Sejarah Peradaban Islam Masa Daulah Utsmaniyah Di Turki

[miniorange_social_sharing]

Sejarah Peradaban Islam Masa Daulah Utsmaniyah Di Turki

KATA PENGANTAR

            Sejarah Peradaban Islam Masa Daulah Utsmaniyah di Turki memang menjadi sorotan besar. Pasang surut sejarah dan liku-liku peradaban telah dilalui kaum muslimin. Ada zaman keemasan dan ada pula zaman yang gelap dipenuhi drama yang memilukan. Makalah ini mungkin tidak ada hubungannya dengan drama TV “Cinta di Musim Cherry” dari Turki, namun cerita dibalik Daulah Utsmaniyah di Turki ini menyimpan cerita yang menarik untuk dipelajari. Terbukti daulah yang terbentang dari India sampai wilayah Balkan di Eropa ini mampu eksis enam abad lamanya. Namun hari demi hari sebuah negeri yang menjadi negara adidaya pada masanya itu bercerai-berai dan bisa diobok-obok oleh negeri kecil semacam Austria dengan dukungan Eropa sehingga mampu mengubah negara adidaya menjadi semacam kakek tua yang sakit-sakitan.

            Sampai sekarang, belum ada generasi muslim yang mampu membangkitkan dan menata kembali puing-puing sejarah umat islam. Sebaliknya, umat islam dinistakan di mana-mana dan mendapat perlakuan sewenang-wenang di berbagai belahan dunia. Semua berawal dari ke-tidakbersenyawa-annya umat islam dengan islam yang menjadi keyakinannya. Wallahu a’lam. Yang pasti, umat islam harus bangkit dari keterlenaan dalam maksiyat dan bangkit serta merajut kembali kiswah peradaban yang telah lama hilang.

            Dengan mempelajari sejarah Daulah Utsmaniyah ini semoga kita mahasiswa muslim bisa merenung, mengambil hikmah dan pelajaran agar menjadi maslahah dalam kehidupan kita dan kita bukanlah umat yang putus dari sejarah islam masa lalu.

Penulis

Mudhofar

BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah

Daulah Utsmaniyah sebagai kerajaan islam yang mempunyai cakupan wilayah paling luas dari kerajaan Islam sebelumnya karena  ekspansi besar-besaran yang dilakukan. Tak hanya itu daulah ini juga menjadi daulah yang berhasil menaklukkan ibu kota Bizantium yaitu Konstantinopel. Hingga daulah ini berlangsung sampai enam abad dan mengalami modernisasi hingga akhirnya khilafah runtuh dan digantikan dengan negara sekuler (agama dipisahkan dari urusan kenegaraan).

Hal ini patut untuk dipelajari oleh mahasiswa apalagi mahasiswa muslim. Dalam makalah ini akan kita temukan awal berdirinya Daulah Utsmaniyah hingga menjadi negara sekuler dengan munculnya Mustofa Kamal Ataturk.

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana kelahiran Daulah Utsmaniyah di Turki?
  2. Bagaimana Daulah Utsmaniyah menaklukkan Kota Konstantinopel?
  3. Bagaimana peradaban islam pada masa Daulah Utsmaniyah?
  4. Bagaimana munculnya Mustofa Kamal Atatürk?

C. Tujuan Penulisan

  1. Mengetahui kelahiran Daulah Utsmaniyah di Turki
  2. Mengetahui bagaimana penaklukkan kota Konstantinopel
  3. Mengetahui peradaban islam pada masa Daulah Utsmaniyah
  4. Mengetahui munculnya Mustofa Kamal Atatürk

BAB II

Pembahasan

A. Kelahiran Daulah Utsmaniyah atau Kerajaan Ottoman di Turki

Pendiri dinasti atau daulah ini adalah bangsa Turki dari kabilah Oghus yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina. Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau kesepuluh, ketika mereka menetap di Asia Tengah. Di bawah tekanan serangan Mongol pada tahun 1242-1243 M, mereka melarikan diri ke daerah barat dan mencari tempat pengungsian di tengah-tengah saudara mereka, orang-orang Turki Saljuk, di dataran tinggi Asia Kecil.

