Isim Maushul Musytarak

Isim maushul musytarak adalah isim maushul yang lafadhnya hanya satu dan digunakan untuk mufrad, mutsanna, jama’, mudzakkar dan muannats sekaligus.

Yang termasuk isim maushul musytarak antara lain:

  1. مَنْ
  2. مَا
  3. ذَا
  4. أَيُّ
  5. ذُوْ

Pembahasan Isim Maushul ‘مَنْ’ dan ‘مَا’

Isim mauhul ‘مَنْ’ digunakan untuk yang berakal (al-aqil) namun terkadang ia juga digunakan untuk yang tidak berakal (ghair al-aqil). Hal terebut terjadi pada tiga tempat:

  1. Ghair al-aqil ditempatkan pada tempatnya al-aqil. Contohnya yaitu firman Allah swt sebagai berikut:

وَمَنۡ اَضَلُّ مِمَّنۡ يَّدۡعُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ مَنۡ لَّا يَسۡتَجِيۡبُ لَهٗۤ اِلٰى يَوۡمِ الۡقِيٰمَةِ وَهُمۡ عَنۡ دُعَآٮِٕهِمۡ غٰفِلُوۡنَ‏

“Dan siapakah orang yang lebih sesat daripada orang-orang yang menyembah (sembahan) selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?” (Al-Ahqaaf: 5).

Isim maushul pada “مَنۡ لَّا يَسۡتَجِيۡبُ لَهٗۤ” pada ayat di atas adalah sesembahan selain Allah (berhala-berhala) yang tidak berakal. Namun ia menempati tempatnya yang berakal.

Dan juga perkataan imru’u al-qais dalam bait syair bahr thawil sebagai berikut:

أَلَا عِمْ صَبَاحًا, أَيُّهَا الطَّلَلُ الْبَالِيْ     وَهَلْ يَعِمَنْ مَنْ كَانَ فِي الْعُصُرِ الْخَالِيْ

Hei, Nikmatilah Pagi (Selamat pagi) Wahai Reruntuhan rumah yang kuno

Apakah merasa nikmat sesuatu yang berada di zaman yang lalu?

Isim maushul pada “مَنْ كَانَ فِي الْعُصُرِ الْخَالِيْ” adalah reruntuhan rumah yang digambarkan seperti orang yang berakal karena tidak mungkin benda mati memiliki perasaan gembira atau sedih seperti makhluk yang berakal.

Contoh lainnya yaitu perkataan al-Abbas ibn al-Ahnaf dalam bait syair bahr thawil sebagai berikut:

بَكَيْتُ عَلَى سِرْبِ الْقَطَا إِذْ مَرَرْنَ بِيْ     فَقُلْتُ وَمِثْلِيْ بِالْبُكَاءِ جَدِيْرُ

أَسِرْبَ الْقَطَا هَلْ مَنْ يُعِيْرُ جَنَاحَهُ     لَعَلِّيْ إِلَى مَنْ قَدْ هَوَيْتُ أَطِيْرُ

“Aku menangisi sekawanan burung merpati tatkala mereka melintas dihadapanku, dan akupun bergumam: orang seperti diriku memang layak untuk menangis. Wahai kawanan burung merpati, Adakah diantara kalian yang sudi untuk meminjamkan sayapnya kepadaku, agar aku dapat terbang tuk menemui kekasih yang kucintai.”

Isim maushul pada “مَنْ يُعِيْرُ جَنَاحَهُ” adalah burung merpati yang ditempatkan seperti makhluk berakal dengan mengajak bicara dengannya dan meminta ia meminjamkan sayapnya.

  1. Ghair al-aqil bergabung bersama al-aqil dalam satu hukum. Contohnya yaitu firman Allah swt sebagai berikut:

أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ

“Lalu apakah (Allah) yang menciptakan itu seperti yang tidak menciptakan?”. (an-Nahl: 17).

