Hukum Adad Ma’dud

Hukum Adad Ma’dud ( العدد والمعدود )

Berikut adalah hukum Adad Ma’dud, yang akan dibahas satu persatu.

Namun untuk memperjelas akan kita bahas terlebih dahulu apa itu adad dan ma’dud. Adad adalah kalimah yang menunjukkan bilangan, sedangkan ma’dud adalah kalimah yang bilangannya ditunjukkan oleh ma’dud.

hukum adad ma'dud

Langsung saja ini dia hukum adad ma’dud dimulai dengan:

Adad “واحد” dan “اثنين”

“وَاحِدٌ” artinya satu.

“اثْنَيْنِ” artinya dua.

Hukumnya disesuaikan dengan ma’dud, dalam arti mudzakkar jika bersama ma’dud mudzakkar dan muannats jika bersama ma’dud muannats.

نحو

مؤنّثمذكّر
امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ رَجُلٌ وَاحِدٌ
امْرَأَتَانِ اثْنَانِ رَجُلاَنِ اثْنَانِ

Adad “أحد

“أحد” artinya adalah “salah satu” jika diidlofahkan kepada isim yang lain.

Seperti halnya “واحد”, adad “أحد” juga menyesuaikan ma’dudnya dalam hal mudzakkar dan muannatsnya.

نحو

مؤنّث مذكّر
إحدى النساء أحد الرّجال

Adad “ثلاثة” sampai dengan “عشرة

Jika disebutkan semua adadnya yaitu:

“ثَلَاثَةٌ” artinya adalah tiga.

“أَرْبَعَةٌ” artinya adalah empat.

“خَمْسَةٌ” artinya adalah lima.

“سِتَّةٌ” artinya adalah enam.

“سَبْعَةٌ” artinya adalah tujuh.

“ثَمَانِيَّةٌ” artinya adalah delapan.

“تِسْعَةٌ” artinya adalah sembilan.

“عَشْرَةٌ” artinya adalah sepuluh.

Adad “ثلاثة” sampai dengan “عشرة” hukumnya adalah harus mu’annats ketika ma’dudnya mudzakkar, dan harus mudzakkar ketika ma’dudnya muannats.

نحو

مؤنّث مذكّر
ثَلَاثُ نِسَاءٍ ثَلَاثَةُ رِجَالٍ
أَرْبَعُ أَيْدٍ أَرْبَعَةُ أَقْلَامٍ

*Note:

Cara mengetahui mudzakkar/muannatsnya ma’dud adalah bukan dengan menggunakan dalil “كلّ جمع مؤنّث”, melainkan dengan mengembalikan ma’dud ke bentuk mufrodnya contoh “رجال” mufrodnya adalah “رجل”, “نساء” mufrodnya adalah “إمرأة”, “أقلام” mufrodnya adalah “قلم”, dan “أيد” mufrodnya adalah “يد”.

Adad “أحد عشر”, “إِثْنَا عَشَرَ”, dan “ثَلَاثَةَ عَشَرَ” sampai dengan “تسع عشرة

Hukum adad “أحد” dan “اثنين” serta adad “ثلاثة” sampai dengan “عشرة” di atas tetap berlaku hingga kondisi murokkab (belasan) yaitu adad “أحد عشر” sampai dengan “تسع عشرة”, dalam arti menyesuaikan ma’dud untuk adad “أحد”dan “اثنين”. Dan untuk adad “ثلاثة” sampai dengan “عشرة” mudzakkar ketika ma’dudnya muannats, dan muannats ketika ma’dudnya mudzakkar. Kecuali “عشرة”, ia menyesuaikan kepada ma’dudnya dalam hal mudzakkar dan muannats karena sudah murokkab.

نحو

مؤنّث مذكّر
إِحْدَى عَشْرَةَ دَقِيْقَةً اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا
إِثْنَتَا عَشْرَةَ خَدِيْمَةً إِثْنَا عَشَرَ قَدَمًا
000 000
ثَلَاثَ عَشْرَةَ إِمْرَأَةً ثَلَاثَةَ عَشَرَ رَجُلاً
أَرْبَعَ عَشْرَةَ يَدًا أَرْبَعَةَ عَشَرَ قَلَمًا
تِسْعَ عَشْرَةَ سَبُوْرَةً تِسْعَةَ عَشَرَ بَيْتًا

Hukum adad yang mengikuti wazan “فاعل”/Adad Tartibi (urutan)

Jika adad mengikuti wazan “فاعل” maka menyesuaikan ma’dud dalam hal mudzakkar dan muannatsnya, baik mufrod (satuan) maupun murokkab (belasan).