Di bawah pimpinan Ertoghul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin II, Sultan Saljuk yang kebetulan sedang berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin mendapat kemenangan. Atas jasa baik itu, Alauddin menghadiahkan sebidang tanah di Asia Kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syuhud sebagai ibu kota (tahun 1299 M).

Tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Saljuk dan Sultan Alauddin terbunuh. Kerajaan Saljuk Rum ini kemudian terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil. Utsmani kemudian menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah, kerajaan Utsmani dinyatakan berdiri.

Penguasa pertama adalah Utsman yang disebut juga dengan Utsman I. Setelah Usman I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al-Utsman (Raja besar keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M) setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukkan kota Bursa tahun 1317 M, kemudian tahun 1326 M dijadikan sebagai ibu kota kerajaan Turki Utsmani.

Dalam bahasa Turki Utsmani, dinasti ini dikenal dengan nama Devlet-i ʿAliyye-yi ʿOsmâniyye (دَوْلَتِ عَلِيّهٔ عُثمَانِیّه), atau Osmanlı Devleti (عثمانلى دولتى). Dalam bahasa Turki Modern, dinasti ini dikenal dengan sebutan Osmanlı Devleti atau Osmanlı İmparatorluğu. Di sejumlah tulisan Barat, nama “Ottoman” dan “Turkey” dipakai bergantian.

Pada masa pemerintahan Orkhan (1326-1359 M) Turki Utsmani dapat menaklukkan Azumia (1327 M), Tasasyani (1330 M), Uskandar (1328 M), Ankara (1354 M), Gallipoli (1356 M). Daerah ini adalah bagian bumi Eropa yang pertama kali diduduki kerajaan Utsmani.

Ketika Murad I berkuasa (1359-1389 M) selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa. Ia dapat menaklukan Adrianopel (lalu diganti namanya menjadi Edirne), Macedonia, Sopia, Salonia dan seluruh wilayah bagian utara Yunani termasuk juga Serbia pada saat perang kossovo 1389 M. Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, Paus mengobarkan untuk memukul mundur Turki Utsmani. Pasukan ini dipimpin oleh Sijisman, raja Hongaria. Namun Sultan Bayazid I (1389-1403 M) pengganti Murad I dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa tersebut. Peristiwa ini merupakan catatan sejarah yang sangat gemilang bagi umat Islam.

Seiring meluasnya kekuasaan Turki di Balkan, penaklukan strategis Konstantinopel menjadi tugas penting. Kesultanan ini mengendalikan nyaris seluruh bekas tanah Bizantium di sekitar kota, namun warga Yunani Bizantium sempat luput ketika penguasa Turk-Mongolia Tamerlane (Timurlenk) menyerbu Anatolia dalam Pertempuran Ankara tahun 1402. Ia menangkap Sultan Bayezid I. Penangkapan Bayezid I menciptakan kekacauan di kalangan penduduk Turki. Negara pun mengalami perang saudara yang berlangsung sejak 1402 sampai 1413 M karena para putra Bayezid memperebutkan takhta. Perang berakhir ketika Mehmet I naik sebagai sultan dan mengembalikan kekuasaan Utsmaniyah. Dalam kepemimpinannya wilayah-wilayah yang lepas disatukan kembali juga ia berhasil menjadikan pemerintahan Utsmani kembali menjadi suatu umat yang terpandang dari sisi akidah, agama, akhlak dan jihad. Sepeninggal Mehmet I pucuk pimpinan Utsmaniyah diberikan kepada putranya yaitu Murod II.