Manusia, malaikat, berhala dan seluruh ciptaan Allah – baik yang berakal maupun yang tidak – bersekutu di dalam “مَنْ لَا يَخْلُقُ”.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud siapa yang ada di langit dan yang di bumi”. (al-Hajj: 18)

Makhluk-makhluk Allah bersekutu di dalam “مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ” dan “مَنْ فِي الْأَرْضِ” baik yang berakal maupun yang tidak.

  1. Ghair al-aqil bersama dengan al-aqil dalam keumuman sesuatu yang diperinci oleh ‘مِنْ’.

وَاللّٰهُ خَلَقَ كُلَّ دَاۤبَّةٍ مِّنْ مَّاۤءٍۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰى بَطْنِهٖۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰى رِجْلَيْنِۚ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّمْشِيْ عَلٰٓى اَرْبَعٍۗ

“Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki.” (An-Nur: 45)

‘Ad-Daabbah’ (الدابّة) memiliki arti yang luas mencakup semua kelompok makhluk yang melata/merangkak (yadubbu ‘يَدُبُّ’) di atas bumi. Dalam ayat di atas, Allah merincikan dabbah tersebut dengan tiga macam yaitu: yang melata di atas perut, yang berjalan di atas dua kaki dan yang berjalan di atas empat kaki.

Terkadang ‘مَا’ digunakan untuk yang berakal (العاقل), contohnya seperti firman Allah swt:

فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ

“maka nikahilah orang yang baik bagi kalian yakni berupa wanita-wanita” (An-Nisa’: 3)

Contoh lainnya seperti ungkapan berikut:

سُبْحَانَ مَا سَخَّرَكُنَّ لَنَا

Maha Suci Dia yang telah menjadikanmu tunduk pada kami

سُبْحَانَ مَا يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ

Maha Suci Dia yang dipuji oleh petir

Contoh-contoh di atas adalah berhukum sedikit. Kebanyakan ‘مَا’ yang digunakan untuk menunjukkan al-aqil adalah ketika al-aqil bersama ghair al-aqil dalm hukum yang sama. Contohnya adalah firman Allah swt:

يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِي السَّمٰوٰتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

Bertasbih kepada Allah sesuatu yang ada di langit dan sesuatu yang ada di bumi (al-Jumu’ah/at-Taghabun: 1)

Sesungguhnya kedua ‘مَا’ pada ayat tersebut bercampur di dalamnya yang berakal dan yang tidak berakal dalam satu hukum yaitu ‘bertasbih’, sebagaimana dijelaskan dalam ayat lain yaitu:

تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبْعُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Al-Isra’: 44)

Pembahasan Dza Isim Maushul ‘ذا الموصولية’

‘ذَا’ hanyalah menjadi isim maushul dengan beberapa syarat yaitu:

  1. jatuh setelah ‘مَنْ’ atau ‘مَا’ al-istifhamiyyah
  2. ‘ذَا’ tidak dimaksudkan menjadi isim isyarah
  3. Tidak dijadikan satu kalimat dengan ‘مَنْ’ dan ‘مَا’ sebagai istifham

Jika ‘ذَا’ dimaksudkan menjadi isyarah maka ‘ذَا’ adalah isim isyarah (bukan isim maushul), semisal:

مَاذَا التَّوَانِي؟

Apa kelemotan ini?

مَاذَا الْقَائِمُ؟

Apa yang berdiri ini?

Yang artinya sama dengan:

مَا هٰذَا التَّوَانِي؟

مَا هٰذَا الْقَائِمُ؟

Dan jika ‘ذَا’ dijadikan satu kalimah dengan ‘مَنْ’ atau ‘مَا’ untuk istifham, maka ‘مَنْ ذَا’ atau ‘مَاذَا’ menjadi isim istifham, contoh:

لِمَاذَا أَتَيْتَ؟

Untuk apa kamu datang?

Artinya sama dengan ‘لِمَ أَتَيْتَ؟’.

