Cara Memaknai Kitab Kuning Ala Insantri + Tabel Singkatan dan Ruju’

Cara Memaknai Kitab Kuning Ala Insantri

Cara Memaknai Kitab Kuning

Memaknai kitab kuning (baca: maknani, ngabsahi, ngesahi) adalah bagian dari budaya-budaya dalam pondok pesantren yang notabene masih menjunjung tinggi budaya salaf. Sembari menyimak bacaan kitab oleh kiainya, santri akan mencatat apa saja yang perlu ditorehkan pada kitab kuning yang ia miliki. Tulisan yang digunakan pun adalah arab pegon, yakni tulisan hijaiyah yang sudah diadaptasikan ke bahasa jawa sehingga memungkinkan untuk menulis huruf-huruf yang tidak ada pada huruf hijaiyah seperti nga, nya, pa, ca dsb.

Problem yang kerap kali dialami oleh para santri yang baru dalam memaknai kitab kuning diantaranya adalah tertinggal oleh bacaan kiai sehingga beberapa makna tidak sempat tercatat, tidak bisa memaknai kitab dengan singkat karena lupa dengan singkatan-singkatan mahall al-i’rob (biasanya disebut singkatan tarkib). Pada tulisan ini kami beberkan tips dalam memaknai kitab kuning, dan daftar singkatan-singkatan mahall al-i’rob dan makna lengkap dengan cara membuat ruju’ dlomir.

Apakah anda santri baru yang ingin mengetahui Cara Memaknai Kitab Kuning? Atau Anda adalah seorang ustadz yang ingin membuat semacam panduan untuk para santri dalam menulis makna kitab kuning? Anda perlu membaca tulisan ini.

BACA JUGA:

CARA MENULIS ARAB PEGON DI MICROSOFT WORD

Tips Memaknai Kitab Kuning

Berikut kami himpun beberapa tips yang bisa membantu Anda dalam memaknai kitab kuning, di antaranya adalah:

  1. Gunakan Bolpoin yang kecil line output-nya (sing mempane cilik). Bisa dimulai dari 0.3 mm ke bawah. Lalu pilihlah bolpoin yang berkualitas (tidak mudah pudar) dan pilihlah warna hitam. Jangan gunakan bolpoin yang murahan karena bisa saja tulisan mudah pudar, membuat kitab cemong-cemong belepotan dan sulit dibaca. Hal ini bertujuan agar tulisan mudah dibaca, dan tentunya awet hingga bertahun-tahun lamanya.
  2. Tulis makna yang tidak diketahui, sedangkan makna yang sudah tahu lebih baik tidak ditulis agar kitab tidak tampak penuh dan mudah dibaca.
  3. Gunakanlah singkatan-singkatan untuk menunjukkan kedudukan kalimah dalam i’rob semisal mubtada’/utawi diganti dengan mim, fa’il/sopo diganti dengan fa’ panjang dan opo diganti dengan fa’ pendek dsb. Dan gunakan juga ruju’ untuk menunjukkan marji’ atau tempat kembalinya dlomir. Hal ini sangat efektif dalam meringkas tulisan makna kitab kuning sehingga menyingkat waktu dalam menulis dan sudah barang tentu kita tidak akan tertinggal oleh bacaan kiai yang super cepat dan kitab kuning kita terlihat rapi dan tidak ruwet. Sedangkan kelebihannya dalam segi nahwu shorof memudahkan kita di saat mengkaji kembali kitab kuning karena sudah jelas kedudukan kalimat-nya dalam i’rob.

Singkatan atau kode sebagai petunjuk mahall ali’rob dan ma’na

Singkatan ditambahkan saat memaknai kitab kuning berfungsi untuk menunjukkan mahall al-i’rob (kedudukan kalimah dalam i’rob) dan menunjukkan ma’na. Penempatannya pun ada yang ditulis di atas, di bawah, dan ada yang ditulis di samping kanan tulisan. Singkatan atau kode tersebut menggunakan satu atau dua huruf hijaiyah, seperti fa’ untuk fa’il dan mim tha’ untuk maf’ul muthlaq.

Pada tabel yang akan kami sajikan di bawah akan dikategorikan menjadi empat macam singkatan. Mulai dari Umdah, Fudllah, Huruf Jarr, dan Tambahan. Untuk selengkapnya silahkan perhatikan tabel berikut:

Tabel Singkatan Kedudukan I'rab Cara Memaknai Kitab Kuning
Tabel Singkatan Kedudukan I'rab Cara Memaknai Kitab Kuning
Tabel Singkatan Kedudukan I'rab Cara Memaknai Kitab Kuning
Tabel Singkatan Kedudukan I'rab Cara Memaknai Kitab Kuning

Anda juga bisa mendowload Tabel Singkatan Makna versi PDF melalui tombol berikut

Penggunaan Ruju

Penggunaan ruju’ pada saat memaknai kitab kuning adalah sebagai penanda bagi marji’ (tempat kembali) –nya dlomir atau bahkan musyar ilaih bagi isim isyaroh. Sehingga dengan ruju’, kita tidak perlu menulis suatu kalimah secara berulang-ulang. Bentuk ruju’ pun bisa menggunakan bentu apa pun, asalkan berbeda dengan ruju’ yang lain dan dapat diidentifikasi bahwa bentuk tersebut merupakan sebuah ruju’. Cara membuat ruju’ sebagai berikut:

  1. Tempatkanlah kode ruju’ di bawah tulisan (di bawah dlomir atau isim isyaroh)
  2. Lalu tempatkan kode marji’ (berbentuk sama dengan ruju’-nya) di atas tulisan kalimah yang menjadi marji’.
contoh ruju' cara membuat ruju'
ruju’ pada dlomir

Anggaplah titik tersebut merupakan kalimat panjang. Ruju’ sangat membantu menemukan marji’ dlomir seperti halnya dlomir-dlomir di atas yang kembali kepada kalimahash-sholatu

contoh ruju' cara membuat ruju'
ruju’ pada isim isyarah

Kadangkala isim isyaroh juga membutuhkan ruju’ jika musyar ilaih tersimpan. Pada contoh diatas musyar ilaih dari “ulaaika” adalah “sam’a, bashara, dan fuaada

contoh ruju' cara membuat ruju'
ruju’ pada tanwin iwadl

Bukan menunjukkan marji’ dlomir atau musyar ilaih, contoh di atas menunjukkan kalimah yang digantikan oleh tanwin iwadl pada “hinaidzin” yaitu “idza balaghot al-hulquma

Contoh Bentuk Ruju

Bentuk ruju’ sangat banyak dan bersifat bebas dalam arti Anda bisa sesuka hati membuat bentuk ruju’ Anda sendiri bahkan menggunakan huruf alfabet. Namun di sini akan kami beri contoh beberapa bentuk ruju’ yang lazim digunakan di dunia pesantren. Anda bisa melihatnya pada gambar di bawah ini.

contoh ruju' cara membuat ruju'

Demikian Cara Memaknai Kitab Kuning Ala Insantri. Dengan menerapkan panduan ini, semoga teman-teman dipermudah dalam proses belajar di Pondok Pesantren. Seterusnya, Anda bisa membuat singkatan sendiri untuk makna-makna tertentu agar semakin singkat pula tulisan makna kitab kuning yang Anda tulis.

Cara Memaknai Kitab Kuning Ala Insantri + Tabel Singkatan dan Ruju’

Tinggalkan Komentar

Kembali ke Atas
Konten yang anda salin memiliki hak cipta.