B. Penaklukkan Kota Konstantinopel

            Konstantinopel adalah ibu kota Bizantium dan dianggap sebagai salah satu kota terpenting di dunia. Kota ini pernah disebutkan dalam hadits riwayat Imam Ahmad ibn Hanbal:

– حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ: وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ، قَالَ: حَدَّثَنِي الْوَلِيدُ بْنُ الْمُغِيرَةِ الْمَعَافِرِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بِشْرٍ الْخَثْعَمِيُّ، عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ، فَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا، وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ» . قَالَ: فَدَعَانِي مَسْلَمَةُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ فَسَأَلَنِي، فَحَدَّثْتُهُ، فَغَزَا الْقُسْطَنْطِينِيَّةَ

            Artinya: “Abdullah ibn Muhammad ibn Abi Syaibah meriwayatkan padaku, Abdullah ibn Ahmad berkata: Aku mendengarnya dari Abdillah ibn Muhammad ibn Abi Syaibah, ia berkata: Zaid ibn Al-Hubab meriwayatkan padaku, ia berkata: Walid ibn Al-Mughiroh al-Ma’afiriy, ia berkata: Abdullah ibn Bisyr al-Khots’amiy meriwayatkan padaku dari ayahnya bahwasanya ia mendengar Nabi shollallahu alaihi wa sallama bersabda: Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan (ke tangan islam), pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin. Dan pasukan (yang ada dibawah komandonya) adalah sebaik-baik pasukan.(HR. Ahmad Ibn Hanbal)”

            Dalam hadits tersebut Kota Konstantinopel diprediksikan akan ditaklukkan oleh umat muslim. Padahal masa penaklukkan kota ini dengan masa Nabi terentang ratusan tahun lamanya. Subhanallah. Dahulu Sulthon Yazid ibn Muawiyah pernah memerangi kota Konstantinopel, namun kota ini gagal dikuasai. Banyak Shohabat terkenal yang mengikuti perang ini diantaranya adalah Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair dan Abu Ayyub al-Anshori. Abu Ayyub al-Anshori wafat pada perang tersebut dan dimakamkan di dekat benteng kota Konstantinopel. Berulang-ulang kali terjadi penyerangan di kota ini semenjak Dinasti Umayah hingga Abbasyiyah namun belum ada yang berhasil.

Sultan Mehmet II atau Muhammad al-Fatich (Sultan Utsmani ke-7) adalah sultan yang berhasil menaklukkannya. Dalam pertempuran tersebut putra Murad II ini menyiapkan lebih dari 4 juta prajurit yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan yang berlangsung tidak kurang dari 40 hari itu, benar-benar menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka.

Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak mula. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas (Golden Horn). Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.

Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosporus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi. Namun Sultan Muhammad melakukannya dengan cara yang lebih cerdik, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.

Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.

Peperangan dahsyat pun terjadi, benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin. Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M.

Dalam pertempuran itu Kaisar mati terbunuh dan Konstantinopel jatuh ke tangan Utsmani. Sultan Muhammad II memasuki kota kemudian mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambul (yang berarti negara Islam) dan berubah menjadi Istambul, dan menjadikannya sebagai ibu kota. Sultan mengubah gereja Aya Sophia menjadi masjid dan disamping itu, ia membangun masjid dengan nama masjid Muhammad sebagai peringatan bagi keberhasilannya dalam menundukkan kota itu.

Dengan jatuhnya Konstantinopel, pengaruhnya sangat besar bagi Turki Utsmani. Konstantinopel adalah kota pusat kerajaan Bizantium yang menyimpan banyak ilmu pengatahuan dan menjadi pusat agama Kristen Ortodoks. Kesemuanya itu diwariskan kepada Utsmani. Dari segi letak kota itu sangat  strategis karena menghubungkan dua benua secara langsung, Eropa dan Asia. Penaklukan kota ita itu memudahkan mobilisasi pasukan dari Anatolia ke Eropa.