مَنْ ذَا الّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Siapa yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya?” (Al-Baqarah: 255)

Artinya sama dengan: مَنِ الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ , sehingga ‘مَنْ’ dan ‘ذَا’ merupakan satu kesatuan isim istifham.

Terkadang ‘ذَا’ jatuh dalam tarkib (susunan) yang memungkinkan di dalam tarkib tersebut ada dza maushuliyyah sedangkan yang sebelumnya (ma/man) adalah istifham, dan bisa juga ‘dza’ bersama ‘man’ atau ‘ma’ sebagai satu kalimat sebagai istifham. Contohnya yaitu:

مَاذَا أَنْفَقْتَ؟

Apa yang kamu infaqkan?

Karena artinya bisa disamakan dengan ‘مَا أَنْفَقْتَ’ dan bisa juga diartikan dengan ‘مَا الَّذِيْ أَنْفَقْتَهُ’.

Perbedaan antara kedua macam yang disampaikan di atas menjadi jelas ketika melihat dampaknya pada tabi’-nya. Jika dza dan ma/man dijadikan menjadi satu kalimat sebagai isim istifham maka tabi-nya dibaca nashab, seperti:

مَاذَا أَنْفَقْتَ؟ أَدِرْهَمًا أَمْ دِيْنَارًا؟

Apa yang kamu infaqkan? Apakah dirham atau dinar?

مَنْ ذَا أَكْرَمْتَ؟ أَزُهَيْرًا أَمْ أَخَاهُ؟

Siapakah yang kamu muliakan? Apakah Zuhair atau saudaranya?

Sedangkan jika dza dijadikan sebagai maushuliyyah dan ma/man dijadikan sebagai isim istifham maka tabi’nya dibaca rafa’, seperti:

مَاذَا أَنْفَقْتَ؟ أَدِرْهَمٌ أَمْ دِيْنَارٌ؟

Apa yang kamu infaqkan? Apakah dirham atau dinar?

مَنْ ذَا أَكْرَمْتَ؟ أَزُهَيْرٌ أَمْ أَخُوْهُ؟

Siapakah yang kamu muliakan? Apakah Zuhair atau saudaranya?

Contoh ma istifham dan dza maushuliyyah adalah pada ucapan Labid ibn Rabiah dalam syair ber-bahr thawil-nya:

أَلَا تَسْأَلَانِ الْمَرْءَ: مَاذَا يُحَاوِلُ     أَنَحْبٌ فَيُقْضَى؟ أَمْ ضَلَالٌ وَبَاطِلُ

Apakah kamu berdua tidak menanyai seseorang, pada apa yang diusahakan, apakah janji lalu ditepati atau (yang diusahakan itu adalah) kesesatan dan kebathilan

Pembahasan ‘أَيُّ’ al-maushuliyyah

Ayyu (أَيُّ) al-maushuliyyah adalah isim maushul yang lafadh-nya satu digunakan untuk mudzakkar, muannats, mufrad, mutsanna dan jama’. Ia juga digunakan untuk a’qil maupun ghairu ‘aqil.

Semua isim maushul berhukum mabni kecuali ayy (أَيُّ) ini, ia berhukum mu’rab dengan tiga harakat, contoh:

يُفْلِحُ أَيٌّ مُجْتَهِدٌ

Beruntunglah yang rajin

أَكْرَمْتُ أَيًّا هِيَ مُجْتَهِدَةٌ

Aku memuliakan yang mana ia (pr) rajin

أَحْسَنْتُ إِلٰى أَيٍّ هُمْ مُجْتَهِدُوْنَ

Aku berbuat baik kepada yang mana mereka rajin

Boleh juga hukumnya untuk membaca mabni ayyu al-maushuliyyah (أَيُّ الموصولية) dengan dlummah ketika ayyu di-idlafah-kan kepada bagian depan shilah-nya dan ini adalah yang paling fashih (al-afshahu).