نحو

الْبَابُ الرَّابِعُ

الْبَابُ الرًّابِعَ عَشَرَ

الصَّفْحَةُ الْعَاشِرَةُ

الصَّفْحَةُ التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ

Hukum huruf “ش” pada “عشرة/عشر”

Hukum huruf “ش” pada “عشرة/عشر” dibaca fathah ketika ma’dud mudzakkar dan sukun ketika ma’dud mua’nnats.

نحو

سكونفتحة
عَشْرُ نِسَاءٍ عَشَرَةُ رِجَالٍ
إِحْدَى عَشْرَةَ امْرَأَةً أَحَدَ عَشَرَ رَجُلاً

Demikian hukum adad ma’dud semoga bermanfaat.

Bonus skema hukum adad ma’dud

skema hukum adad ma'dud

FAQ (Frequently Asked Question/الأسئلة المتداولة)

Mengapa ma’dud berbeda-beda? Ada yang di depan, ada yang dibelakang? Ada yang mufrod, ada yang jama’?

Jawaban: Memang ma’dud akan berbeda-beda, tergantung adad yang digunakan. Perbedaan adad yang digunakan akan mempengaruhi tarkib/susunan yang digunakan pula. Untuk memperjelas akan kita contohkan satu-persatu seperti di bawah ini.

رَجُلٌ وَاحِدٌ dan رَجُلاَنِ اثْنَان

Kedua contoh di atas berbentuk murokkab washfi. Dimana adad menjadi naat/shifat dari ma’dudnya. Maka letak adad di belakang dan i’robnya mengikuti ma’dud.

أحد الرّجال

Contoh di atas menggunakan murokkab idlofi, dimana “ahad” menjadi mudlof dan “ar-rijal” menjadi mudlof ilaih. Artinya yaitu “salah satu dari laki-laki banyak”. “Ar-rijal” sudah seharusnya berbentuk jama’, karena di dalamnya ada yang diambil salah satu. “Ahad” juga bisa diidlofahkan dengan isim tatsniyah seperti “أحد الرجلين” yang artinya “salah satu dari dua laki-laki”.

ثَلَاثَةُ رِجَالٍ

Contoh di atas juga menggunakan murokkab idlofi. Dimana “tsalatsah” menjadi mudlof dan “rijal” menjadi mudlof ilaih. Artinya adalah “tiga laki-laki” bukan “tiga dari laki-laki”. Berbeda dengan “ahad” walaupun sama-sama idlofah dan sama-sama men-taqdirkan huruf min “من”, karena min pada “tsalatsah” merupakan min bayaniyah. Dan min pada “ahad” adalah min ba’dliyah.

اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا

Contoh di atas adadnya berbentuk murokkab adadi sedangkan ma’dud menjadi tamyiz. Maka dari itu bentuk ma’dud mufrod dan dibaca nashob.

” اَحَد” artinya “satu” jika sendirian, dan “salah satu” jika diidlofahkan dengan isim lain, mengapa ahad digunakan dalam bilangan sebelas yakni “اَحَدَ عَشَرَ”?

Jawaban: memang benar “اَحَد” artinya “satu” jika sendirian, dan “salah satu” jika diidlofahkan dengan isim lain. Penggunaannya pada “اَحَدَ عَشَرَ” tidak membuat artinya menjadi “salah satu dari sepuluh”. Jika dilihat bentuk “اَحَدَ عَشَرَ” dan “أحد الرّجال” maka akan ditemukan perbedaan. Karena “أحد الرّجال” merupakan idlofi. Dan “اَحَدَ عَشَرَ” merupakan murokkab adadi yang juga termasuk dalam murokkab mazji. Murokkab mazji adalah dua kalimah yang dijadikan satu kemudian mempunyai satu makna baru. Dalam hal ini “اَحَدَ عَشَرَ” maknanya juga satu yakni “sebelas”.

Mau menambahkan pertanyaan? Silahkan kirimkan pertanyaan anda pada kolom komentar. Barangkali tim kami bisa menjawab pertanyaan anda.

Hukum Adad Ma’dud

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas
Konten yang anda salin memiliki hak cipta.