C. Peradaban Islam Masa Daulah Utsmaniyah atau Kerajaan Ottoman

Suku-suku Turk mempraktikkan macam-macam bentuk shamanisme sebelum memeluk Islam. Dalam tradisi masyarakat Turki, agama merupakan sebuah faktor penting dalam transformasi sosial dan politik seluruh masyarakat. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Ulama memiliki peranan penting dalam kerajaan dan masyarakat. Mufti sebagai pejabat urusan agama tertinggi berwenang memberi fatwa resmi terhadap problema keagamaan yang dihadapi masyarakat. Tanpa legitimasi Mufti, keputusan hukum kerajaan bisa tidak berjalan.

Kehidupan keagamaan pada masyarakat Turki Utsmani mengalami kemajuan, termasuk dalam hal ini adalah kehidupan tarekat. Tarekat yang berkembang ialah tarekat Bektasyi dan tarekat Maulawi. Kedua tarekat ini banyak dianut oleh kalangan sipil dan militer. Tarekat Bektasyi memiliki pengaruh yang sangat dominan di kalangan Yenisseri, sehingga mereka sering disebut tentara Bektasyi. Sementara tarekat Maulawi mendapat dukungan dari para penguasa dalam mengimbangi Yenisseri Bektasyi.

Kajian mengenai ilmu-ilmu keagamaan Islam, seperti fiqh, ilmu kalam, tafsir dan hadis boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para penguasa lebih cenderung untuk menegakkan satu faham (mazhab) keagamaan dan menekan mazhab lainnya. Sultan Abdul Hamid misalnya, begitu fanatik terhadap aliran Al-Asy’ariyah. Ia merasa perlu mempertahankan aliran tersebut dari kritikan aliran lain. Sultan memerintahkan kepada Syaikh Husein Al-Jisr Ath-Tharablusi menulis kitab Al-Husun Al-Hamidiyah (benteng pertahanan Abdul Hamid), yang mengupas tentang masalah ilmu kalam, untuk melestarikan aliran yang dianutnya. Akibat kelesuan di bidang ilmu keagamaan dan fanatik yang berlebihan maka ijtihad tidak berkembang. Ulama hanya menulis buku dalam bentuk syarah (penjelasan) dan hasyiyah (semacam catatan) terhadap karya-kayUlama hanya menulis buku dalam bentuk syarah (penjelasan) dan hasyiyah (semacam catatan) terhadap karya-karya klasik.

Sementara itu, di Kesultanan Utsmaniyah, sesuai sistem zimmi Islam, umat Kristen diberi kebebasan terbatas (seperti hak beribadah), namun diperlakukan seperti warga kelas dua. Umat Kristen dan Yahudi tidak dianggap setara dengan Muslim. Kesaksian melawan terdakwa Muslim oleh seorang Kristen dan Yahudi tidak dianggap sah di pengadilan. Mereka dilarang membawa senjata atau menunggangi kuda, rumah mereka tidak boleh menghadap rumah Muslim, dan praktik ibadahnya harus berbeda dengan praktik ibadah Islam Selain itu masih banyak batasan-batasan legal lainnya.

            Bagaimanapun, kerajaan Turki Utsmani banyak berjasa, terutama dalam perluasan wilayah kekuasaan Islam ke benua Eropa. Ekspansi kerajaan ini untuk pertama kalinya lebih banyak ditujukan ke Eropa Timur yang belum masuk dalam wilayah kekuasaan dan agama Islam. Akan tetapi, kerana dalam bidang peradaban dan kebudayaan di bawah kemajuan politik, maka negeri-negeri yang sudah ditaklukkan itu akhirnya melepaskan diri dari kekuasaan pusat dan perjalanan dakwah belum berhasil dengan maksimal.

