دعا | مدعوّ |
| رجا | مرجوّ |
Perhatikan bedanya: Pada kelompok naqish ya (رمى), hasilnya مَرْمِيٌّ (ya). Pada kelompok naqish wau (دعا), hasilnya مدعوّ (wau diidghamkan).
Wazan Pengganti “Maf’ūl”: Fa’īl, Fi’l, Fa’al, Fu’lah
Ada empat wazan yang menggantikan “maf’ūl” dalam menunjukkan maknanya:
(1) فَعيلٌ (Fa’īl) Bermakna Maf’ūl
Contoh: قتيل، ذبيح، كحيل، حبيب، أسير، طريح — bermakna مقتول، مذبوح، مكحول، محبوب، مأسور، مطروح (“yang dibunuh, yang disembelih, yang bercelak, yang dicintai, yang ditawan, yang tergeletak”).
Catatan penting:
- Wazan ini berlaku sama untuk mudzakkar dan muannats. Dikatakan: رجلٌ كحيلُ العين (“lelaki yang bermata bercelak”) dan امرأةٌ كحيلُها (“perempuan yang bercelak”).
- Fa’īl bermakna maf’ūl bersifat simā’ī. Yang datang darinya dihafal dan tidak dijadikan qiyas.
- Sebagian ulama berpendapat boleh diqiyaskan pada fi’il yang tidak memiliki “fa’īl” bermakna “fā’il”, seperti قتلَ dan سلبَ.
- Tidak diqiyaskan pada fi’il yang memiliki “fa’īl” bermakna “fā’il”, seperti رحمَ، علمَ، شهدَ—karena mereka mengatakan رحيم، عليم، سميع، شهيد yang bermakna راحم، عالم، سامع، شاهد (“yang menyayangi, yang mengetahui, yang mendengar, yang menyaksikan”).
(2) فِعْلٌ (Fi’l) — Kasrah lalu Sukun
Contoh: ذِبْح، طِحْن، طِرْح، رِعْي — bermakna مذبوح، مطحون، مطروح، مرعيّ (“yang disembelih, yang digiling, yang dilempar, yang digembalakan”).
(3) فَعَلٌ (Fa’al) — Fathah lalu Fathah
Contoh: قَنَص، جَزَر، عَدَد، سَلَب، جَلَب — bermakna منقوص، مجزور، معدود، مسلوب، مجلوب (“yang dikurangi, yang disembelih, yang dihitung, yang dirampas, yang ditarik”).
(4) فُعْلة (Fu’lah) — Dhammah lalu Sukun
Contoh: أُكْلة، غُرفة، مُضغة، طُعمة — bermakna مأكول، مغروف، ممضوغ، مطعوم (“yang dimakan, yang disendok, yang dikunyah, yang dimakan”).
Catatan: Tiga wazan terakhir—فِعْل، فَعَل، فُعْلة—bersifat simā’ī dan sedikit (qalīl). Ketiganya juga berlaku sama untuk mudzakkar dan muannats.
Mashdar yang Bermakna Isim Maf’ul
Adapun menggunakan mashdar untuk makna isim maf’ul, maka itu banyak dan muththarid (berlaku umum/qiyas).
Contoh:
هذا ضربُكَ وأكلُكَ وكتابتُكَ وعِلمُكَ وعملُكَ
“Ini adalah pukulanmu, makananmu, tulisanmu, pengetahuanmu, dan perbuatanmu.”
Maknanya: مضروبُكَ، مأكولُكَ، مكتوبُكَ، معلومُكَ (“yang engkau pukul, yang engkau makan, yang engkau tulis, yang engkau ketahui”).
Perhatikan: Di sini mashdar tidak bermakna peristiwa, melainkan objek yang dikenai peristiwa. Inilah yang disebut mashdar bermakna maf’ūl—dan ini qiyas, berbeda dengan wazan-wazan pengganti di atas yang simā’ī.
Catatan untuk Pembelajar Indonesia
- Bedakan isim fa’il vs isim maf’ul dari sumbernya. Isim fa’il diambil dari fi’il ma’lum (aktif); isim maf’ul dari fi’il majhul (pasif). Karena itu كاتب = “penulis” (pelaku), sedangkan مكتوب = “yang ditulis” (objek).
- Ghairu tsulatsi: awas jebakan harakat. Pada isim fa’il, huruf sebelum akhir dikasrahkan (مُعظِّم). Pada isim maf’ul, mengikuti mudhari’ majhul sehingga difathahkan (مُعظَّم). Ini sumber kesalahan paling umum.
- Kata kembar (muh tāj, mukhtār, dsb.). Bentuknya sama, maknanya ditentukan konteks. Dalam bahasa Indonesia, kita harus menerjemahkan sesuai konteks: “orang yang membutuhkan” vs “yang dibutuhkan”.
- I’lal mengikuti mudhari’ majhul. Sama seperti isim fa’il mengikuti mudhari’ ma’lum. Jadi hafalkan pola mudhari’-nya, bukan hanya madhi-nya.
- Wazan pengganti (fa’īl, fi’l, fa’al, fu’lah) bersifat simā’ī. Jangan mengqiyaskan sendiri. Hafalkan yang ada, dan gunakan maf’ūl sebagai bentuk standar.
- Mashdar bermakna maf’ūl itu qiyas. Ini kebalikan dari wazan pengganti tadi. Jadi “هذا ضربُكَ” boleh dipahami “ini yang engkau pukul” tanpa harus memakai “مضروبك”.
- Praktik i’rab. Isim maf’ul bisa menempati kedudukan apa pun: mubtada’, khabar, na’at, maf’ul bih, dsb. Tanda i’rab-nya mengikuti kedudukannya, bukan karena “maf’ul”-nya.