Kurma yang Haram – Sebuah Teguran Keras bagi Pencuri Digital, Penjiplak Karya dan Reuploader

Kurma yang Haram – Sebuah Teguran Keras bagi Pencuri Digital, Penjiplak Karya dan Reuploader

Sebuah Analogi Kurma yang Haram

Alkisah, ada sebuah kurma. Buah surga, buah Nabi. Tapi hukumnya haram. Kok bisa? Karena kurma tersebut ternyata adalah hasil curian. Sehebat apa pun kurma, yang katanya buah dari surga atau buahnya Nabi sekali pun jika hasil curian maka hukumnya tidak akan menjadi halal. Itu adalah sebuah analogi, yang muncul terus di pikiran saya setelah sebuah artikel hasil karya saya dijiplak dan diganti nama penulisnya oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan pribadinya. Sebuah artikel saya baru saja dicuri!

Pencurian Digital Jaman Sekarang

Dulu, pencuri mungkin digambarkan sebagai orang yang memakai topeng, penutup wajah atau memakai pakaian khas ala ninja (tetapi penutupnya pakai sarung). Kemudian ia memasuki rumah korban dengan secara sembunyi-sembunyi lalu menggasak seisi rumah. Namun sekarang pencuri (dalam era digital) bisa saja adalah orang memakai kaos jersey sepak bola serta memakai kolor atau bahkan orang yang berpakaian rapi, berpeci, bersarung, bak seorang santri yang alim dan pintar agamanya. Tanpa perlu tahu skill atau kiat-kiat bagaimana caranya memasuki rumah tanpa ketahuan dan bagaimana cara menghilang bagaikan kabar mantan ketika dikejar-kejar warga, pencuri digital jaman sekarang bisa melancarkan aksinya dengan bermodalkan laptop atau bahkan hanya dengan sebuah handphone. Tentunya ditambah satu skill khusus yang istimewa yang dimiliki oleh pencuri digital yakni ‘The Power of Males Berkarya’. Akhirnya digasaklah seisi rumah yang kita sebut sebagai “kekayaan intelektual” yang menyebabkan para pembuat konten digital akhirnya merugi. Satu hal yang menjadi kesamaan antara pencuri jadul dan pencuri digital yaitu mentalnya, sama-sama mental maling alias mental as-Sariqu wa as-Sariqotu.

pencuri konten plagiarisme sariq ninja sarung

Jika Anda adalah seorang  pembuat konten/content creator (apa pun platform-nya) pasti akan merasakan betapa sulitnya membuat konten yang original dan berkualitas. Karya-karya seperti artikel, tulisan, gambar, video, animasi, dan desain dalam bentuk apa pun (font, gambar, aplikasi, musik, film, tema, karakter dll.) adalah sebuah karya hasil kerja keras yang bisa menguras tenaga dan pikiran. Pencurian terhadap karya akan berimbas pada menurunnya view, visitor, earning, engagement, profit dll bagi konten kreator. Tentunya hal ini tidak diperhatikan oleh pencuri-pencuri digital, yang ingin menggunakan jalan pintas untuk mendapatkan view, pengaruh, profit dan keuntungan-keuntungan yang lain baik yang bersifat material dan non-material. Mereka tak ingin bersusah payah memikirkan konsep atau ide secara mandiri mengenai konten itu sendiri.

Produk digital yang tersebar di Internet tidak semuanya gratis. Adapun yang gratis biasanya terdapat iklan, dan konten kreator mendapatkan profit dari iklan yang ditampilkan tersebut. Mengenai produk digital yang tidak gratis ada konten yang berbayar, ada yang penggunaannya dibatasi hanya untuk member dan ada juga yang bisa diambil dengan syarat memberi atribusi link kepada pemilik asli agar bisa mendatangkan view, yang harapannya ke depannya bisa dikonversikan menjadi profit kepada konten kreator. Baik gratis atau tidak, konten kreator membutuhkan kesejahteraan. Dan kesejahteraan tidak akan terjadi jika tikus-tikus pencuri konten berkeliaran di jagad serba digital ini.

Pengalaman Saya Pribadi

Saya pernah dicuri kontennya. Mungkin bagi pembaca (baca: Anda) itu adalah hal remeh karena konten saya yang dicuri adalah sebuah artikel atau tulisan di situs saya. Namun bagi saya setiap konten yang saya buat yang sudah menguras tenaga, waktu dan pemikiran adalah sangat berharga dan berarti bagi saya. Artikel tersebut berjudul “Santri Harus Tahu! Asal Usul Rajah Anti Rayap Kabikaj”. Artikel tersebut saya tulis memakan beberapa hari dalam penulisan kurang lebih dua hari lamanya tentu saja disambi dengan hal lain dan juga begadang pada malam harinya sebelum akhirnya artikel tersebut saya terbitkan di situs saya insantri.com pada tanggal 14 April 2020. Karena ada pengaturan ‘otomatis berbagi’ di situs wordpress saya, artikel itu juga ter-share di akun Twitter pribadi saya dan Halaman Facebook insantri.com.