D. Munculnya Mustofa Kamal Atatürk

            Sultan terakhir dari Daulah Utsmaniyah adalah Sultan Abdul Hamid II. Bagaimana khilafah di Turki berakhir bermula dari penghapusan khilafah dalam konggres besar di Perancis tanggal 4-9 Februari 1902. Banyak pihak yang terlibat dalam menggulingkan Sultan Abdul Hamid II diantaranya Theodore Herlz yang pernah meminta Turki Utsmani menyerahkan Palestina namun ditolak. Kemudian organisasi dalam negeri juga ikut andil besar seperti “Pemuda Turki” dan “Persatuan dan Pembangunan” yang diprakarsai oleh Akademi Militer bidang kedokteran. Sebenarnya setelah Abdul Hamid II diturunkan yang memangku khilafah adalah saudaranya yang bernama Muhammad Rasyad, hanya saja pada hakikatnya ia tak memiliki kekuasaan apa-apa, karena kekuasaan pemerintah dipegang orang-orang Persatuan dan Pembangunan.

Mustafa Kemal lahir pada 1881 M di suatu daerah di Salonika. Sering dikenal dengan nama Mustafa Kemal Pasya atau Mustafa Kemal Atatürk (Bapak Bangsa Turki). Beliau juga mendapat julukan Ghazi, artinya sang pembela keyakinan. Julukan ini diberikan ketika beliau dengan gemilang membawa Turki kepada kemenangan dalam perang kemerdekaan melawan Yunani, Mustafa Kemal dielu-elukan dan dipanggil dengan gelar kehormatan Ghazi. Ayahnya bernama Ali Riza, seorang juru tulis rendahan di salah satu kantor pemerintahan di kota itu. Beliau sempat mencoba lari dari kemalangan hidupnya dengan cara menegak racun. Sedangkan Ibunya bernama Zubayde, seorang wanita sholihah. Ali Riza meninggal saat Mustafa Kemal berusia tujuh tahun sehingga ia kemudian diasuh oleh ibunya.

Sejak kecil, Mustafa Kemal memiliki bakat untuk selalu memberontak terhadap segala keadaan yang tidak berkenan di hatinya. Ia secara brutal menentang peraturan apapun. Bahkan, tanpa malu-malu ia sering memaki-maki gurunya saat bersekolah. Sehingga suatu hari pernah ditampar salah satu gurunya karena sang guru sudah kehilangan kesabaran menghadapi perilaku Mustafa Kemal. Dan akibatnya, Mustafa Kemal kecil lari dan tidak mau masuk sekolah lagi.

Mustafa kecil juga terkenal arogan dalam bergaul. Ia tidak mau sembarangan dalam memilih kawan. Akhirnya, ibunya mengirim dia ke sekolah militer, sehingga riwayat pendidikan Mustafa Kemal dimulai tahun 1893 ketika ia memasuki sekolah Rushdiye (Sekolah Menengah Militer Turki). Tahun 1895 ia masuk ke akademi militer di Kota Monastir dan pada tanggal 13 maret 1899 ia masuk ke sekolah ilmu militer di Istambul. Tahun 1902 ia ditunjuk sebagai salah satu staf pengajar dan pada bulan Januari 1905 ia lulus dengan pangkat Kapten. Perjuangan Mustafa Kemal mewujudkan pembaharuan untuk kemajuan Turki penuh liku, dan mencapai klimaksnya ketika ia menjadi Presiden Republik Turki. Bangsa Eropa mengakui Republik Turki yang ditandai oleh Perjanjian Lausanne pada tahun 1923. Mustafa Kemal meninggal dunia tahun 1938.

Setelah perang dunia I, Mustafa kemal diangkat menjadi panglima militer di Turki Selatan untuk merebut Izmir dari tentara sekutu dan berhasil memukul mundur tentara sekutu dan menyelamatkan Turki dari penjajahan  Barat. Pada saat itu Sultan di Istanbul berada di bawah kekuasaan sekutu yang harus menyesuaikan diri dengan mereka, Kemudian ia mendirikan pemerintahan tandingan di Anatolia dengan mengatakan kemerdekaan negara dalam keadaan bahaya, rakyat Turki harus berusaha sendiri membebaskan tanah air dari kekuatan asing, sultan tidak menjalankan pemerintahan dan segera mengadakan kongres.

