Download Kitab Jami’u ad-Durus al-Arabiyah PDF File Size 18.9 Mb

Jami’u ad-Durus al-Arabiyah PDF

Download Jami’u ad-Durus al-Arabiyah PDF cover

Kitab ini terdiri dari tiga bagian/juz dan dua belas bab mengenai kaidah shorof maupun kaidah nahwu. Download Jami’u ad-Durus al-Arabiyah PDF.

Judul Kitab Jami’u ad-Durus al-Arabiyah
Pengarang KitabSyaikh Mushthafa al-Ghalayini
KategoriTata Bahasa Arab, Gramtika Bahasa Arab (Kaidah Nahwu, Sharaf, Balaghah, Arudl)
Ukuran File18.9 Mb
Jenis FilePDF (Portable Document Format)

Untuk mengunduh Jami’u ad-Durus al-Arabiyah PDF silahkan klik tombol di bawah ini

Sekilas Pengarang

Nama lengkap pengarang adalah Mushthafa ibn Muhammad Salim al-Ghalayini (1303-1364 H/1886-1944 M), beliau seorang ahli bahasa dan penyair. Beliau lahir dan wafat di Kota Beirut. Di kota tersebut pula, beliau belajar, begitu juga dengan Kota Mesir. Salah satu gurunya bernama Syaikh Muhammad Abduh (1320 H).

Selain Jami’u ad-Durus al-Arabiyah, kitab-kitab yang beliau karang antara lain: Nadhrat fi al-Lughah wa al-Adab, ‘Idhat an-Nasyiin, Lubab al-Khiyar fi Sirat an-Nabiy al-Mukhtar, Khiyar al-Maqul fi Sirat ar-Rasul, al-Islam Ruh al-Madinah, Nadhrat fi Kitab as-Sufur wa al-Hijab, ats-Tsuraya al-madliyyah fi ad-Durus al-‘Arudliyah, Arij az-Zahr, Rijal al-Mu’alliqat al-‘Asyr, dan Diwan al-Ghalayini.

Pengaruh pemikiran Muhammad Abduh terhadap Syeikh Mushthafa al-Ghalayini dalam kitab Idhat An-Nasyiin terlihat gaya penulisan dalam isi kitab ini. Kontribusi pembaharuan pemikiran Muhammad Abduh yang bersifat rasional sangat kentara dalam kitab ini. Hal tersebut sangat kentara dalam pembahasan tentang pembaharuan, kemerdekaan, rakyat dan pemerintah, yang menekankan pada kebebasan berpikir, berpendapat, dan bernegara. Pemikiran Muhammad Abduh yang juga sangat jelas mempengaruhi pemikiran Syeikh Mustafa Al-galayaini dalam hal ini dijelaskan pentingnya seseorang memiliki sifat tawakkal. Dalam konteks ini, Muhammad Abduh menyatakan bahwa terdapat dua ketentuan yang sangat mendasari perbuatan manusia, yaitu: pertama, manusia melakukan perbuatan dengan gaya kemampuannya. Kedua, kekuasaan Allah adalah tempat kembali semua yang terjadi (Sucipto, 2003: 152)

Disamping itu, Muhammad Abduh juga mempengaruhi pemikiran Syeikh Mushthafa al-Ghalayani dalam hal gagasan dan gerakan pembaharuannya yang menampakkan modernis puritanis. Muhammad Abduh adalah sorang reformis yang toleran, liberal dan kaya akan gagasan modern. Tapi disatu sisi, Muhammad abduh dilihat sebagai seorang alim, mujtahid, dan penganjur doktrin orisinalitas Islam (Sucipto,2003: 153).

Kemudian setelah menamatkan pendidikan di Universitas al-Azhar Kairo, beliau kembali lagi ke Beirut dan aktivitasnya tiada lain adalah mengamalkan seluruh ilmu yang telah didapatkan di Kairo tersebut. Beliau aktif mengajar di beberapa Universitas, diantaranya adalah Universitas Umari, Maktab Sulthani, Sekolah Tinggi Usmani, dan Sekolah Tinggi Syariah lainnya (al-Ghalayaini, 2002: 4).