:نحو

أَكْرِمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ أَخْلَاقًا

Muliakanlah yang mana mereka itu paling bagus akhlaqnya

ثُمَّ لَنَنْزِعَنَّ مِنْ كُلِّ شِيْعَةٍ أَيُّهُمْ أَشَدُّ عَلَى الرَّحْمٰنِ عِتِيًّا (مريم ٦٩)

Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.

إِذَا مَا لَقِيْتَ بَنِي مَالِكٍ     فَسَلِّمْ عَلَى أَيُّهُمْ أَفْضَلُ

Ketika engkau bertemu Bani Malik, maka berikanlah salam kepada yang mana mereka paling utama

Begitu juga pada keadaan ini diperbolehkan membaca mu’rab ayyu yang di-idlafahkan kepada bagian depan shilah-nya dengan tiga harakat, contoh:

أَكْرِمْ أَيَّهُمْ أَحْسَنُ أَخْلَاقًا

Muliakanlah yang mana mereka itu paling bagus akhlaqnya

أَحْسَنْتُ إِلَى أَيِّهِمْ أَحْسَنُ أَخْلَاقًا

Aku berbuat baik kepada yang mana mereka paling bagus akhlaknya

Ketika ayyu al-maushuliyyah tidak di-idlafah-kan atau di-idlafah-kan namun bagian depan shilah-nya disebutkan maka ayyu al-mashuliyyah tidak lain hanya bisa dibaca mu’rab (dengan tiga harakat) dan tidak di-mabni-kan.

Contoh yang pertama (ayyu al-maushuliyyah tidak di-idlafah-kan)

أَكْرِمْ أَيًّا مُجْتَهِدٌ

أَكْرِمْ أَيًّا هُوَ مُجْتَهِدٌ

Contoh yang kedua (ayyu al-maushuliyyah di-idlafah-kan namun bagian depan shilahnya disebutkan)

أَكْرِمْ أَيَّهُمْ هُوَ مُجْتَهِدٌ

Pembahasan ‘ذُوْ’ al-maushuliyyah

Dzu al-maushuliyyah adalah isim maushul yang lafadh-nya satu digunakan untuk mudzakkar, muannats, mufrad, mutsanna dan jama’. Penggunaan dzu sebagai isim maushul termasuk sebagai lughat thay’ (طَيْئ) salah satu lughat/dialek dalam bahasa Arab. Itulah mengapa dzu al-masuhuliyyah juga disebut sebagai dzu ath-thaaiyyah ‘ذو الطائية’.

:نحو

جَاءَ ذُوْ اجْتَهَدَ

جَاءَتْ ذُوْ اجْتَهَدَتْ

جَاءَ ذُوْ اجْتَهَدَأ

جَاءَتْ ذُوْ اجْتَهَدَتَا

جَاءَ ذُوْ اجْتَهَدُوا

جَاءَتْ ذُوْ اجْتَهَدْنَ

contoh lainnya adalah syair ber-bahr wafir berikut:

فَإِنَّ الْمَاءَ مَاءُ أَبِيْ وَجَدِّيْ     وَبِئْرِيْ ذُوْ حَفَرْتُ وَذُوْ طَوَيْتُ

Sesungguhnya air itu adalah air ayahku dan kakekku serta sumurku yang aku gali dan yang aku bangun (dengan lapisan batu)

dan syair ber-bahr thawil berikut:

فَإِمَّا كِرَامٌ مُوْسِرُوْنَ لَقَيْتُهُمْ     فَحَسْبِيْ مِنْ ذُوْ عِنْدَهُمْ مَا كَفَانِيَا

Apabila aku bertemu dengan orang-orang dermawan yang berkecukupan, maka cukuplah bagiku seseorang di antara mereka yang akan memberikan kecukupan kepadaku

Itu dia pembahasan isim maushul musytarak secara lengkap.

Tinggalkan Komentar