Kemudian ia  mendeklarasikan diri sebagai berikut:

  1. Kemerdekaan tanah air dalam keadaan bahaya
  2. Sultan tidak dapat menjalankan pemerintahan karena berada di bawah kekuasaan sekutu.
  3. Rakyat Turki harus berusaha sendiri untuk membebaskan tanah air dari kekuasaan asing.
  4. Gerakan pembela tanah air harus dikoordinir oleh panitia nasional.
  5. Untuk merealisasikan hal-hal tersebut perlu diadakan kongres.

Dengan pernyataan tersebut Mustafa kemal  dipecat dari jabatan panglima oleh Sultan. Kemudian ia berkiprah di dunia politik menjadi ketua perwakilan rakyat yang mengamanatkan Turki harus merdeka dari kungkungan asing, dan pada tahun 1920 terpilih menjadi ketua Majlis Nasional Agung (MNA) di Ankara.

Mustafa Kemal memproklamirkan Republik Turki pada 29 Oktober 1923 dengan membentuk negara  modern didasarkan kepada kekecewaan yang amat mendalam terhadap sistem kekhalifahan sebelumnya yang dianggap gila dan dibangun atas sendi-sendi keagamaan yang rapuh. Peraturan dan pengadilan agama kuno segera digantikan dengan hukum perdata yang modern dan ilmiah, begitu juga sekolah agama harus diserahkan kepada pemerintah sekuler.

Arnold Toynbee dalam bukunya “Mainkind and Mother Earth” (terjemah Sejarah Umat Manusia), menyebutkan  Ataturk memimpin rakyat Turki bukan hanya untuk  memenangkan perang demi mempertahankan kelangsungan hidup mereka, tetapi juga untuk melakukan westernisasi yang revolusioner guna melanjutkan apa  yang telah dirintis oleh Mahmud II. Lebih Jauh Arnold membandingkan Ataturk seperti Lenin di Rusia sebagai intelezensia yang menumbangkan rezim yang membentuk kelas ini di negaranya, terutama dalam menggunakan kekerasan untuk menuntaskan pekerjaan penting ini.

Salah satu bukti penghapusan kekhalifahan yaitu menghapus kementerian syariah dan waqaf dan menyatukan sistem pendidikan di bawah kementerian pendidikan lahirnya Undang-undang yang disetuhui Dewan Nasional Agung Turki pada tanggal 3 Maret 1924.

Tujuan akhir Mustafa Kemal dengan reformasi berupa westernisasi adalah membawa Turki berbaris bersama dengan peradaban Barat, bahkan berusaha mencuri satu langkah mendahului peradaban Barat. Rangkaian kebijakan pembaharuan Mustafa Kemal berperinci kepada: nasionalisme, sekularisme, westernisme.

Ide Nasionalisme dalam pemikiran Mustafa Kemal ialah nasionalisme Turki yang terbatas daerah geografisnya dan bukan ide nasionalisme yang luas, yakni diilhami oleh Ziya Gokalp (1875-1924) yang menyerukan reformasi Islam untuk menjadikan Islam sebagai ekspresi dari etos Turki. Dalam pemahaman Mustafa Kemal, Islam yang berkembang di Turki adalah Islam yang telah disatukan dengan budaya Turki, sehingga ia berkeyakinan bahwa Islam dapat diselaraskan dengan dunia modern. Namun turut campurnya Islam dalam segala aspek kehidupan pada bangsa dan agama akan menghambat Turki untuk maju.