Lalu kapan saya menyadari konten saya dicuri? Bermula saat saya mengecek pencarian Google dengan kata kunci ‘Asal Usul Rajah Anti Rayap Kabikaj’ pada tanggal 7 Mei 2020. Kemudian muncul hasil penelusuran Google dengan hasil teratas sebuah post halaman facebook kemudian disusul post artikel dari situs saya sendiri. Perasaan artikel saya menjadi hasil teratas di Google sebelumnya.

Screenshot hasil pencarian
Screenshot hasil pencarian

Ada yang aneh, ketika saya klik halaman facebook tersebut betapa terkejutnya saya melihat isi postingan benar-benar sama dengan artikel yang saya tulis, penggunaan kata sama persis, hanya judulnya saja yang diubah sedikit dari semula berjudul “Santri Harus Tahu! Asal Usul Rajah Anti Rayap Kabikaj” diubah menjadi “Asal Usul Rajah Anti Rayap Kabikaj yang Ditulis di Kitab”. Kemudian bagian informasi penulis yang awalnya adalah nama saya dan sedikit informasi Pondok Pesantren saya di ganti dengan tulisan seperti ini

Nama: AHMED A. BILFEYD

Santri: Nahdlatut Thalibin Desa Bladu Wetan BanyuAnyar Kota Probolinggo Jawa Timur

disertai link FB, WA dan Telegram pemilik halaman. Postingan halaman facebook pencuri tersebut (atau halusnya penjiplak) mendapatkan 264 like dan 360 total dibagikan.

Bagi blogger seperti saya (baca: blogger pemula) dijiplak dan dicuri kontennya adalah hal yang sangat menohok dan menyakitkan. Usaha kreatif, modal yang tidak murah (bagi saya) dan niat ingin membesarkan situs saya menjadi situs yang lebih besar lagi agar dapat diterima google adsense dengan tujuan membantu ekonomi keluarga seakan sirna begitu saja.

Yang hebat dari penjiplak ini adalah ia membagikan postingan tersebut pada hari atau tanggal yang sama dengan tanggal posting artikel asli saya yaitu 14 April 2020. Perbedaannya yaitu artikel saya bagikan di pagi hari jam 8:53 AM, sedangkan postingan jiplakan tersebut dibagikan pada siang hari jam 01:49 PM.

Akhirnya saya komentar di postingan tersebut dengan maksud memberitahu bahwa saya adalah penulis asli dari artikel tersebut dan menunggu iktikad baik dan pertanggung jawaban dari penjiplak ini. Tidak lupa saya cantumkan link menuju artikel asli. Hingga akhirnya saya mencoba untuk menghubungi pemilik halaman fb yang bernama ‘Facebook +6285331111119’ melalui Whatsapp (nomor WA tertera di info halaman fb).

Begini percakapannya. Untuk mempermudah saya gunakan singkatan SA=Saya dan OK= Orang yang terlanjur sangat kreatif.

SA: “Assalamu alaikum. Maaf anda sudah ngopas tulisan saya yang berjudul ‘asal usul rajah anti rayap kabikaj’ tanpa memberi credit dan link menuju situs saya, serta seolah-olah tulisan tersebut anda buat sendiri”. Kemudian saya menyertakan screenshot post halaman fb beliau dan link menuju artikel asli situs saya. “Saya tunggu iktikad baiknya dan pertanggung jawabannya”.

Sambil menunggu balasan saya menelusuri siapa gerangan pemilik halaman ini, singkat cerita hingga saya menyimpulkan bahwa dia adalah orang Pamekasan, Madura (hal ini dari alamat halaman fb dan Whatsapp Bussiness), memiliki banyak Akun FB (tidak menggunakan nama asli dan ada yang kosongan) dan beberapa halaman Facebook nuansa Islami dan Pesantren, dan tiga clue nama yang ia gunakan, antara Ahmed AbilFeydl (nama keren-kerenannya mungkin) dan Aldy Ansyah (dari emailnya yang tersemat dari salah satu akunnya yang mungkin sudah tidak aktif) dan As’adi Dikrul Hadi (namanya yang ia gunakan di Telegram). Lalu dari WA Bussinessnya juga bisa dilihat kalau beliau ini adalah penjual kitab dalam bentuk hardDrive (baca: Plesdis) sedangkan di Telegram nampaknya ia memiliki jama’ah terbilang cukup banyak. Namun nampaknya ia penggemar Manchester City (terlihat dari akun fb lamanya yang memakai Manchester City sebagai background). Ini aneh, padahal orang Madura itu biasanya mengidolakan MU. Tak lama kemudian akhirnya ada balasan dari orang ini.

