Sejarah Catur dan Perkembangannya di Tangan Orang Muslim

Sejarah Catur dan Perkembangannya di Tangan Orang Muslim

Papan Catur
Papan Catur

Catur adalah permainan pertarungan berbasis papan yang melibatkan mental pemainnya. Permainan ini dimainkan oleh sebagian besar negara dalam papan berisi 64 kotak dengan 32 buah bagian. Terlepas dari ukurannya dan penampilannya yang sederhana, jumlah kemungkinan permainan yang dapat dimainkan tidak dapat dihitung. Cerita, tokoh, dan individu yang mengelilingi catur memberinya dimensi misterius, dan asal-usul dan sejarah catur yang pasti tetap tidak diketahui. Apakah catur berasal dari India atau Persia.

Pada abad ke-14, Ibn Khaldun menghubungkan catur dengan seorang India bernama Sassa ibn Dahir, seorang bijak terkemuka. Ada permainan India kuno yang disebut Chaturanga, yang berarti “memiliki empat anggota badan“, mungkin mengacu pada empat cabang tentara India yaitu gajah, penunggang kuda, kereta, dan infanteri.

Chaturanga sebenarnya bukan catur melainkan ia adalah pendahulu catur hari ini. Sebuah manuskrip Persia abad ke-14 menggambarkan bagaimana seorang duta besar India membawa catur ke istana Persia, dari mana catur itu dibawa ke Eropa oleh orang Arab menuju Spanyol pada abad pertengahan.

Sebelum mencapai Eropa, orang Persia memodifikasi permainan tersebut menjadi Chatrang, menggunakannya dalam permainanan perang mereka. Orang Arab pun akhirnya bersentuhan dengan catur (atau disebut Syatranj – الشطرنج ) di Persia dan menyerapnya ke dalam budaya mereka.

Pada saat itu, yang bidak-bidak catur terdiri dari adalah Shah atau raja (king), lalu Firzan, seorang jenderal, yang menjadi ratu (queen) di zaman modern; Fil adalah seekor gajah yang menjadi menteri (bishop); Faras adalah kudanya (knight); Rukh adalah kereta yang sekarang menjadi kastil atau benteng (rook); dan Baidaq adalah prajurit atau pion (pawn). Permainan ini sangat populer di kalangan masyarakat umum serta kaum bangsawan, dan khalifah Abbasiyah sangat menyukainya. Banyak guru besar memainkan permainan ini seperti Al-Suli, Al-Razi, Al-Aadani, dan Ibn al-Nadim.

Mengutip al-Fihris karya Ibn Nadhim, setidaknya bisa diketahui lima penulis Arab yang memeiliki karya tentang catur dan dinilai memiliki kemahiran dalam memainkkanya, yakni:

  1. Al-‘Adli, menulis buku berjudul asy-Syathranj.
  2. Ar-Razi, ia adalah lawan main catur yang tangguh bagi al-‘Adli. Keduanya sering bermain bersama sebelum era al-Mutawakkil. Ia menulis dua karya, pertama Lathif fi asy-Syathranj, dan asy-Syathranj.
  3. As-Suli, Abu Bakr Muhammad ibn Yahya, ia dikenal piawai dalam memainkan catur sekaligus menulis dua buku dengan judul yang sama, asy-Syatranj.
  4. Al-Lajlaj, Abu al-Faraj Muhammad ibn Ubaidillah (w. 360 M/970 H). Ia dikenal sebagai grandmaster di zamannya. Dan ia menulis buku berjudul Mansubat asy-Syatranj.
  5. Al-Iqlidisi, Abu Ishaq Ibrahim ibn Muhammad Shalih. Dia diperhitungkan di antara pemain catur yang brilian. Dan ia menulis Majmu’ fi Mansubat asy-Syatranj.
Muntahab Kitab al-Shatranj karya Abu Bakr al-Suli
Menggambarkan miniatur meja catur awal abad ke-10.
Bahasa Arab itu berbunyi, "Si hitam menang dan sekarang gilirannya untuk bermain" Para ilmuwan tidak yakin apakah ini adalah permainan melalui korespondensi atau instruksi manual tentang cara bermain.
Muntahab Kitab al-Shatranj karya Abu Bakr al-Suli
Menggambarkan miniatur meja catur awal abad ke-10.
Bahasa Arab itu berbunyi, “Si hitam menang dan sekarang gilirannya untuk bermain” Para ilmuwan tidak yakin apakah ini adalah permainan melalui korespondensi atau instruksi manual tentang cara bermain.

Pada pertengahan abad ke-20, Grand Master dari Rusia Yuri Averbak memainkan langkah menakjubkan dalam salah satu pertandingan kejuaraannya, yang dimenangkannya. Banyak yang mengira ini sebagai ide baru yang cerdik, tetapi sebenarnya telah dibuat lebih dari seribu tahun yang lalu oleh Al-Suli.