Atas dasar itu, Mustafa Kemal berpendapat bahwa agama harus dipisahkan dari negara. Islam tidak perlu menghalangi Turki mengadopsi peradaban barat sepenuhnya, termasuk merubah bentuk negara. Pada permulaan di dirikannya Republik Turki, Mustafa Kemal berpendapat bahwa pemerintah nasional harus didasarkan pada prinsip pokok kerakyatan. Ini berarti, kedaulatan dan semua kekuatan administrasi harus langsung diberikan kepada rakyat. Konsekuensi logis dari prinsip tersebut adalah dihapusnya sistem kekhalifahan.

Kedua Sekulerisme, sekulerisasi yang dijalankan oleh Mustafa Kemal tidak serta merta menghilangkan agama dari rakyat Turki, namun hanya melakukan pembatasan kekuasaan golongan ulama dalam soal negara dan politik. Oleh karena itu, pembentukan partai yang berdasarkan agama dilarang, institusi-institusi negara, sosial, ekonomi, hukum, politik, dan pendidikan harus dibebaskan dari kekuasaan syari’ah. Menurut Mustafa Kemal, sekulerisme bukan saja memisahkan masalah bernegara (legislatif, eksekutif, dan yudikatif) dari pengaruh agama melainkan juga membatasi peranan agama dalam kehidupan orang Turki sebagai suatu bangsa, karena menurut beliau bahwa indikasi ketinggian suatu peradaban terletak pada keseluruhannya, bukan secara parsial. Peradaban Barat dapat mengalahkan peradaban-peradaban lain bukan hanya karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya, tetapi karena keseluruhan unsurnya. Dan sekulerisasilah yang menimbulkan peradaban yang tinggi itu. Sehingga, Mustafa Kemal berpendapat jika rakyat Turki ingin mempunyai peradaban tinggi harus melakukan sekulerisasi.

Ketiga Westernisme, dalam hal ini Mustafa Kemal berpendapat bahwa Turki harus berorientasi ke Barat. Ia melihat bahwa dengan meniru barat Negara Turki akan maju. Ungkapan yang digunakan oleh Mustafa Kemal, “Kita (bangsa Turki) harus bergerak bersama zaman.” Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk memajukan rakyat Turki adalah dengan melakukan reformasi berupa modernisasi yakni suatu upaya untuk mengubah wajah Turki secara total dengan menerapkan nilai-nilai modern yang progresif dan meninggalkan segala hal yang dipandang kaku, kolot, tradisional dan berbau Utsmaniyah. Kemal berkeyakinan hanya dengan jalan itu rakyat Turki akan makmur dan dihormati oleh bangsa-bangsa lain.

Secara bertahap namun pasti, Mustafa Kemal melakukan pembaharuan. Kebijakan-kebijakan Mustafa Kemal diantaranya:

  1. Undang-undang tentang unifikasi dan sekulerisasi  pendidikan tanggal 3 maret 1924.
  2. Undang-Undang tentang kopiah tanggal 25 November 1925.
  3. Undang-undang tentang pemberhentian petugas jamaah dan makam, penghapusan lembaga pemakaman tanggal 30 November 1925.
  4. Peraturan sipil tentang perkawinan tanggal 17 Februari 1926.
  5. Undang-undang penggunaan huruf latin untuk bajad Turki dan penghapusan tulisan Arab tanggal 1 November 1928.
  6. Undang-undang tentang larangan penggunaan pakaian asli tanggal 13 Desember 1934.

Gerakan modernisasi dan westernisasi di Turki yang dilakukan Mustafa Kemal menurut Komarudin Hidayat pada dasarnya bukanlah anti Islam, akan tetapi mengadakan rasionalisasi agama agar agama menjadi kekuatan penopang bagi kemajuan Turki. Pembaharuan yang dilakukan Kemal adalah:

  1. Pemisahan antara pemerintahan dengan agama yang diterima Majelis Nasional Agung tahun 1920.
  2. Kedaulatan Turki tidak berada di tangan sultan tetapi di tangan rakyat.
  3. Jabatan khalifah dipertahankan, tetapi hanya memiliki kewenangan spiritual.
  4. Khalifah Wahid al-Din dipecat dari jabatan karena bersekutu dengan Inggris dan digantikan oleh Abdul Majid.
  5. Merubah bentuk negara dari khilafah menjadi republik dan Islam menjadi agama negara.
  6. Karena khalifah mengadakan pembangkangan dan melahirkan dualisme kepemimpinan, 3 Maret 1924 khalifah dihapus.
  7. Turki mendeklarasikan sebagai negara sekuler dengan menghapus Islam sebagai agama negara tahun 1937.

