Makalah Inteligensi Pengantar Psikologi

[miniorange_social_sharing]

MAKALAH

INTELIGENSI

Diajukan untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah: Pengantar Psikologi

Dosen Pengampu:

Muhammad Yasin Abidin, M. Pd

Oleh:

Poppy Widora                                     (2021215507)

Mudhofar                                            (2021215517)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN

2015

BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah

Intelegensi merupakan kemampuan yang dimiliki oleh setiap insan. Intelegensi ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia, keberhasilan, dan kesuksesan (menurut manusia umum). Namun tingkat intelegensi yang dimiliki setiap orang pastilah berbeda. Ini dikarenakan bahwa intelegensi seseorang memang tergantung pada faktor-faktor yang membentuk intelegensi itu sendiri. Oleh karena itu kita perlu memahami tentang teori-teori intelegensi agar dapat meraih keberhasilan dan kesuksesan.

B. Rumusan Masalah

  • Apakah definisi Inteligensi itu?
  • Apa saja teori inteligensi itu?
  • Apa faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi itu?
  • Bagaimana mengukur inteligensi?

C. Tujuan Penulisan

  • Mengetahui definisi inteligensi
  • Mengetahui teori inteligensi
  • Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi
  • Mengetahui pengukuran inteligensi

BAB II Pembahasan

A. Definisi Inteligensi

Dalam buku yang berjudul Human Ability (1951), Spearman dan Wynn mengemukakan adanya konsep lama mengenai suatu kekuatan (power) yang dapat melengkapi akal pikiran manusia dengan gagasan abstrak yang universal untuk dijadikan sumber tunggal pengetahuan sejati. Kekuatan tersebut dalam bahasa Yunani disebut dengan “Nous” sedangkan penggunaan kekuatannya disebut  “Noesis”. Kemudian dalam bahasa latin keduanya dikenal sebagai intellectus dan intelligentia. Dalam bahasa inggris masing-masing diterjemahkan sebagai intellect dan intelligence. Ternyata transisi bahasa tersebut membawa perubahan makna. Inteligence versi inggris dalam bahasa indonesia disebut intelegensi, semula penggunaan intelektual secara nyata akan tetapi kemudian diartikan sebagai kekuatan lain.[1]

Andrew Crider mengatakan bahwa intelgensi itu bagaikan listrik, gampang untuk diukur tetapi hampir mustahil untuk didefinisikan. Kiranya cukup beralasan jika pertama-pertama diajukan sebuah pertanyaan “apakah kecerdasan (inteligensi) itu?”. Jawabannya sangat sederhana yaitu kita belum tahu. Para psikolog memberi definisinya masing-masing sebagai berikut:

  1.  Lewis Madison Terman: intelegensi sebagai kemampuan seseorang untuk berfikir secara abstrak.
  2. H. H Goddard: tingkatan kemampuan seseorang untuk menyelesaikan masalah yang langsung dihadapi dan untuk megantisipasi masalah yang akan datang.
  3. Walter dan Gardner: sebagai suatu kemampuan yang memungkinkan individu memecahkan masalah, atau produk sebagai konsekuensi eksistensi suatu budaya tertentu
  4. Alice Heim: perbuatan pandai yang terdiri dari pemahaman hal-hal yang pokok di dalam suatu keadaan dan penanggapan secara tepat terhadap keadaan tersebut

B. Teori Inteligensi

Beberapa teori tentang kecerdasan sebagai berikut;

1. Teori Belajar

Teori ini mengemukakan bahwa inteligensi itu erat hubungannya dengan belajar. Hal ini dilandasi atas respon seseorang terhadap situasi tertentu dan cara bagaimana ia menyesuaikan diri terhadap situasi tersebut. Ditekankan dalam teori ini bahwa intelegensi bukanlah sifat kepribadian (trait) akan tetapi merupakan kualitas hasil belajar yang telah terjadi. Jadi intelegensi itu bisa diajarkan atau dipelajari tanpa memandang bakat, minat, pekerjaan dan ras ataupun keturunan.[2]

2. Teori Perkembangan

Dalam teori ini inteligensi dipusatkan pada masalah perkembangan inteligensi secara kualitatif dalam kaitannya dengan tahap-tahap perkembangan biologis individu. Sebagai contoh Jean Piaget melihat pada respon-respon anak-anak dalam mengerjakan tes inteligensi. Tampak olehnya bahwa terdapat pola respon tertentu yang ada kaitannya dengan tingkatan usia tertentu.[3]

3. Teori Psikometrik

Ciri utama teori ini adalah adanya anggapan bahwa integensi merupakan suatu konstrak (construct) atau sifat kepribadian (trait) psikologis yang berbeda kadarnya pada tiap orang. Teori ini dinisbatkan kepada para ahli psikometri yang lebih tertarik pada masalah pengukuran psikologis. Dalam teori ini terdapat dua arah studi, yaitu pertama yang bersifat praktis dan lebih menekankan pada pemecahan masalah dan kedua adalah yang lebih menekankankan pada konsep dan penyusunan teori.[4]

4. Teori Neurobiologis

Teori ini beranggapan bahwa inteligensi memiliki dasar anatomis dan fisiologi, menurut teori ini dapat di telusuri dasar-dasar neuro-anatomis dan proses neurofisiologis. Maka dari itu aspek anatomi, elektrokimia dan fisiologi adalah yang diperhatikan. Hal ini berdasarkan adanya pola-pola aktivitas elektrik dalam otak yang dipicu stimuli tertentu berkorelasi dengan skor-skor tes IQ. Adalagi yaitu bukti bahwa otak orang cerdas mengonsumsi glukosa (molekul gula sederhana yang dibutuhkan oleh aktivitas otak) lebih sedikit daripada orang yang kurang cerdas (karena otak mereka terlalu bekerja keras).[5]