OK: “Ribuan tulisan saya sebarkan di google tanpa minta melampirkan link diberikan tanpa pamrih diakui siapa pun karena memang tujuan saya nasyrul ilmi

SA: “tapi Anda membuat penulis Blogger menjadi rugi

OK: “kurang tau kalau anda bertujuan komersil

SA: “serta Anda tidak mencantumkan link referensi ke situs saya

OK: “Saya tidak mengambil dari situs Anda. saya cuma dapat dari teman-teman di whatsapp”. “Itu Sudah lama”. “itu pun kalau memang anda pencetus pertama sebenarnya atau cuma klaim

Di sini sangat membingungkan, mengapa justru saya yang dipertanyakan? Apakah seperti ini juga ketika ia pakai sandal orang lalu pemilik asli sandal datang dan mengingatkannya bahwa sandal tersebut adalah miliknya? Lalu ia mengatakan “Saya tidak mengambil sandal Anda dari rumah Anda. saya cuma dapat dari teman-teman di playgroup. Itu Sudah lama. Itu pun kalau memang anda pemilik pertama sebenarnya dari sandal ini atau jangan-jangan anda cuma klaim?”.

Namun saya berusaha tidak menggunakan kata-kata kasar dan terus memberikan bukti.

SA: “Saya yang punya situs dan saya sendiri yang menulis

OK: “Saya tidak mengakui kalau saya menulis Saya cuma melampirkan identitas saya di setiap postingan

Entah mengapa ia melakukan pembelaan-pembelaan ia sendiri, padahal kata-kata saya tidak ada yang menyerang. Pembelaannya pun aneh, melampirkan identitas itu sudah terwakilkan dengan nama Akun di sebelah foto profil, tidak perlu ditulis ulang di bawah dan tidak perlu menghapus informasi asli di mana di situ tertera nama penulis aslinya. Jatuhnya malah membuat tulisan tersebut seakan-akan ia tulis sendiri.

SA: “Ini situsnya”. Sambil saya tautkan ke link situs saya.

OK: “Bagaimana saya bisa percaya Anda?”. “Wong bisa saja semua orang bikin postingan kayak itu, tinggal bikin blogger kemudian klaim

SA: “Cek situsnya saya posting pagi-pagi 14 April 2019”. Yang saya maksud 2020 saya suka typo urusan tahun. “secara otomatis ketika saya posting artikel di situs nanti akan tershare di fb dan twitter link-nya

OK: “Itu kan bisa disetting bagi yang memiliki skill merubah atau mengkloning situs

Kemudian saya share screenshot twitter

OK: “Faham saya juga mantan Blogger

OK: “Ini masih yang gratisan dan kayak ini juga bisa dimanipulasi”. Ia mengomentari twitter saya. Ya jelas Twitter gratisan lah, mana ada daftar Twitter berbayar. Ini mungkin pengaruh kebanyakan maen fb sama telegram ini.

SA: “Punya kamu jam 13:49 itu sudah siang”. Saya menandai foto postingannya doi. “Demi Allah saya tidak memanipulasi wong saya yang nulis sendiri, begadang semaleman nulisnya”. Di sini sepertinya saya gedhek sama orang ini sampai-sampai saya bawa nama Tuhan.

OK: “trus saya harus bagaimana?”. Saya sedikit lega dia bilang kayak gitu

SA: ”tuh yang ada di halaman facebook Insantri. Saya nggak mengada-ada postingan 13 april 2020 jam 18:53” chat saya yang agak ketinggalan, saya tidak tahu kenapa bisa jadi lebih awal tanggalnya di halaman fb saya, mungkin karena malamnya saya ngepost dulu lalu saya edit kemudian di pagi hari (14 april 2020). Jawabannya saya yaitu “cukup dihapus postingan fb”. “yang ini dihapus” saya menandai halaman Fb beliau. “kalo mau ngeshare boleh tapi harus mencantumkan link ke https://insantri.com/santri-harus-tahu-asal-usul-rajah-anti-rayap-kabikaj-%d9%83%d8%a8%d9%8a%d9%83%d8%ac/”. “nanti bisa dishare ulang, asal yang lama dihapus dulu

OK: “Kalo disuruh hapus mohon maaf saya tidak bisa, tapi kalau menyisihkan link sampean saya pertimbangkan Karena saya tidak merasa ambil dari situs sampean tapi ada seseorang yang mengirimkan artikel itu melalui Whatsapp jadi bukan salah saya karena bukan saya yang datang ke situs Anda tapi ada orang lain yang mengirimkan artikel itu kepada saya melalui Whatsapp

Tidak bisa? Pertimbangkan? Gila! Ini orang udah serasa jadi boss nya Koran Jawa Pos atau bagaimana? Kayak ada proses editorialnya gitu, berbeda 180` dengan kelakuan asal jiplaknya. Tapi Ingat saya tidak boleh ngomong kasar.