Guru besar Arab banyak menulis tentang catur, hukumnya, dan strateginya, dan ini tersebar di seluruh dunia Muslim. Ada buku tentang sejarah catur, pembukaan, akhiran, dan masalah-masalah catur. Book of the Example of Warfare in the Game of Chess, yang ditulis sekitar tahun 1370, memperkenalkan permainan catur “The Blind Abbess and Her Nuns” untuk pertama kalinya.

Perjalanan Catur dari Arab ke Eropa

Ziryab, seorang musisi hebat dan pencipta tren, membawa catur ke Andalusia pada awal abad kesembilan. Kata “skakmat/checkmate” berasal dari bahasa Persia dan merupakan korupsi dari kata Shahmat, yang berarti “raja telah dikalahkan/mati

Dari Andalusia, permainan itu menyebar di antara orang-orang Kristen Spanyol dan Mozarab, dan mencapai Spanyol utara sejauh Pyrenees, melintasi pegunungan ke Prancis selatan. Catatan Eropa pertama yang menyebutkan catur berasal dari tahun 1058, ketika Countess Ermessind dari Barcelona menyumbangkan bidak catur kristal miliknya ke biara St. Giles di Nimes. Beberapa tahun kemudian, Kardinal Damiani dari Ostia menulis kepada Paus Gregory VII, mendesaknya untuk melarang penyebaran catur yang dicap sebagai “permainan orang kafir” di antara para klerus.

Catur juga dibawa melalui jalur perdagangan dari Asia Tengah ke stepa selatan Rusia awal: Persia abad ketujuh dan kedelapan. Bidak catur telah ditemukan di Samarkand dan Farghana. Pada tahun 1000, catur telah menyebar lebih jauh di rute perdagangan Viking saat Viking membawanya kembali ke Skandinavia. Maksud rute perdagangan itu bahwa pada abad ke-9, catur telah mencapai Islandia, dan hikayat Islandia yang ditulis pada tahun 1155 berbicara tentang raja Denmark, Knut Agung, yang memainkan permainan tersebut pada tahun 1027.

Sebuah ilustrasi menunjukkan seorang Muslim dan Kristen bermain catur di tenda, dari abad ke-13 Raja Alfonso X. Libros del Ajedrez.
Sejarah catur
Sebuah ilustrasi menunjukkan seorang Muslim dan Kristen bermain catur di tenda, dari abad ke-13 Raja Alfonso X. Libros del Ajedrez.

Pada abad ke-14, catur dikenal luas di Eropa, dan Raja Alfonso X, “Yang Bijaksana”, telah menghasilkan Buku Catur dan Permainan Lainnya pada abad ke-13. Selama delapan abad terakhir, catur telah berkembang semakin kuat, menghasilkan beberapa cerita lucu di sepanjang jalan, seperti robot master catur tahun 1769.

Robot Catur “Iron Muslim atau The Turk” yang Ternyata di dalamnya Ada Manusia

Wolfgang de Kempelen dari Hongaria memutuskan untuk memberikan hadiah kepada ratunya, Permaisuri Maria Theresa, yang merupakan seorang fanatik catur. Dia memberinya robot mesin catur yang disebut Iron Muslim, yang kemudian berganti nama menjadi Ottoman Turk, yang bermain catur dengan terampil, mengalahkan pemain-pemain tingkat tinggi saat itu. Orang-orang melakukan perjalanan bermil-mil untuk mengagumi robot catur yang memakai sorban itu.

Di dalam tepat di bawah papan catur yang sempit, terdapat seorang master catur yang bersembunyi. Mereka memainkan bidak catur dari bawah. Sedangkan orang-orang mengira bahwa robot tersebut benar-benar berjalan sendiri. Faktanya, 15 pecatur terpisah menghuninya selama 85 tahun secara bergantian, dalam kedok seorang Turki “robotik” Ottoman.

Sejarah catur "Robot" Kempelen’s Iron Muslim tahun 1769 memiliki seorang master catur di dalam kabinet meja, yang bermain dengan terampil dan mengalahkan pemain master lainnya pada hari itu.
“Robot” Kempelen’s Iron Muslim tahun 1769 memiliki seorang master catur di dalam kabinet meja, yang bermain dengan terampil dan mengalahkan pemain master lainnya pada hari itu.

Robot ini mampu mengalahkan para pemain catur hebat saat itu. Robot tersebut merupakan gabungan antara desain mekanik dan tipuan. Robot itu hanya berbentuk kotak menyerupai lemari. Jangan salah, di dalamnya duduk pemain catur yang bertugas menjalankan bidak-bidak catur. Robot ini bertahan selama 85 tahun.

Sejarah Catur dan Perkembangannya di Tangan Orang Muslim

Tinggalkan Komentar

Kembali ke Atas
Konten yang anda salin memiliki hak cipta.