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi

Faktor faktor yang mempengaruhi inteligensi, antara lain:

  1. Faktor pembawaan : adalah yang ditentukan oleh sifat sifat yang dibawa sejak lahir.
  2. Faktor hereditas : adalah yang diperoleh anak-anak lewat keturunan atau nasab, sebab dalam penelitian Syaich Ma’ruf Zuraiq, separuh dari kecerdasan dan intelegensi anak diperoleh dari kedua orang tuanya.
  3. Faktor kematangan : yang terutama ditentukan oleh usia, misalnya anak usia 7 tahun belum memilki kematangan, sedangkan orang yang lebih dewasa iya.
  4. Faktor pembentukan : yaitu perkembangan yang diperoleh anak karena pengaruh lingkungan.[6]

D. Pengukuran Inteligensi atau tes IQ

Tes kecerdasan memungkinkan kita untuk menghitung  IQ atau Intelegence Quotient seseorang. IQ adalah harga numerik yang memungkinkan kita membuat perbandingan pada tingkat kecerdasan orang-orang. Pada anak-anak IQ dapat dihitung dengan perbandingan antara usia nyata seorang anak dengan usia mentalnya. Usia mental ditentukan denga cara memberi tes IQ kepada beberapa anak yang berbeda usianya dan kemudian rata-rata msing kelompok usia disusun. Seorang anak yang mendapat nilai sama dengan rata-rata nilai bagi kelompok usia delapan tahun tanpa memandang berapa usia anak tersebut sebenarnya. Jelasnya seorang anak yang berusia enam tahun dengan usia mental delapan tahun dikatakan sebagai anak yang cemerlang. Namun sebaliknya bagi seorang anak berusia sepuluh tahun, sekalipun nilai kedua anak tersebut sama. Untuk menyusun nilai IQ digunakan rumus sebagai berikut:

IQ =

Tes IQ pertama kali digunakan secara luas pada awal tahun 1900 ole Alfred Binet sebagai suatu instrument bagi Departemen Pendidikan di Paris. Kegunaan utama Tes Binet ini adalah untuk memilih secara khusus anak-anak yang tidak mungkin mencapai harapan baik di sekolah pada masa itu. Dengan demikian, Tes Binet adalah suatu tes untuk permasalahan keterbelakangan mental.[7]

Adapun tes-tes selain Tes Binet antara lain:

  1. The Wechler Adult Intelligence Scale-Revised (WAIS-R)

Tes ini berisi soal meliputi informasi umum, rentang angka, kosa kata, hitungan, pemahaman, kesamaan dan performansi (gambar-gambar). Tes ini digunakan untuk orang dewasa yang dimaksud untuk digunakan pada subyek yang berusia 16-64 tahun.

2. Test Scholastik

Biasanya calon PNS menggunakan test ini. Test ini bervariatif dan komprehensif karena untuk mengukur kapabilitas dan inteligensi. Test ini meliputi test vebal, aritmetika, dan penalaran logika.

3. Metode klinis

Metode ini dibuat oleh Jean Piaget yang digunakan untuk memelajari perkembangan berfikir dan bahasa anak-anak. Metode klinis ini adalah gabungan antara test pertanyaan dengan tugas observasi. Sekarang metode ini digunakan oleh dokter-dokter di rumah sakit klinik untuk mengetahui atau menentukan penyakit seorang pasien.

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kecerdasan bukanlah suatu benda: boleh jadi ia merupakan keseluruhan jumlah kemampuan yang berbeda-beda, maupun lebih baik ditegaskan sebagai suatu istilah deskriptif yang digunakan bagi perilaku mana yang sesuai dengan lingkungan. Para psikolog menggunakan IQ sebagai definisi operasional dari kecerdasan, nilai IQ menunjukkan perbandingan cara baik antara seorang dengan orang lain di dalam tes-tes yang meliputi pemikiran logis.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Saifuddin. 1999. Pengantar Psikologi Inteligensi. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.

Hardy, Malcom & Heyes, Steve. 1985. Pengatar Psikologi edisi 2. Jakarta: Penerbit Erlangga.

http://word.blogspot. com/makalah%20pengantar%20psikologi/psikologi-konsep-intelegensi

Ishom Achmadi, Mochammad. 2012. Ya Ayyatuha An Nafsu Al Muthmainnah. Jogjakarta: Segera Jaya Offset.

J. Stenberg, Robert. C. Kaufman, James. L. Grigorenko Elena. 2011. Applied Intelligence. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.


[1] Saifuddin Azwar, Pengantar Psikologi Integensi (Jogjakarta:Pustaka Pelajar, 1999) hlm. 1

[2] Robert J S, James C. Kaufman, Elena L. Grigorenko, Applied Intelligence (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2011) hlm. 9

[3] Saifuddin Azwar, op. cit, hlm. 14

[4] Ibid, hlm. 13-14.

[5] Robert J S, James C. Kaufman, Elena L. Grigorenko, op. cit, hlm 9-10.

[6] Moch. Ishom Achmadi, Ya Ayyatuha An Nafsu Al Muthmainnah (Yogyakarta: Segera Jaya Offset, 2012)

[7] Malcom Hardy & Steve Heyes, Pengatar Psikologi edisi 2 (Jakarta: Erlangga, 1985) hlm. 71-72

Makalah Inteligensi Pengantar Psikologi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas
Konten yang anda salin memiliki hak cipta.