SA: “Oh jadi awalnya ada yang share di whatsapp? Terus anda ambil gitu aja?

OK: “Ya

Saya sangat menyayangkan ketika dia tidak mau menghapus postingannya di fb.

SA: ‘”mohon dihapus Mas, soalnya ngrusak algoritma di google, situs saya jadi nomor dua” sambil saya screenshot hasil penelusuran google.

OK: “*emote tangan minta maaf ala Pelayan SPBU

SA: “karena tulisannya mas di facebook sebagai situs besar media sosial jadi situs saya yang kecil jadi kalah, padahal sumber aslinya dari situs saya, saya sedang berusaha ngembangin situs saya ini Mas, kalo reuploader Indonesia kayak gini semua penulis kaya saya lama-lama mati”. Karena pusingnya saya, kali ini saya mengetest apakah doi punya sisi empati dan rasa kemanusiaan.

OK: “gini saja saya akan tetap mencantumkan link rujukan tapi tidak akan menghapus. *Emote Pelayan SPBU. Untuk masalah rating di search engine per halaman saya memang sampe jutaan.” Kemudian ia menambahkan “ini sudah jalan paling bijak saya ambil dan tanpa da tujuan komersial sama sekali”.

Dengan berat hati, sambil membaca chat orang bijak yang mengambil jalan paling bijak tapi doyan comat-comot sembarangan tersebut akhirnya saya cuma membalas.

SA: “Terima Kasih”.

Kemudian dia mengirim screenshot sebagai bukti postingannya sudah diganti yaitu dengan penambahan link di akhir post. Dan ada chat lain yang terjadi saat itu, silahkan dilihat di screenshot chat di bawah.

Jika ditanya perasaan saya, bisa dikatakan saya merasa sedih , rasanya seperti percuma saja perjuangan saya selama ini jadi Blogger. Sudah berusaha menulis tulisan yang original berujung dibajak orang. Perasaan takut dicopast lagi pun muncul, hingga kerugian-kerugian yang akan saya hadapi bila situs saya tidak mampu berkembang pada akhirnya. Namun karena perjalanan saya masih di awal-awal, saya harus tetap semangat. Mau tidak mau saya harus mengambil pelajaran dari kejadian ini, agar lebih hati-hati lagi. Ujung-ujungnya saya menyemangati diri sendiri.

Di mana letak kesalahan ini sebenarnya? Ini yang sedang saya fikirkan. Apakah salah orang meng-copy paste tulisan orang lain di medianya agar medianya selalu update dan mendapat nama baik yang berimbas pada kerumunan audience dan konversi pada penjualan atas nama nasyrul ilmi? Atau salah seorang blogger yang ingin berusaha menafkahi keluarganya dari tulisannya yang komersil? Pembaca mungkin bisa menjawabnya.

Akhir Tulisan

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya harap tulisan acak-kadut ini setidaknya bisa mengedukasi pembaca bahwa pembajakan konten itu tidak dibenarkan. Asal-asalan dalam membagikan ulang postingan di medsos tanpa melihat sumbernya terlebih dahulu juga sangat riskan dan berbahaya. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi jika kita asal copy kemudian share di medsos kita, bisa saja isi kontennya benar namun ternyata ada hak-hak cipta yang dilanggar di dalamnya dan bisa juga isi konten itu salah dan menyesatkan dan tidak bisa dipertanggung jawabkan karena tidak jelas sumbernya. Ini (baca: asal nge-share) sangat jauh sekali dari kedisiplinan keilmuan Islam yang dijunjung tinggi ulama’ Islam terdahulu yang menjunjung tinggi sanad (asal muasal sumber referensi). Walaupun ilmu kita kalah jauh kualitasnya dengan ilmu ulama’-ulama’ terdahulu, setidaknya kita bisa meneladani kehati-hatian beliau-beliau dalam konteks ilmu dan informasi.

Sekian dari Penulis. Terima kasih kepada pembaca yang sudah membaca tulisan semrawut ini sampai tuntas. Dan dukung terus Konten Kreator Indonesia apa pun platformnya, apapun medianya selama itu unik, original dan tidak merugikan orang lain.

Kalau sampai tulisan ini juga dibajak, kebangetan! Hehe

Oleh: Mudhofar

Di tengah pandemi

Kurma yang Haram – Sebuah Teguran Keras bagi Pencuri Digital, Penjiplak Karya dan Reuploader

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas
Konten yang anda salin memiliki hak cipta.