Selain aktif sebagai pengajar beliau juga sangat berminat menggeluti dunia penerbitan. Beliau menerbitkan majalah Nibrasy di Beirut dan berpartisi aktif dalam dunia perpartaian, yakni dengan bergabungnya beliau kepada kelompok Hizb al Ittihad al-Taraqqi (Pertai Persatuan Pembangunan). Tapi, tidak berapa kemudian beliau mengundurkan diri dari keterlibatnya di partai tersebut dan bergabung dengan Hizb al-I’tilaf (Partai koalisi). Sama seperti di partai sebelumnya, atas ketidak sepahaman pendapat dengan golongan elit terpelajar yang bergabung dengan partai itu, beliau lagi-lagi mengulangi keputusannya untuk menarik diri. Menurutnya kejelekan mereka adalah terlalu mengabdikan diri kepada pemimpin keagamaan tradisional yang cenderung sektarian dan non-egaliter. Partai-partai politik yang ada juga tidak dapat diterimanya karena mereka cenderung akomodatif hanya terhadap salah satu kelompok saja dan tidak aspiratif serta mau berjuang dan membela masyarakat umum. Hal inilah yang mendorong Syeikh Musthafa Al-Ghalayini beserta para intelektual lainya dengan gagasan, visi dan misi yang sama terketuk untuk membentuk partai baru yang disebut dengan Hizb-al-Islah (Partai Reformasi), Maka sesuai namanya partai ini lebih beriontasi kepada perjalanan Islam yang bernuansa reformis dan modernis serta membela hak-hak orang yang tertindas dan mewujudkan masyarakat umum (Kahalah, 1993: 881).

Setelah sekian lama berkecimpung dalam percaturan partai politik, beliau kemudian oleh pemerintah diangkat menjadi orator (ahli pidato) untuk mendampingi pasukan Ustmani IV pada perang dunia pertama. Beliau juga menyertainya dalam perjalanan dari damaskus menyebrangi gurun menuju Terusan Zues dari Arah Isma’iliyah, dan ikut hadir di medan perang walaupun kemudian mengalami suatu kekalahan.

Beberapa peristiwa yang melingkupi perjalanan karir beliau, baik yang berkaitan dengan dunia politik dan perang telah memberikan pelajaran sangat berarti bagi diri al-Ghalayaini. Berdasarkan keinginan yang kuat untuk mengbdikan diri kepada dunia pendidikan, beliau lagi-lagi ke Beirut dan aktif sebagai tenaga pengajar. Di sela-sela kesibukannya sebagai tenaga edukatif, beliau mendapatkan kepercayaan dari pemerintah yang waktu itu negara berada di bawah pemerintahan raja Faisal untuk mengunjungi kota Damaskus, dan disana beliau diangkat sebagai pegawai di kantor administrasi keamanan publik sekaligus juga sebagai tenaga sukarela pada tentara arab.

Di tahun berikutnya kembali ke Beirut, lalu dengan tanpa alasan yang jelas beliau ditahan oleh pemerintah, tapi tidak lama kemudian beliau dibebaskan. Sebagai seorang yang suka berkelana dan menjelajah dari suatu kota ke kota lainya yang masih dalam lingkup tanah Arab, beliau kemudian pergi ke Jordania Timur disana diangkat sebagai pengasuh dua anak Amir Abdullah dan menetap dalam waktu yang tidak lama.

Perjalanan ke Jordania Timur membuatnya tidak betah berlama-lama di negeri orang, lalu kembali lagi ke Beirut. Tapi sesampainya di Beirut bukan malah mendapatkan suatu penyambutan yang meriah, melainkan suatu penahanan yang dilakukan oleh otoritas Prancis yang sudah lama berada di tanah Beirut untuk kemudian diasingkan ke Negara palestina dan selanjutnya menetap di daerah Haifa.

Setelah dibebaskan dari pengasingannya dan menghirup kembali alam bebas, beliau berniat kembali ke tanah kelahiranya, yaitu Beirut. Beliau ternyata masih mendapat kepercayaan dari rakyat untuk memangku beberapa jabatan sekaligus, di antaranya adalah beliau diangkat sebagai kepala Majelis Islam, hakim Syari’ah serta penasehat pada Mahkamah Banding Syari’ah Sunni sekaligus terpilih sebagai anggota dewan keilmuan Damaskus. Beliau wafat dibeirut pada tanggal 17 Februari 1945 tepat diusianya yang ke 59 tahun (Kahalah, 1993: 881).

Bagaimana Cara Membuka File PDF di Windows?

Sumatra PDF adalah sebuah software gratis untuk membaca PDF, ePub, MOBI, CHM, XPS, DjVu, CBZ, CBR untuk Windows baik 64 atau 32 bit. Anda bisa medownload langsung di situs resminya https://www.sumatrapdfreader.org/ . Software ini sangat ringan sekali dibandingkan software sejenis, sehingga tidak memberatkan kinerja RAM laptop Anda. Selain itu ia juga tidak hanya bisa membaca file PDF, namun juga bisa membaca file-file yang lain seperti ePub, MOBI, CHM, XPS, DjVu, CBZ, dan CBR. Sumatra PDF merupakan software yang sangat powerful, ringan dan open source.

Tinggalkan Komentar