Pesan Waliyullah Mbah Kyai Abdullah Faqih bin Abu Bakar Benda Kerep Cirebon: Jambul, Jalu, dan Jali

Pesan Waliyullah Mbah Kyai Abdullah Faqih bin Abu Bakar Benda Kerep Cirebon: Jambul, Jalu, dan Jali

Merupakan kesempatan berharga bagi Saya untuk bisa berguru kepada Mbah Kyai Abdullah Faqih bin Abu Bakar Benda Kerep Cirebon. Beliau merupakan sosok ulama’ yang memegang teguh paham sunni atau ahlus sunnah wal jamaah. Mbah Kyai Abdullah Faqih adalah keturunan dari Mbah Sholeh  yang juga berasal dari keturunan darah biru dari Keraton Kanoman. Ada dua ulama’ sholih yang bernama Sholeh pada waktu itu, yakni Mbah Sholeh Benda Kerep dan Mbah Sholeh Darat Semarang.

Jika Anda mau berkunjung ke sana, Anda akan menemukan  keunikan yang langka. Memang Cirebon adalah gudang keunikan. Tidak terkecuali Pondok pesantren peninggalan beliau yang ada di Blok Benda Kerep Desa Argasunya, Kecamatan Harja Winangun, Kota Cirebon hingga kini masih memegang teguh kultur/tradisi lama bahkan kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya tunduk dan mematuhi kultur tersebut.

Tidak ada televisi di setiap rumah, tidak ada radio, handphone, sepeda motor atau pun mobil, bahkan listrik. Itulah suasana Benda Kerep jaman dulu yang tetap tidak berubah hingga kini. Namun sekarang akhir-akhir ini, bisa ditemukan penerangan lampu listrik, handphone, dan kendaraan (kecuali di area yang dilarang). Adapun adzan hingga kini tetap tanpa speaker. Asri dan natural itulah kesan yang akan Anda temukan jika berkunjung ke sana.

Pijakan-pijakan kaki terhampar di sungai dekat Pondok Pesantren Benda Kerep Mbah Abdullah Faqih Benda Kerep Cirebon
Pijakan-pijakan kaki terhampar di sungai dekat Pondok Pesantren Benda Kerep

Terdengar seperti ketertinggalan, namun bukan itu yang Saya maksud. Namun yang perlu digarisbawahi adalah keteguhan beliau beserta para penerusnya untuk tetap memurnikan ajaran Islam dari pemikiran yang sudah tercemari unsur duniawi dan syiar kepalsuan.

Selama berguru dengan Mbah Abdullah Faqih di sana terdapat pesan-pesan dari beliau yang saya kira sangat perlu direnungkan di masa-masa seperti ini. Masih ingat betul saya akan salah satu pesan beliau bertepatan sebelum setahun beliau wafat, yakni: Jambul, Jalu, dan Jali.

Jambul

Jambul adalah aja kembal-kembul. Artinya jangan kumpal-kumpul, yang dimaksud Mbah Faqih adalah jangan suka berkumpul pada hal yang tidak jelas tujuannya, tidak ada manfaatnya apalagi hal yang bisa memicu madlarat.

Dalam hal ini saya ingin mengomentari bahwa hal ini sesuai dengan hadits yang berbunyi “Min husni islam al-mar i tarkuhu ma la ya’nihi” (termasuk dari bagusnya Islam seseorang adalah menjauhi hal yang tidak ada manfaatnya). Namun apalah daya, saya seorang murid dari beliau yang tidak melebihi pintar dari beliau. Bahkan Mbah Faqih lebih pintar dalam berdalil namun tidak perlu berdalil untuk hal ini. Jambul ya jambul saja. Jangan suka kumpal-kumpul yang tidak jelas. Tidak perlu dalil untuk menerangkannya panjang lebar. Lebih baik kita berkumpul pada hal yang produktif, lebih maslahat dan tidak merugikan.

Jalu

Jalu adalah aja melu-melu. Artinya jangan ikut-ikutan.

Sebagai umat Islam, kita diberi perintah untuk mengikuti Allah dan RasulNya. Kita disuruh ikut, bukan disuruh untuk ikut-ikutan. Dalam mengikuti kita tahu siapa dan apa yang kita ikuti, namun kalau ikut-ikutan kita tidak tahu siapa yang diikuti, tujuan apa yang terselubung dibaliknya dan orang yang ikut-ikutan akan menjadi alat pada akhirnya karena tidak tahu menahu dengan tujuan sebenarnya. Mengikuti dan ikutan-ikutan (melu-melu) adalah dua hal yang berbeda jauh.

Jali

Jali adalah aja lali. Artinya jangan lupa.

Kita harus senantiasa ingat, selalu eling, dan berdzikir kepada Allah. Beja-bejane wong kang lali luwih bejo wong eling lan waspada. Seuntung-untungnya orang yang lupa lebih beruntung orang yang ingat dan waspada, kata Mbah Rangga Warsita.

Perlu, untuk kita senantiasa ingat kepada Allah dengan shalat, tadarrus, dan doa. Kita senantiasa menjaga wirid sesuai peran kita. Dengan begitu, kita tidak melupakan diri kita juga, siapakah kita, dari mana kita, apa yang harus kita lakukan setelah kita tahu siapakah diri kita. sehingga kita tidak melupakan hak kewajiban kita sebagai hamba, sebagai ayah atau ibu, sebagai anak, dan sebagai warga negara.

Pesan Mbah Kyai Abdullah Faqih atau Mbah Faqih di atas, yakni jambul, jalu dan jali saya kira sangat penting untuk saya bagikan kepada Saudara untuk ikut merenungi kejadian-kejadian serta fenomena-fenomena yang ada di era modern ini. Semoga Allah merahmati beliau dan memberikan kesehatan kepada dzurriyah-nya.

Harapan saya juga semoga pandemi ini segera berakhir dan saya bisa sowan lagi ke Benda Kerep Cirebon untuk berziarah dan shilaturrahim pada keluarga beliau. Aamiin Ya Rabbal ‘aalamin.

Penulis: K. Abdul Ghoni

Editor: Mudhofar


Kyai Abdul Ghoni

K. Abdul Ghoni merupakan seorang kyai di Kabupaten Batang yang kerap berdakwah ke berbagai kota mulai tahun 1985. Ayah dari seorang ‘Ustad Twitter’ Ubaidil Muhaimin ini juga kini menikmati masa-masa pandemi dengan berternak Ayam Bangkok dan mengisi pengajian di Pondok Pesantren Islakhul Anam Wrage, Tambahrejo, Bandar, Batang, Jawa Tengah.

Tinggalkan Komentar