Sungguh pun demikian, kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Mustafa Kemal yang sangat radikal tersebut telah mengundang sejumlah reaksi. Reaksi yang paling keras ditunjukkan oleh kalangan Islam konservatif. Gerakan sekulerisasi Turki oleh Mustafa Kemal berakhir seiring dengan meninggalnya beliau. Proses sekulerisasi sempat dilanjutkan oleh Ismet Inonu, seorang Presiden pengganti Mustafa Kemal.

Walaupun demikian, rakyat Turki tetaplah rakyat Turki, yang tidak bisa menggoyahkan akar Islam yang sudah terpatri dalam hati mereka. Memang secara politis, Negara Turki mempunyai pandangan bahwa mereka adalah bagian yang tak terpisahkan dari peradaban barat, tapi secara kultural mereka tetap mempertahankan jati diri mereka yang tak bisa terlepas dari Islam.

Walaupun Turki dinyatakan sebagai negara sekuler, Islam tetap berakar kuat di hati masyarakat Turki. Ini terbukti para petani yang hidup di pedesaan yang merupakan tiga perempat dari seluruh penduduk Turki tetap merupakan orang-orang muslim yang shaleh. Pengaruh Islam juga masih terlihat pada kaum buruh dan pedagang-pedagang kecil. Hal ini membuktikan bahwa sekulerisasi tidak tumbuh subur di masyarakat Turki yang punya akar keIslaman yang kuat.

BAB III

Penutup

A. Kesimpulan

            Daulah Utsmaniyah berdiri pada tahun 1299 M dan berakhir pada tahun 1909 M dengan Sultan pertama Utsman I dan kholifah terakhir Abdul Hamid II. Penaklukkan Kontantinopel terjadi pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H/29 Mei 1453 M.  Dari segi peradaban banyak muncul gerakan sufistik semasa Daulah Utsmaniyah, serta tentu saja perluasan wilayah sampai ke Eropa. Mustafa kamal Ataturk muncul sebagai Presiden bagi Republik Turki menggantikan Daulah Utsmaniyah yang sudah dimusnahkan.

Daftar Pustaka

Ash-Sholabi, Ali Muhammad. 2004. Bangkit & Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Utsmaniyah. Akses: 16 September 2015 21:11.

http://kisahmuslim.com/muhammad-al-fatih-penakluk-konstantinopel/. Post: 18 maret 2014. Akses: 16 September 2015 21:29.

http://ellypuspitasari.blogspot.co.id/2014/02/peradaban-islam-pada-masa-dinasti-turki.html. Post: 25 Februari 2014 18:40. Akses: 16 September 2015 19:30

http://banyugroup.blogspot.co.id/2011/10/makalah-gerakan-kebangkitan-dan.html. Akses: 16 September 2015 15:15.

Ibnu Hambal, Ahmad. 2001. Musnad Ahmad Mukhrojan. Muassasatur Risalah.

Qosim, Hamzah Muhammad. 1990. Manarul Quro Syarh Mukhtashor Shohihul Bukhori. Damaskus: Maktabah Darul Bayan.

Ruthven, Malise & Nanji, Azim. 2004. Historical Atlas of Islam. Harvard University Press.

Sejarah Peradaban Islam Masa Daulah Utsmaniyah Di Turki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas
Konten yang anda salin memiliki hak cipta.